|
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA DI KELAS XI SMA NEGERI 11 MEDAN Martha Lestari Hutagalung, Ani Minarni Universitas Negeri Medan Email: [email protected], [email protected] |
|
|
Abstrak
Dengan tujuan
penelitian yaitu meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas XI SMA Negeri 11 Medan dengan
penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dan mengetahui bagaimana peningkatan berpikir kritis matematis siswa setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan jenis penelitian yaitu penelitian tindakan kelas, adalah siswa kelas XI SMA Negeri 11
Medan merupakan subjek penelitian ini. Kemudian Objek penelitiannya adalah kemampuan berpikir kritis matematis siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi program linear. Berdasarkan
hasil analisis data kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada siklus I, diperoleh bahwa hanya 15 siswa (42,86%) yang telah memenuhi kriteria yang ditentukan yaitu siswa memperoleh
nilai ≥ 75. Kemudian
pada hasil tes kemampuan berpikir kritis matematis II diperoleh ada 31 siswa (88,57%) siswa sudah mencapai standar yaitu memperoleh nilai ≥ 75.
Nilai rata-rata pada tes kemampuan
berpikir kritis matematis siklus I yaitu 68.27 meningkat menjadi 85.77 pada siklus II. Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa mengalami peningkatan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas XI SMA
Negeri 1 Medan. Kata
kunci: STAD, Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Abstract
With
the aim of the study, namely to improve the mathematical critical thinking
skills of class XI students of SMA Negeri 11 Medan by applying the STAD type
of cooperative learning model and to find out how to improve the mathematical
critical thinking after applying the STAD type of cooperative learning model
with the type of research namely classroom action research, the students of
class XI SMA Negeri 11 Medan are the research subjects this. Then the object
of the research is students' mathematical critical thinking skills by
applying the STAD type cooperative learning model to the linear programming
material. Based on the results of data analysis of students' mathematical
critical thinking skills in the first cycle, it was found that only 15
students (42,86%) had met the specified criteria, namely students obtained a
score of 75. Then on the results of the second mathematical critical thinking
skills ability test, there were 31 students (88,57%) students have reached
the standard, which is getting a score of 75. The average score in the first
cycle of critical thinking skills test is 68,27, increasing to 85.77 in the second
cycle. Based on the description above, it is concluded that students'
mathematical critical thinking has increased by applying the STAD cooperative
learning model in class XI SMA Negeri 11 Medan. Keywords: STAD, Mathematical
Critical Thinking |
|
Pendahuluan
Pendidikan merupakan upaya untuk mengubah
sikap dan tata laku seseorang atau kelompok melalui pengajaran dan pelatihan. Rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang pendidikan merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh Indonesia dari tahun ke tahun
(Siahaan, 2021). Berbagai cara telah
dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu pengadaan buku dan media pembelajaran, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana sekolah, peningkatan mutu manajemen sekolah serta peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan. Namun demikian, mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Dibuktikan berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assesment)
tahun 2018 menetapkan
Indonesia berada pada peringkat
ke-72 dari daftar 77 negara (Novianti, 2021).
�� Salah satu mata pelajaran
yang wajib diajarkan pada setiap jenjang pendidikan adalah matematika. Mata pelajaran matematika menuntut siswanya berpikir logis, kritis, dan kreatif untuk dapat
memahami dan menyelesaikan permasalahan matematika sehari-hari. Dalam pembelajaran matematika, selain kemampuan mencapai tujuan yang ada dalam setiap
materi matematika, siswa juga perlu dibekali dengan kemampuan-kemampuan tertentu dalam menemukan suatu pemecahan masalah dengan mengembangkan dan mengevaluasi argumen. Salah satu kemampuan yang harus ditingkatkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis (Sagala, 2019).
