Vol. 4, No. 1, Juli 2022
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
31 matriks.greenvest.co.id
KEBUTUHAN GAYA HIDUP GENERASI Z TERHADAP PERILAKU
NARSIS DI INSTAGRAM
Oumou Aziza Abbas Sissoko, Happy Prasetyawati
Program Studi Ilmu Komunikasi, STIKOM Interstudi
E-mail: oumouaziza@gmail.com
1
, Happy.p.hendrotomo@gmail.com
2
Diterima:
25 Juni 2022
Direvisi:
5 Juli 2022
Disetujui:
11 Juli 2022
Abstrak
Instagram adalah tempat untuk narsis dibanding media sosial lainnya
karena Instagram menyediakan fitur untuk langsung dapat
memberitahu kepada followers pengguna apa yang sedang mereka
lakukan atau yang sedang mereka kerjakan saat itu juga. Generasi z
diketahui sebagai generasi yang hidup bersama perkembangan
internet. Generasi z adalah kaum muda yang berusia 18-25 tahun dan
disebut sebagai digital natives. Mereka menginginkan perhatian
terhadap kebutuhan informasi yang berbeda untuk setiap individu.
Masa pencarian identitas diri kaum muda tak lepas dari gaya hidup
perkembangan sosial terutama dalam mengisi waktu senggang
seperti perilaku kaum muda menggunakan media sosial. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kebutuhan gaya hidup
generasi z terhadap perilaku narsis di Instagram. Teori yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teori Social Learning.
Pengambilan data diambil dengan metode non probability sampling
menggunakan teknik convenience sampling. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa generasi z memang betul memiliki kebutuhan
bahwa mereka perlu untuk narsis di Instagram dan itu adalah
kebutuhan gaya hidup mereka.
Kata kunci: Gaya Hidup, Perilaku Narsis, Generasi Z, Instagram.
Abstract
Instagram is one of the highest platforms for narcissism compared to
other platforms because Instagram provides a feature to instantly tell
users' followers what they are doing or what they are working on
right away. This study aims to know how the lifestyle needs of
generation z on narcissistic behavior on Instagram. The theory used
in this research is Social Learning theory. Generation z is known as
a generation that lives with the development of the internet and the
latest technology that often interacts and accesses information and
news through social media. Generation z are young people aged 18-
25 years and are referred to as digital natives. They want attention
to the different information needs of each individual. The period of
searching for self-identity for young people cannot be separated from
the lifestyle that develops in society, especially in terms of filling
spare time, for example what young people do to access social media.
Data was collected using convenience sampling technique by non
probability sampling method. The results showed generation z indeed
have a need to have a narcissistic behavior because it’s a
requirement in their life.
Keywords: Lifestyle, Narcissistic Behavior, Generation Z,
Instagram.
Kebutuhan Gaya Hidup Generasi Z terhadap Perilaku
Narsis di Instagram
Matriks: Jurnal
Sosial Dan Sains
Oumou Aziza Abbas Sissoko, Happy Prasetyawati 32
Pendahuluan
Internet dan media sosial kini sudah jadi bagian dari kehidupan warga global. Di era
informasi termasuk Indonesia, keberadaan internet menjadi sangat penting di masyarakat
(Dewi, Janitra, & Aristi, 2018).
Bersumber pada informasi yang diperoleh dari Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2020 pengguna Internet Indonesia mencapai 196,7
juta yaitu 73,7 persen dari populasis. Media sosial memegang peranan penting sebagai
sarana ekspresi diri atau realisasi diri oleh penggunanya (Rustandi & Muchtar, 2020).
Pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat secara tidak
langsung sudah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia (Prasaja, 2013).
Kini sangat banyak anak muda serta orang dewasa yang ingin diketahui oleh
banyak orang di sekitarnya serta di media sosial, ataupun dapat pula dikatakan dengan
perilaku narsis. Kaum muda berupaya jadi semenarik mungkin untuk memperoleh
pengakuan serta ketertarikan. Media sosial dapat membuat anak muda ketagihan. Semakin
active mereka di media sosial, mereka terlihat semakin gaul dan bersosialisasi (Sabekti,
2019).