�� Namun pada kenyataannya matematika masih menjadi mata pelajaran
yang sulit dipahami oleh siswa. Hal ini disebabkan oleh karakteristik matematika yang bersifat abstrak dan sistematis serta memerlukan kemampuan berpikir yang kritis untuk memahami
setiap konsep-konsep matematika. Sejalan dengan pendapat (D. H. Harahap & Syarifah, 2017) menyatakan bahwa matematika telah diberi label negatif di kalangan siswa, yaitu sebagai pelajaran
yang sulit, menakutkan dan membosankan yang menimbulkan persepsi negatif dalam belajar. Persepsi negatif tersebut memunculkan rasa tidak suka pada pelajaran. Jadi, meskipun kecerdasan seseorang pada level
normal, namun memiliki sifat negatif, kecemasan tinggi, dan tidak yakin dengan
kemampuannya, maka prestasi matematikanya menjadi rendah. Hal tersebut sejalan dengan hasil penilaian
matematika oleh PISA pada tahun
2018. Rata-rata nilai matematika
Indonesia yaitu 379 dari standar rata-rata yang ditetapkan
oleh PISA yaitu 489. Nilai tersebut
lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata matematika
Indonesia pada tahun 2015 (Wang et al., 2019). Survei American Management Association (AMA) pada tahun 2012 yang menyebutkan bahwa keterampilan berpikir kritis digolongkan sebagai keterampilan paling penting yang harus ditumbuhkan. Melalui berpikir kritis, siswa dapat
memeriksa beragam sudut pandang tentang
masalah sains dan teknologi pada kehidupan sehari-hari, dan mengevaluasi isu-isu dari perspektif
sosial dan lingkungan (Saragih, 2013).
�� Namun berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di kelas XI SMA Negeri
11 Medan, pembelajaran yang dilakukan
masih berpusat pada guru sehingga kemampuan berpikir kritis siswa sangat sulit untuk dikembangkan. Dalam pembelajaran tersebut, guru terlebih dahulu memberikan contoh soal kemudian
memberikan tes/latihan kepada siswa sehingga siswa akan kesulitan
jika diberikan soal dengan bentuk
yang berbeda. Pendekatan pembelajaran tersebut kurang menekankan pada penerapan matematika di dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa tidak terbiasa
dalam menyelesaikan masalahnya secara individual. Siswa cenderung meniru cara guru dalam menyelesaikan soal-soal yang telah diperagakan di depan kelas. Diberikan tes diagnostik awal kepada siswa
untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Soal yang diberikan adalah soal materi
persamaan linear dua variabel
yang merupakan materi prasyarat dari materi program linear. Hasil tes diagnostik awal kemampuan berpikir kritis matematis siswa tersebut menunjukkan bahwa tingkat kemampuan berpikir siswa masih tergolong rendah. Dilihat dari hasil tes
diagnostik awal tersebut diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 33,93. Dari 35 siswa yang diteliti, 6 siswa (17,14%) termasuk kategori rendah dan 29 siswa (82,86%) termasuk kategori sangat rendah yang dapat dikatakan belum berhasil berpikir kritis (Butar-Butar, 2018).�
�� Jelas bahwa kemampuan
berpikir kritis sangat penting untuk ditingkatkan.
Sehingga perlu adanya tindak lanjut
dalam proses pembelajaran
di kelas bagi guru agar memiliki keahlian dan keterampilan membelajarkan siswa dalam mengajarkan
materi pembelajaran di mana
hal ini bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat berkembang,
maka diperlukan strategi atau model pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) (Amalia et al., 2017).
�� Menurut (Slavin, 2016), pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana secara kolaborasi siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Konsep heterogen di sini adalah struktur
kelompok yang memiliki perbedaan latar belakang kemampuan akademik, perbedaan jenis kelamin, perbedaan ras dan bahkan mungkin etnisitas. Hal ini diterapkan untuk melatih siswa menerima
perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya
(Siswadi, 2019). Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran secara berkelompok yang masing-masing kelompoknya
beranggotakan 4-5 orang dengan
struktur kelompok heterogen. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD bukan hanya belajaran
kelompok pada umumnya, tapi mencakup lima tahap pembelajaran, yaitu presentasi kelas, pembagian tim, kegiatan belajar
dalam tim, kuis dan skor peningkatan
individual dan rekognisi tim
(Safrida, 2014).
�� Alasan peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah proses pembelajaran STAD
yang sederhana namun bermakna, yaitu guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam kelompok
atau tim mereka untuk memastikan
bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi tersebut. Setelah itu seluruh
siswa diberikan tes tentang materi
tersebut, dan pada saat tes mereka tidak
dapat saling membantu. Poin setiap anggota tim selanjutnya dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok. Tim yang mencapai kriteria tertentu diberikan sertifikat atau penghargaan yang lain. Selain itu, siswa
diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pengamatan dan ide mereka dalam memahami soal atau permasalahan
(Marsito, 2022). Pembelajaran ini mendorong terjadinya tutor sebaya antar siswa
dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Siswa yang berprestasi lebih tinggi mengajari
siswa yang berprestasi lebih rendah, sehingga
memberikan bantuan khusus kepada teman
sebaya dengan bahasa yang mereka pahami dan dapat menambah kemampuan berpikir kritis matematisnya. Namun berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru bidang studi matematika yang mengajar siswa tersebut, diperoleh informasi bahwa siswa kurang aktif
dalam pembelajaran di mana cenderung tidak ingin bertanya jika kesulitan dalam menyelesaikan soal atau memahami
materi serta tidak mampu memberikan
pendapat atas materi yang disampaikan. Guru belum pernah menggunakan
model pembelajaran kooperatif
tipe STAD sebagai upaya untuk meningkatkan
kemampuan berpikir kritis matematis siswa dalam pembelajaran
(Prayoga et al., 2021).
�� Sehubungan dengan hal itu, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe STAD untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa di kelas XI SMA Negeri 11 Medan.
Metode Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di SMA
Negeri 11 Medan yang berlokasi di Jalan Pertiwi Nomor 93, Kota Medan, Provinsi
Sumatera Utara, kode pos: 20224. Penelitian
ini dilaksanakan pada
semester ganjil pada tahun ajaran 2022/2023.
Penelitian
berupa penelitian tindakan kelas (PTK) yang akan dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Tujuan dari istilah
PTK/ Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) adalah untuk mengevaluasi siswa kelas XI IPA-1 SMA Negeri 11 Medan yang berjumlah
35 orang T.A. 2022/2023 untuk
mengetahui apakah kemampuan berpikir matematis mereka sudah meningkat atau belum.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA Negeri
11 Medan. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA-1
SMA Negeri 11 Medan terhadap 35 siswa.
Yang menjadi fokus permasalahan pada penelitian ini sesuai dengan
latar belakang yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya, yaitu kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas XI IPA-1 SMA Negeri 11 Medan yang masih
sangat rendah. Dari analisis
kriteria kemampuan berpikir kritis matematis awal siswa diperoleh deskripsi berdasarkan kriteria kemampuan berpikir kritis matematis siswa sebagai berikut.
Tabel 1. Deskripsi Kriteria Kemampuan
Berpikir Kritis Matematis Awal Siswa
|
No. |
Nilai |
Nilai Kualitatif |
Banyak Siswa |
Persentase |
|
1 |
81,25 < x ≤ 100 |
Sangat tinggi |
0 |
0 % |
|
2 |
71,5 < x ≤ 81,25 |
Tinggi |
0 |
0 % |
|
3 |
62,5 < x ≤ 71,5 |
Sedang |
0 |
0 % |
|
4 |
43,75 < x ≤ 62,5 |
Rendah |
6 |
17,14 % |
|
5 |
0 < x ≤ 43,75 |
Sangat rendah |
29 |
82,86% |
|
Jumlah |
35 |
100 % |
||
Dari hasil yang diperoleh tersebut, dapat dikatakan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPA-1 SMA Negeri
11 Medan masih tergolong
sangat rendah dan belum memenuhi kemampuan berpikir kritis matematis siswa minimal pada kriteria sedang (nilai ≥ 75) atau ketuntasan klasikal ≥ 85%. Berdasarkan uraian di atas, peneliti memiliki pemikiran bahwa perlu diupayakan
penggunaan metode lain, sehingga dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Model tersebut adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
1.