Dalam pemakaian media sosial pengguna juga secara tidak langsung mempelajari
sopan santun, cara berkomunikasi, tempat mengekspresikan kecemasan, serta bertukar
pendapat lewat media sosial, jadi tiap orang di media sosial dapat menunjukkan
kepribadian dirinya dengan cara mempublikasikan gaya hidupnya selaras dengan
perkembangan zaman(Ratnasari, Hamdan, & Julia, 2017).
Internet juga dapat dengan gampang diakses lewat telepon pintar yang pada
dasarnya adalah media yang netral dan kita sebagai user harus bisa memilih dan memilah
sendiri tujuan kita dalam bersosial media. Pembelajaran media sosial serta cara memahami
atau menggunakannya merupakan hal yang sangat penting (Dony Pratidana S. Hum & IIP,
n.d.).
Instagram adalah social media populer yang sering digunakan pengguna untuk
dijadikan personal branding pada masa ini. Media sosial ini adalah salah satu media yang
memudahkan pengguna untuk membagikan post dalam bentuk foto maupun video.
Instagram (disebut juga IG) juga memungkinkan user mengambil gambar, merekam video,
memasang filter digital, dan bisa sharing ke berbagai macam sosial media, termasuk di
Instagram. Mengirim gambar ke dalam Instagram bisa membuat orang mendapatkan
umpan balik dari orang lain serta fasilitas belajar untuk jadi lebih baik lagi dalam perihal
fotografi. Tidak hanya itu Instagram juga adalah sebuah tempat update status secara visual
atau menceritakan kegiatan dengan gambar (Puspitasari, 2015).
Yang membuat pengguna sangat menikmati media sosial Instagram adalah karena
sekarang Instagram memiliki fitur yang bisa mengunggah foto dan video selama 15 detik
dalam satu video dengan durasi yang hanya bertahan selama 24 jam saja yaitu Instagram
Story. Ditambah dengan fitur close friend, fitur yang dapat memilih siapa saja teman yang
bisa melihat Instagram Stories user dengan alasan tertentu (Rahmiputri & Irwansyah,
2019).
Fitur Insta Story ada sejak tahun 2016. Dengan fitur Insta Story pengguna dengan
bebas bisa membagikan momen yang sedang dia lakukan tidak akan merusak foto yang
sudah di tata di Instagram. Konsep Insta Story sendiri banyak menjadi ajang untuk
seseorang men-stalk kehidupan orang lain pun menjadi tinggi(Permatasari, 2018).
Berdasarkan data yang dirilis Napoleon Cat, pengguna Instagram di Indonesia
mencapai 83.7 juta pengguna per Desember 2020. Tentunya pencapaian itu meningkat dari
bulan ke bulan. Meningkatnya pengguna Instagram dari awal tahun juga karena kebijakan
pemerintah yang mengharuskan para karyawannya untuk work from home (WFH) saat
terjadinya pandemi Corona Virus 2019 (Covid-19) dari Maret 2020 lalu. Saat ini pula
Vol. 4, No. 1, Juli 2022
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
33 matriks.greenvest.co.id
pengguna Instagram di Indonesia didominasi oleh 18-24 tahun sebanyak 36.1-38% atau 30
juta pengguna dan 25-34 tahun sebanyak 31.9%-33.7% atau 27 juta pengguna.
(“napoleoncat.com,” 2020)
Instagram adalah salah satu platform paling tinggi untuk narsis dibanding platform
lainnya karena Instagram juga menyediakan fitur untuk langsung dapat memberitahu
kepada followers pengguna apa yang sedang mereka lakukan atau yang sedang mereka
kerjakan saat itu juga. Banyak orang yang ingin mendapatkan penghargaan berlebihan
terhadap hidupnya sendiri dan merasa kurang jika ada seseorang yang lebih dalam segala
hal daripada dirinya jadi dia terdorong untuk memenuhi hasratnya dengan menggunggah
foto dirinya di sosial media (Puspitasari, 2015).
Narsisme adalah keadaan dimana seseorang kagum kepada dirinya sendiri dengan
berlebihan. Istilah narsisme diambil dari psikologi oleh Sigmund Freud yang
mempresentasikan cerita mitos Yunani yaitu Narcissus, ia dibutakan oleh suatu sosok yang
sangat rupawan di bayangan sungai lalu tenggelam karena dia tidak tahu bahwa bayangan
yang dia lihat selama itu adalah dirinya. Dirinya pun tewas di dalam kolam tersebut sampai
daerah sungai itu tiba-tiba tumbuh bunga yang disebut bunga narsis(Engkus, Hikmat, &
Saminnurahmat, 2017).
Narsisme melibatkan serangkaian karakteristik kepribadian, biasanya melibatkan
keegoisan. Narsisme mengacu pada ciri-ciri kepribadian yang ditandai dengan keagungan
dan pandangan diri yang terlalu positive, terutama dalam hal popularitas sosial dan
penampilan pribadi (Engkus et al., 2017).
Generasi z (di singkat Gen Z) diketahui sebagai generasi yang hidup bersama
perkembangan internet dan teknologi mutakhir yang sering berinteraksi dan mengakses
informasi dan berita melalui media sosial. Gen z sudah tidak membaca media massa
konvensional seperti membeli koran dan majalah karena dengan telepon genggam semua
bisa diakses(Justine Hum et al., 2017).
Kaum muda di bawah usia 25 tahun sering disebut dengan gen z yang lahir antara
tahun 1995 hingga 2010 dan disebut digital natives atau melek internet. Karakterisik gen z
adalah fasih dengan teknologi dan menghabiskan rata-rata 9 jam per hari bersama ponsel
mereka, pragmatis, waspada, mengutamakan kebersamaan, berkomunikasi dengan gambar,
realistis, dan kesadaran kolektif. Mereka menginginkan perhatian terhadap kebutuhan
informasi yang berbeda untuk setiap individu, kesempatan memberikan umpan-balik
secara langsung atas apa yang diterima, teknik kolaborasi aktif pihak-pihak yang terlibat,
cara yang modern dan menyenangkan, dan mengonsumsi informasi yang mudah diakses
dan dipahami(Indrajaya & Lukitawati, 2019).
Masa pencarian identitas diri kaum muda tak lepas dari gaya hidup perkembangan
sosial terutama dalam mengisi waktu senggang seperti perilaku kaum muda menggunakan
media sosial. Penggunaan media sosial sebagai sarana komunikasi dan hiburan antar anak
muda di kota merupakan bagian dari kegiatan seseorang. Jaman sekarang, gaya hidup
bukan hanya dari pakaian yang dipakai individu tetapi juga apa yang mereka unggah di
Instagram atau Instagram story(Juwita, Budimansyah, & Nurbayani, 2015).
Berdasarkan permasalahan diatas, maka penelitian ini akan membahas tentang
bagaimana Kebutuhan Gaya Hidup Gen Z Terhadap Perilaku Narsis Di Instagram. Maka
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Kebutuhan Gaya Hidup Generasi
Z Terhadap Perilaku Narsis Di Instagram.