SIKLUS I
Setelah dilaksanakan
2 kali pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dilakukan tes kemampuan
berpikir kritis matematis I. Adapun hasil yang diperoleh dari siklus I adalah sebagai berikut
Tabel 2. Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Pada Siklus I
|
No. |
Jangkauan |
Nilai Kualitatif |
Jumlah siswa |
Persentase |
|
1 |
81,25 < x ≤ 100 |
Sangat tinggi |
6 |
17,14 % |
|
2 |
71,5 < x ≤ 81,25 |
Tinggi |
11 |
31,43 % |
|
3 |
62,5 < x ≤ 71,5 |
Sedang |
7 |
20 % |
|
4 |
43,75 < x ≤ 62,5 |
Rendah |
8 |
22,86 % |
|
5 |
0 < x ≤ 43,75 |
Sangat rendah |
3 |
8,57 % |
|
Jumlah |
35 |
100 % |
||
Berdasarkan pengujian
data yang diperoleh dari 35
siswa yang mengikuti tes kemampuan berpikir
kritis matematis pada siklus I kelas XI IPA-1, 24 siswa memenuhi kriteria. Secara spesifik, para siswa tersebut saat ini
memiliki kemampuan berpikir kritis yang sangat tinggi, tinggi dan sedang. Namun, sebanyak 11 siswa belum memenuhi standar. Dengan 68.27 menjadi nilai rata-rata untuk semua siswa.
Hasil ini tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan, yaitu 85 persen dari semua
siswa akan menerima skor 75 atau lebih tinggi.
Hal ini dikarenakan baik peneliti dalam
kapasitas guru maupun siswa sebagai mata
pelajaran belum melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Meskipun memliki kekurangan yang diperoleh selama pembelajaran siklus I, terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis dari hasil tes awal
ke tes kemampuan
berpikir kritis matematis I. Pada tes awal, dari tidak
ada siswa dengan kemampuan berpikir kritis matematis pada kriteria sangat tinggi meningkat menjadi 6 siswa pada siklus I. Pada kriteria tinggi, dari tidak
ada siswa dengan kemampuan berpikir kritis matematis pada kriteria tinggi kemudian meningkat menjadi 11 siswa pada siklus I.� Pada kriteria sedang, dari tidak
ada siswa dengan kemampuan berpikir kritis matematis pada kriteria sedang kemudian meningkat menjadi 7 siswa pada siklus I.
Selain itu, skor rata-rata siswa pada setiap aspek pun meningkat. Dalam aspek menginterpretasi, ada peningkatan skor rata-rata menjadi 92,62 yang
termasuk kriteria sangat tinggi dibandingkan pada skor rata-rata tes awal yaitu 37,14 termasuk kriteria sangat rendah. Dalam aspek
menganalisis, ada peningkatan skor rata-rata menjadi 56,27 yang termasuk kriteria rendah dibandingkan pada skor rata-rata tes awal yaitu
10,71 termasuk kriteria sangat
rendah. Pada aspek mengevaluasi, ada peningkatan skor rata-rata menjadi 67,14 yang termasuk kriteria sedang dibandingkan pada skor rata-rata tes awal yaitu
60,71 termasuk kriteria rendah. Pada aspek menginferensi, ada peningkatan skor rata-rata menjadi 56,67 yang termasuk kriteria rendah dibandingkan pada skor rata-rata tes awal yaitu
27,14 termasuk kriteria
sangat rendah.
Dari hasil
analisis data tes kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada siklus I telah meningkat namun belum mencapai
tujuan penelitian dengan ketuntasan secara klasikal, yaitu 85 % dari jumlah siswa memiliki
nilai ≥ 75. Maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran hingga tercapai tujuan penelitian. Kekurangan-kekurangan yang ada selama pembelajaran siklus I akan diperbaiki
dengan perbaikan tindakan pada siklus II.
2.
SIKLUS II
Karena hasil dari siklus I belum
mencapai tujuan penelitian dan masih terdapat aspek harus diperbaiki dalam kegiatan pembelajaran. Maka dilakukan siklus II guna memperbaiki serta mengatasi permasalahan yang terjadi pada siklus I. Dengan harapan pada pembelajaran siklus II kemampuan berpikir kritis siswa dapat lebih
meningkat dan mencapai
target yang sudah ditentukan.
Setelah dilakukan dua pertemuan pembelajaran dengan menerapkan model STAD, maka diberikan tes kemampuan berpikir
kritis matematis kepada siswa untuk
meninjau kembali peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa setelah diterapkan model pembelajaran tipe STAD. Adapun hasil yang diperoleh dari siklus II adalah sebagai berikut
Tabel 3. Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Pada Siklus II
|
No. |
Jangkauan |
Nilai Kualitatif |
Jumlah siswa |
Persentase |
|
1 |
81,25 < x ≤ 100 |
Sangat tinggi |
24 |
68,57 % |
|
2 |
71,5 < x ≤ 81,25 |
Tinggi |
8 |
22,86 % |
|
3 |
62,5 < x ≤ 71,5 |
Sedang |
2 |
5,71 % |
|
4 |
43,75 < x ≤ 62,5 |
Rendah |
2 |
2,86 % |
|
5 |
0 < x ≤ 43,75 |
Sangat rendah |
0 |
0 % |
|
Jumlah |
35 |
100 % |
||
Dari pemeriksaan hasil observasi pada siklus II, diketahui bahwa terjadi peningkatan
karena siswa lebih kondusif saat berdiskusi, tidak lagi berbicara
dengan teman sekelasnya, dan memiliki keberanian untuk bertanya, menanggapi, dan menyampaikan pendapatnya. Dari pengujian data tes kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada siklus II kelas XI IPA-1 yang berjumlah 35 siswa dapat diketahui
bahwa kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan. Peningkatan ini merupakan hasil
dari penggunaan model pembelajaran STAD yang dirancang
pada siklus II berdasarkan
data siklus I. Berdasarkan analisis hasil tes siswa, dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Setelah pemberian
tindakan model pembelajaran
STAD, terjadi peningkatan hasil belajar siswa
dimana terdapat 24 dari 35 siswa atau
68,57% siswa yang berada
pada kategori sangat tinggi,
8 dari 35 siswa atau 22,86% siswa yang berada pada kategori tinggi, 2 dari 35 siswa atau 5,71% siswa yang berada pada kategori sedang dan hanya 2 dari 35 siswa yang berada pada kategori rendah dan sangat rendah.
2. Jika dilihat
dari hasil belajar siswa, juga terjadi peningkatan. Hal ini dapat dilihat
dari :
Pada siklus
II menjadi 34 siswa pada kategori sangat tinggi dan hanya 1 siswa yang berada pada kategori sangat rendah. Pada siklus I, dari 33 siswa yang tuntas meningkat menjadi 34 siswa pada siklus II.
Pada siklus
II menjadi 26 siswa pada kategori sangat tinggi, 4 siswa pada kategori tinggi, 1 siswa pada kategori sedang dan 4 siswa pada kategori rendah. Pada siklus I, dari 9 siswa yang tuntas meningkat menjadi 30 siswa pada siklus II.
Pada siklus
II pada kategori sangat tinggi
menjadi 25 siswa, pada kategori tinggi sebanyak 5 siswa, pada kategori sedang sebanyak 4 siswa dan pada kategori rendah sebanyak 1 siswa. Pada siklus I yang tuntas 17 siswa meningkat pada siklus II menjadi 30 siswa.