Adapun manfaat penelitian ini secara akademis diharapkan memberi kontribusi
ilmiah pada kajian tentang gaya hidup dan perilaku narsis generasi z di Instagram. Kajian
tentang instagram memang sudah cukup beragam(Ramdhonah, Solikin, & Sari, 2019; Sari,
2019). Namun baru sedikit riset secara spesifik fokus pada gaya hidup generasi z terhadap
Kebutuhan Gaya Hidup Generasi Z terhadap Perilaku
Narsis di Instagram
Matriks: Jurnal
Sosial Dan Sains
Oumou Aziza Abbas Sissoko, Happy Prasetyawati 34
perilaku narsis mereka di instagram yang saat ini adalah sosial media yang hampir tidak
dimiliki oleh generasi z. Selanjutnya yaitu manfaat penelitian secara praktis diharapkan
dapat menambah wawasan bahwa perilaku narsis yang ada pada generasi z adalah gaya
hidup mereka dan semoga dapat menjadi tolok ukur dalam penelitian selanjutnya.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini populasi yang peneliti di ambil oleh adalah generasi z berusia
18-25 tahun yang aktif menggunakan Instagram di Jakarta Selatan karena generasi z adalah
generasi yang lahir bersamaan dengan berkembangnya internet maka dari itu kenapa gen-
z disebut generasi yang melek digital. Data di ambil dari pengguna Instagram di Indonesia
yang dirilis oleh napoleoncat pada Desember 2020 yang didominasi oleh 18-24 tahun
sebanyak 30 juta pengguna (Indrajaya & Lukitawati, 2019) (Purwadi, 2021). Sampel
merupakan unsur-unsur yang diambil dari populasi yang artinya bahwa sampel mewakili
populasi. Dalam penelitian ini, peneliti memakai rumus pengambilan sampel oleh Taro
Yamane atau yang diketahui dengan istilah Rumus Slovin sebagai cara menentukan jumlah
sampel (Sugiyono, 2019). Penelitian ini akan menggunakan metode non probability
sampling sebagai teknik pengambilan sampel dan metode pengambilan sampel yang
digunakan adalah convenience sampling. Convenience sampling adalah kumpulan
informasi dari anggota-anggota populasi yang dengan setuju mau memberikan informasi
tersebut. Dengan begitu, siapa saja yang setuju memberikan informasi-informasi yang
dibutuhkan dengan peneliti baik bertemu secara langsung maupun tak langsung, dapat
digunakan sebagai sampel pada penelitian ini bila responden tersebut cocok sebagai sumber
data (Sugiyono, 2019).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pengambilan sampel secara kuesioner
yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa
pernyataan terbuka kepada responden dan dijawabnya menggunakan Google Form kepada
orang-orang yang aktif menggunakan Instagram (Azahrah, Afrinaldi, & Fahrudin, 2021).
Cara yang akan dilakukan untuk menyebarkan kuesionernya adalah memilih orang yang
muncul pertama di fitur InstaStory dan mengirimkan link Google Form tersebut via Direct
message (DM) dan pengukuran variabelnya menggunakan skala likert.
Skala likert digunakan untuk mengukur perilaku / pendapat seseorang terhadap
fenomena sosial (Febtriko & Puspitasari, 2018). Jawaban untuk tiap butir instrumen yang
menggunakan skala likert memiliki gradien dari sangat positive hingga sangat negative,
dan untuk keperluan analisis kuantitatif, jawaban tersebut dapat diberi skor.
Hasil dan Pembahasan
A. Karakteristik Responden
Responden pada penelitian ini adalah pengguna yang aktif menggunakan sosial
media Instagram(Indika & Jovita, 2017). Hal ini menunjukan seperti apakah demografi
responden jika dilihat dari jenis kelamin, usia, dan pekerjaan. Dengan mengetahui
demografi responden maka akan dapat mengetahui karakteristik responden dalam hal ini
kebutuhan gaya hidup dan perilaku narsis di Instagram(Rahkman Ardi, 2021).
Jumlah kuesioner yang disebar 100 eksemplar sesuai dengan jumlah responden
yang telah diuraikan sebelumnya. Dilihat dari karakteristik jenis kelamin dengan kategori
laki-laki presentasenya sebesar 20% dan kategori perempuan presentasenya sebesar 80%.
Jika dilihat dari karakteristik usia, responden yang paling banyak berada di usia
20-21 tahun dengan presentase sebanyak 39%.
Selanjutnya berdasarkan karakteristik pekerjaan, responden yang paling banyak
adalah mahasiswa dengan presentase sebanyak 67%.
Vol. 4, No. 1, Juli 2022
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
35 matriks.greenvest.co.id
B. Hasil Uji Analisis Data
1. Analisa Hasil Uji Validitas
Tabel 1
1.1Variabel Gaya Hidup (X)
Tabel 1 Variabel Gaya Hidup (X)
Kaiser-Meyer-OIkin Measure of SampIing Adequacy.
BartIett's Test of Sphericity
Approx. Chi-Square
df
Sig.
Hasil pengujian KMO dan Barlett menunjukkan nilai Kaiser-Meyer-Olkin
Measure of Sampling Adequacy adalah 0,767 yang berarti mengingat angka tersebut sudah
diatas 0,5 berarti terdapat korelasi yang cukup signifikan antar indikator. Nilai Bartlett’s
Test of Sphericity sebesar 1245,631 dengan nilai signifikannya sebesar 0,000 sehingga data
dinyatakan valid.
1.2 Variabel Perilaku (Y)
Hasil pengujian KMO dan Barlett menunjukkan nilai Kaiser-Meyer-Olkin
Measure of Sampling Adequacy adalah 0,768 yang berarti mengingat angka tersebut sudah
diatas 0,5 berarti terdapat korelasi yang cukup signifikan antar indikator. Nilai Bartlett’s
Test of Sphericity sebesar 522,699 dengan nilai signifikannya sebesar 0,000 sehingga data
dinyatakan valid.
2. Analisa Hasil Uji Reliabilitas
2.1. Dimensi Attention
Tabel 3
Cronbach's Alpha
N
.800
10
Data diatas menunjukan angka Cronbach’s Alpha diatas 0.6 yaitu 0.800 yang
tertera dalam Tabel Reability Statistic dengan hasil perhitungan menggunakan SPSS
sehingga dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini, dimensi Attention bisa digunakan
sebagai alat pengumpulan data.
2.2. Dimensi Retention
Tabel 4
Cronbach's Alpha
N
.727
10
Data diatas menunjukan angka Cronbach’s Alpha diatas 0.6 yaitu 0.727 yang
tertera dalam Tabel Reability Statistic dengan hasil perhitungan menggunakan SPSS
sehingga dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini, dimensi Retention bisa digunakan
sebagai alat pengumpulan data.
2.3. Dimensi Reproduction
Tabel 2 Variabel Perilaku (Y)
Kaiser-Meyer-OIkin Measure of Sampling Adequacy.
.768
Bartlett's Test of Sphericity
Approx. Chi-Square
522.699
df
136
Sig.
.000
Kebutuhan Gaya Hidup Generasi Z terhadap Perilaku
Narsis di Instagram
Matriks: Jurnal
Sosial Dan Sains
Oumou Aziza Abbas Sissoko, Happy Prasetyawati 36
Tabel 5
Cronbach's Alpha
N
.695
9
Data diatas menunjukan angka Cronbach’s Alpha diatas 0.6 yaitu 0.695 yang
tertera dalam Tabel Reability Statistic dengan hasil perhitungan menggunakan SPSS
sehingga dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini, dimensi Reproduction bisa
digunakan sebagai alat pengumpulan data.
2.4. Dimensi Motivation
Tabel 6
Cronbach's Alpha
N
.770
9
Data diatas menunjukan angka Cronbach’s Alpha diatas 0.6 yaitu 0.770 yang
tertera dalam Tabel Reability Statistic dengan hasil perhitungan menggunakan SPSS
sehingga dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini, dimensi Motivation bisa digunakan
sebagai alat pengumpulan data.
2.5. Dimensi Self Efficacy
Tabel 7
Cronbach's Alpha
N
.768
9
Data diatas menunjukan angka Cronbach’s Alpha diatas 0.6 yaitu 0.768 yang
tertera dalam Tabel Reability Statistic dengan hasil perhitungan menggunakan SPSS
sehingga dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini, dimensi Self Efficacy bisa digunakan
sebagai alat pengumpulan data.
Analisa Hasil Uji Univariat
3.1 Garis Kontinum Gaya Hidup (X)
Gambar 3
Dari garis kontinum variabel Gaya Hidup (X) dalam Dimensi Attention bahwa
mean paling tinggi adalah 316 yang berada di indikator Saya menggunakan Instagram
untuk mengekspresikan diri saya. Mean paling rendah adalah 225 yang berada di indikator
Saya menganggap Instagram sebagai kebutuhan.