Pada siklus
II pada kategori sangat tinggi
menjadi 9 siswa, pada kategori tinggi sebanyak 1 siswa, pada kategori sedang sebanyak 14 siswa, pada kategori rendah sebanyak 2 siswa dan pada kategori sangat rendah sebanyak 2 siswa. Pada siklus I yang tuntas 14 siswa meningkat pada siklus II menjadi 22 siswa.
�Karena penanda keberhasilan penelitian ini telah terpenuhi,
tujuan penelitian telah terpenuhi, dan pembelajaran tidak akan diperpanjang ke siklus berikutnya.
Berdasarkan hasil observasi dan tes kemampuan berpikir kritis matematis, dapat dilihat bahwa
model pembelajaran STAD dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas XI IPA-1 SMA Negeri 11 Medan yang mempelajari
materi program linear.
Siswa menunjukkan
tingkat keterlibatan dan minat yang lebih tinggi dalam materi
pelajaran program linear ketika
model pembelajaran STAD digunakan
dalam pendidikan mereka. Pembelajaran STAD yang memanfaatkan sistem diskusi dalam proses pemecahan masalah, membantu siswa dalam mengungkapkan pikiran atau gagasan
antar siswa, berdiskusi dan berargumentasi tentang yang mereka hadapi guna mengungkap
alternatif strategi pemecahan
masalah yang dapat diterapkan. Siswa mampu mengembangkan pendekatan mereka sendiri untuk pemecahan
masalah karena guru membiarkan mereka menggunakan ide-ide mereka sendiri di kelas dan mendorong mereka untuk menggunakan perspektif mereka sendiri. Langkah selanjutnya dalam proses pembelajaran adalah pemodelan yang diberikan oleh siswa dan guru.
Ketika sesuatu dimodelkan, itu dapat digunakan
sebagai contoh, dan biasanya lebih mudah untuk dipahami.
Hipotesis dapat diverifikasi jika mempertimbangkan pengamatan yang dilakukan selama siklus II serta hasil tes berpikir
kritis matematis yang diberikan kepada siswa. Ini akan
menghilangkan kebutuhan untuk siklus berikutnya.
Penelitian ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (A. N. Harahap & Harahap, 2019); (Anggraini et al., 2020) bahwa
STAD terbukti sebagai strategi pembelajaran aktif yang mampu meningkatkan
kerjasama dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pada kondisi ini
terjadi perubahan sikap yang awalnya siswa bekerja secara sendiri dan tidak
termotivasi untuk belajar menjadi aktif untuk memperoleh pengetahuan. Siswa
menjadi sibuk memperoleh pengetahuan karena adanya tanggung jawab bersama untuk
memperoleh penghargaan tim
Kesimpulan
Kesimpulan berikut dapat diambil dari
temuan penelitian dan topik yang dibahas, bahwasanya dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas XI IPA-1 SMA Negeri
11 Medan khususnya pada pokok
bahasan program linear. Hal ini
ditunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis matematis yang awalnya 33,93 menjadi 68,27 pada siklus I kemudian meningkat menjadi 85,77 pada siklus II. Hal itu juga terlihat dari hasil
persentase ketuntasan kelas yang awalnya belum terdapat siswa yang tuntas meningkat menjadi 15 siswa (42,86%) pada siklus I meningkat lagi menjadi 31 siswa (88,57%) pada siklus II.
Berdasarkan
simpulan di atas, peneliti memberikan saran yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dijadikan sebagai pembelajaran alternatif khususnya pada mata pelajaran matematika khususnya materi program linear. Model pembelajaran
kooperatif tipe STAD memerlukan waktu dan kegiatan yang cukup lama sehingga guru harus bisa memadukan waktu yang tersedia dengan materi yang akan diajarkan. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal, sebaiknya guru benar-benar memahami langkah-langkah pembelajaran.