Dari garis kontinum variabel Gaya Hidup (X) dalam Dimensi Retention bahwa
mean paling tinggi adalah 304 yang berada di indikator Saya membuka aplikasi Instagram
setiap hari, dengan. Mean paling rendah adalah 257 yang berada di indikator Saya
menyusun profil saya di Instagram sebaik mungkin.
0
100
200
300
400
1 3 5 7 9 11131517192123252729
Gaya Hidup (X)
Vol. 4, No. 1, Juli 2022
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
37 matriks.greenvest.co.id
Dari garis kontinum variabel Gaya Hidup (X) dalam Dimensi Reproduction bahwa
mean paling tinggi adalah 286 yang berada di indikator Saya melakukan like di postingan
orang yang terkenal. Mean paling rendah adalah 236 yang berada di indikator Saya
membutuhkan pendapat orang lain saat memposting di instargram.
Dari garis kontinum variabel Gaya Hidup (X) dalam Dimensi Motivation bahwa
mean paling tinggi adalah 325 yang berada di indikator Saya sangat mengapresiasi
followers yang saya punya. Mean paling rendah adalah 284 yang berada di indikator Saya
selalu memposting objek yang menarik di InstaStory.Dari garis kontinum variabel Gaya
Hidup (X) dalam Dimensi Self Efficacy bahwa mean paling tinggi adalah 288 yang berada
di indikator Saya mengontrol waktu saya untuk bersosial media terutama Instagram. Mean
paling rendah adalah 197 yang berada di indikator Instagram sangat mempengaruhi cara
saya berperilaku.
3.2 Garis Kontinum Perilaku (Y)
Gambar 4
Dari garis kontinum variabel Perilaku (Y) dalam Dimensi Attention bahwa mean
paling tinggi adalah 276 yang berada di indikator Saya menggunakan Instagram karena
wilayah dan lingkungan saya melek akan internet. Mean paling rendah adalah 188 yang
berada di indikator Saya selalu memposting kegiatan saya di Instagram agar orang lain tahu
kegiatan saya.
Dari garis kontinum variabel Perilaku (Y) dalam Dimensi Retention bahwa mean
paling tinggi adalah 334 yang berada di indikator Instagram adalah wadah untuk
menyalurkan momen kenangan saya yang akan terarsipkan. Mean paling rendah adalah
212 yang berada di indikator Saya merasa sensitif terhadap kritikan di Instagram.
Dari garis kontinum variabel Perilaku (Y) dalam Dimensi Reproduction bahwa
mean paling tinggi adalah 365 yang berada di indikator Tidak semua kegiatan yang saya
posting harus mendapat pujian. Mean paling rendah adalah 247 yang berada di indikator
Saya suka berfoto selfie karena mayoritas orang kini sering melakukannya.
Dari garis kontinum variabel Perilaku (Y) dalam Dimensi Motivation bahwa mean
paling tinggi adalah 300 yang berada di indikator Saya menyukai postingan teman karena
terbiasa saling likes satu sama lain. Mean paling rendah adalah 237 yang berada di indikator
Saya mempertimbangkan jumlah followers harus lebih banyak daripada following(Solikin,
2018).
Dari garis kontinum variabel Perilaku (Y) dalam Dimensi Self Efficacy bahwa
mean paling tinggi adalah 354 yang berada di indikator Saya akan tetap menggunakan
Instagram walaupun followers saya tidak banyak. Mean paling rendah adalah 214 yang
berada di indikator Saya merasa lebih percaya diri ketika teman saya banyak di Instagram
(Taqwa, 2018).
0
100
200
300
400
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19
Perilaku
Kebutuhan Gaya Hidup Generasi Z terhadap Perilaku
Narsis di Instagram
Matriks: Jurnal
Sosial Dan Sains
Oumou Aziza Abbas Sissoko, Happy Prasetyawati 38
Hasil Uji Bivariat
Pengaruh variabel Gaya Hidup (X) terhadap Perilaku (Y)
Tabel 8
ModeliSummary
Model
R
R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1
.746
a
.556
.551
6.315
Berdasarkan tabel di atas, nilai R (koefisien korelasi) antara gaya hidup (X) dan
perilaku (Y) adalah 0,746 yang berarti terdapat korelasi yang kuat sebesar 74,6%. Nilai R2
(koefisien determinasi) gaya hidup (X) terhadap perilaku (Y) sebesar 0,556 atau 55,6%
yang berarti gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap perilaku karena persentase R
squared lebih besar dari 50%. Sementara sisanya 0,444 atau 44,4% adalah faktor yang
memengaruhi tapi tidak diteliti.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulannya adalah memang benar terbukti
jika ada hubungan yang kuat antara gaya hidup dengan perilaku narsis dan berpengaruh
cukup signifikan. Generasi z memang betul memiliki kebutuhan bahwa mereka perlu untuk
narsis di Instagram dan itu adalah kebutuhan gaya hidup mereka.
Instagram adalah tempat generasi z untuk mengeskpresikan diri mereka karena
sudah banyak orang di sekitar yang melek internet tetapi mereka tetap mengontrol waktu
untuk bersosial media, mereka tetap sering membuka Instagram setiap hari untuk
menyalurkan momen kenangan agar terarsipkan dengan rapih di Instagram. Tidak semua
kegiatan yang mereka unggah di sosial media harus diberikan pujian karena mereka
lakukan itu untuk diri mereka sendiri.
Generasi z juga senang untuk memberikan like kepada postingan orang yang
muncul dan mereka juga sangat mengapresiasi followers yang mereka miliki dan akan terus
menggunakan Instagram walaupun followers mereka tidak banyak.
Bibliography
Azahrah, Fauzia Ramadhanti, Afrinaldi, Rolly, & Fahrudin, Fahrudin. (2021).
Keterlaksanaan Pembelajaran Bola Voli Secara Daring Pada SMA Kelas X Se-
Kecamatan Majalaya. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 7(4), 531538.
Chairunisa, DA. (2018). Landasan teori gaya hidup. Journal of Chemical
Information and Modeling, 110(9), 16891699.
Dewi, Retasari, Janitra, Preciosa Alnashava, & Aristi, Nindi. (2018). Pemanfaatan
Internet Sebagai Sumber Informasi Kesehatan Bagi Masyarakat. Media Karya
Kesehatan, 1(2).
Engkus, Engkus, Hikmat, Hikmat, & Saminnurahmat, Karso. (2017). Perilaku
Narsis pada Media Sosial di Kalangan Remaja dan Upaya Penanggulangannya.
Jurnal Penelitian Komunikasi, 20(2), 121134.
https://doi.org/10.20422/jpk.v20i2.220
Febtriko, Anip, & Puspitasari, Ira. (2018). Mengukur Kreatifitas Dan Kualitas
Pemograman Pada Siswa Smk Kota Pekanbaru Jurusan Teknik Komputer
Jaringan Dengan Simulasi Robot. Rabit: Jurnal Teknologi Dan Sistem
Informasi Univrab, 3(1), 19.
Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Vol. 4, No. 1, Juli 2022
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
39 matriks.greenvest.co.id
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hum, Dony Pratidana S., & IIP, Bima Agus Setyawan S. (n.d.). Hak cipta dan
penggunaan kembali.
Hum, Justine, Jou, Janice H., Green, Pamela K., Berry, Kristin, Lundblad, James,
Hettinger, Barbara D., Chang, Michael, & Ioannou, George N. (2017).
Improvement in glycemic control of type 2 diabetes after successful treatment
of hepatitis C virus. Diabetes Care, 40(9), 11731180.
Indika, Deru R., & Jovita, Cindy. (2017). Media sosial instagram sebagai sarana
promosi untuk meningkatkan minat beli konsumen. Jurnal Bisnis Terapan,
1(01), 2532.
Indrajaya, Stefiani Emasurya, & Lukitawati, Lukki. (2019). Tingkat Kepercayaan
Generasi Z terhadap Berita Infografis dan Berita Ringkas di Media Sosial.