Bibliography
Amalia, R. H., Mahardika, I. K., & Gani, A. A. (2017).
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Dengan Pendekatan Sets
Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Sman 4 Jember. Jurnal Pembelajaran
Fisika, 5(2), 105�121.
Anggraini, Y., Pasha, D., & Damayanti, D. (2020). Sistem
Informasi Penjualan Sepeda Berbasis Web Menggunakan Framework Codeigniter. Jurnal
Teknologi Dan Sistem Informasi, 1(2), 64�70.
Butar-Butar, N. G. (2018). Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Student Teams Achievment Division (Stad) Untuk Meningkatkan
Motivasi Belajar Matematika Dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Sma
Swasta Gajah Mada Medan. Unimed.
Harahap, A. N., & Harahap, I. (2019). Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Untuk Meningkatkan Berpikir Kritis. Jurnal
Penelitian Tindakan Kelas Dan Pengembangan Pembelajaran, 2(2).
Harahap, D. H., & Syarifah, R. (2017). Studi Kasus
Kesulitan Belajar Matematika Pada Remaja. Jurnal Psikologi, 11(1).
Marsito, M. (2022). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui
Model Kooperatif Stad Pada Materi Deret Aritmatika Di Kelas Xii Ipa 1 Ipa 1 Sma
Negeri 2 Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran 2018/2019. Cybernetics: Journal
Educational Research And Social Studies, 132�139.
Novianti, D. A. (2021). Perbedaan Peningkatan Kemampuan
Berpikir Kritis Dan Resiliensi Matematis Siswa Menggunakan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Stad Dan Jigsaw Pada Siswa Smp. Unimed.
Prayoga, M. F., Safitri, D., Fahmi, F., & Damanik, M. H.
(2021). Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division
Untuk Mengetahui Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Dan Motivasi
Belajar Siswa. Mes: Journal Of Mathematics Education And Science, 6(2),
1�8.
Safrida, A. (2014). Perbedaan Peningkatan Kemampuan
Pemahaman Konsep Dan Komunikasi Matematis Siswa Dengan Menggunakan Pembelajaran
Kooperatif Tipe Stad Dan Jigsaw Di Sma Negeri 17 Medan Dan Sma Dharma Pancasila
Medan. Unimed.
Sagala, A. F. H. (2019). Perbedaan Hasil Belajar Siswa
Yang Diajarkan Dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5e Dan Cooperative
Learning Tipe Stad Pada Materi Fungsi Kelas X Sma Negeri 11 Medan Menggunakan
Media Handout. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan.
Saragih, S. (2013). Peningkatan Kemampuan Komunikasi
Matematis Siswa Sma/Ma Di Kecamatan Simpang Ulim Melalui Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Stad. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 19(2),
174�188.
Siahaan, M. H. (2021). Perbedaan Kemampuan Berpikir Kritis
Dan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Yang Diajar Dengan Model Pembelajaran
Student Teams Achievement Divisions (Stad) Dan Pair Checks Pada Materi Program
Linier Pada Siswa Kelas Xi Di Sma Swasta Hang Tuah Belawan. Universitas
Islam Negeri Sumatera Utara Medan.
Siswadi, S. (2019). Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematik Siswa Sma Melalui Pembelajaran Matematika Dengan Strategi Kooperatif
Tipe Stad. Logaritma: Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan Dan Sains, 7(02),
227�238.
Slavin, B. (2016). Principles Of Development Of
Human-Oriented Information Systems In Enterprises. Proceedings Of The 12th
Central And Eastern European Software Engineering Conference In Russia,
1�7.
Wang, C.-M., Hsueh, H.-P., Li, F., & Wu, C.-F. (2019).
Bootstrap Ardl On Health Expenditure, Co2 Emissions, And Gdp Growth
Relationship For 18 Oecd Countries. Frontiers In Public Health, 7,
324.
|
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License. |