Jurnal Komunikasi, 11(2), 169. https://doi.org/10.24912/jk.v11i2.5045
Juwita, Elsa Puji, Budimansyah, Dasim, & Nurbayani, Siti. (2015). Peran media
sosial terhadap gaya hidup siswa. SOSIETAS, 5(1).
Pca, Analysis, & Metode, D. A. N. (2017). Pemilihan Model Regresi Linier
Berganda Terbaik Pada Kasus Multikolinieritas Berdasarkan Metode Principal
Component Analysis (Pca) Dan Metode Stepwise. Unnes Journal of
Mathematics, 6(1), 7081. https://doi.org/10.15294/ujm.v6i1.11719
Permatasari, Diana. (2018). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan
(Studi pada Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang Terdaftr di
Bursa Efek Indonesisa Tahun 2013-2016). Universitas Brawijaya.
Prasaja, Mukti Hadi. (2013). Pengaruh Investasi Asing, Jumlah Penduduk Dan
Inflasi Terhadap Pengangguran Terdidik Di Jawa Tengah Periode Tahun 1980-
2011. Economics Development Analysis Journal, 2(3).
Purwadi, Jun. (2021). PENGARUH PENDIDIKAN DALAM KELUARGA DAN
POLA KOMUNIKASI TERHADAP MENCEGAH KENAKALAN SISWA SMA
NEGERI 3 LUBUKLINGGAU. IAIN BENGKULU.
Puspitasari, Diah. (2015). Rancang bangun sistem informasi koperasi simpan
pinjam karyawan berbasis web. Jurnal Pilar Nusa Mandiri, 11(2), 186196.
Rahkman Ardi, Ardi. (2021). Hubungan antara kebutuhan rekognisi dengan
perilaku narsisme pada pengguna Instagram. Ecopsy, 8(1), 3440.
Rahmiputri, A. A., & Irwansyah, I. (2019). Paparan Selektif Penggunaan Fitur
Senyap dan Teman Dekat pada Twitter dan Instagram. Jurnal Studi Komunikasi
(Indonesian Journal of Communications Studies), 3(3), 460.
Ramdhonah, Zahra, Solikin, Ikin, & Sari, Maya. (2019). Pengaruh Struktur Modal,
Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan, Dan Profitabilitas Terhadap
Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Sektor Pertambangan Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2017). Jurnal Riset Akuntansi
Dan Keuangan, 7(1), 6782.
Ratnasari, Anne, Hamdan, Yusuf, & Julia, Aan. (2017). Promosi Penjualan Produk
Melalui Instagram. Inter Komunika, 2(2), 101107.
Rustandi, Ridwan, & Muchtar, Khoiruddin. (2020). Analisis Framing Kontra
Narasi Terorisme dan Radikalisme di Media Sosial (Studi Kasus pada Akun@
dutadamaijabar). KOMUNIKATIF: Jurnal Ilmiah Komunikasi, 9(2), 134153.
Kebutuhan Gaya Hidup Generasi Z terhadap Perilaku
Narsis di Instagram
Matriks: Jurnal
Sosial Dan Sains
Oumou Aziza Abbas Sissoko, Happy Prasetyawati 40
Sabekti, Ria. (2019). Hubungan intensitas penggunaan media sosial (jejaring
sosial) dengan kecenderungan narsisme dan aktualisasi diri remaja akhir.
Universitas Airlangga.
Sari, Sapta. (2019). Literasi media pada generasi milenial di era digital.
Professional: Jurnal Komunikasi Dan Administrasi Publik, 6(2), 3042.
Solikin, Arga Irham. (2018). Pengaruh kepemimpinan dan human relation
terhadap kinerja karyawan melalui motivasi: Studi pada karyawan PT. Suling
Mas produsen kacang shanghai dan mie cap" Macan" di Kecamatan Ngunut
Kabupaten Tulungagung. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: PT
Alfabeta.
Sujarweni, V. Wiratna. (2020). Metodologi Penelitian Lengkap, Praktis dan Mudah
Dipahami. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Taqwa, Mayvita Innani. (2018). Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram
Stories Dengan Kesehatan Mental. University of Muhammadiyah Malang.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-
ShareAlike 4.0 International License.