|
OBJEK PENELITIAN BAHASA ARAB Abdul Latief, Darmawati Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Indonesia E-mail: [email protected],
[email protected] |
|
|
Abstrak
Bahasa
Arab menjadi salah satu mata pelajaran yang menempati posisi utama dan sejajar dengan mata pelajaran
lainnya di lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementrian Agama (Kemenag), mulai dari tingkat
madrasah sampai Perguruan
Tinggi. Tujuan Penelitian
adalah untuk mengetahui objek penelitian bahasa arab. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Pengumpulan�� data��
dilakukan��
dengan��
didasarkan kepada kurikulum bahasa Arab salah satunya telaah kurikulum KMA No 183 Tahun 2019.
Hasil penelitian ini menunjukan pengajaran bahasa Arab berkait erat dengan aspek-aspek
pengajarannya itu sendiri yang mencakup pendekatan (Approach), metode
(method), dan tekhnik-tekniknya (technique). Serangkaian asumsi hakikat bahasa dan pembelajaran bahasa menurut Edward M. Anthony merupakan
sebuah pendekatan dalam pengajaran bahasa Arab. Asumsi yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa mencakup aspek mendengar/menyimak (al-Istima�), bercakap-cakap
(al-kalam), membaca (al qiraat),
dan menulis (al-kitabah).
Empat keterampilan ini selanjutnya akan membangun metode-metode atau model-model dalam pengajaran bahasa Arab. Kata
Kunci: Bahasa arab; penelitian; pondok pesantren Abstract Arabic
is one of the subjects that occupies the main position and is on an equal
footing with other subjects in educational institutions under the auspices of
the Ministry of Religion (Kemenag), ranging from
the madrasa level to higher education. �The purpose of the study is to find out the
object of research in Arabic. �This
research uses a qualitative approach with a library research method. Data
collection is carried out based on the Arabic curriculum, one of which is the
study of the KMA curriculum No. 183 of 2019. The results of this study show thatArabic language learning is closely related to
aspects of teaching itself which include approaches, methods, and techniques.
A series of assumptions on the nature of language and language learning
according to Edward M. Anthony is an approach to teaching Arabic. Assumptions
related to language learning include aspects of listening/listening (al-Istima'), conversing (al-kalam), reading (al qiraat), and writing (al-kitabah).
These four skills will further establish methods or models in Arabic language
teaching Keyword:
Arabic; research; islamic boarding school |
|
Pendahuluan
Bahasa Arab menjadi salah satu mata pelajaran
yang menempati posisi utama dan sejajar dengan mata pelajaran
lainnya di lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementrian
Agama (Kemenag), mulai dari tingkat madrasah sampai Perguruan Tinggi (Departemen Agama, 2002).� Bahkan di lembaga pendidikan seperti pondok-pondok pesantren baik tradisional maupun modern, bahasa Arab menjadi materi utama yang diajarkan dan harus dikuasai oleh santri dengan tujuan agar dapat mengkaji dan memperdalam ajaran Islam melalui kitab-kitab berbahasa
Arab serta dapat berkomunikasi dengannya bahasa Arab (Al-Al & Abd, 1981).
Bahasa pada prinsipnya digunakan oleh para pemakainya sebagai pembawa pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Kebutuhan pemakai bahasa adalah agar mampu merujuk objek
ke dunia nyata, misalnya mampu menyebutkan nama, keadaan, peristiwa dan ciri-ciri benda dengan kata-kata tersebut ke dalam kalimat-kalimat
sehingga mampu menyusun proposisi yaitu rangkaian kata yang membentuk prediksi tentang benda, orang atau peristiwa (Hamid, 2013).
Berbicara
soal kualitas pendidikan, tidak dapat dilepaskan dari proses pembelajaran di ruang kelas. Pembelajaran
di ruang kelas mencakup dua aspek penting yakni pendidik
dan peserta didik.� Pendidik mempunyai tugas mengajar dan peserta didik belajar. Menurut Herdah proses pembelajaran yang berhasil hanya mungkin terwujud
apabila dilaksanakan secara professional oleh para tenaga
pendidik dan kependidikan dengan semangat dan profesionalisme yang tinggi (Rohmatul Arifin, 2022).� Proses pembelajaran
adalah proses komunikasi, kegiatan di kelas merupakan tempat guru dan peserta didik melakukan
tukar pikiran dan mengembangkan ide-idenya. Dalam berkomunikasi sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga
komunikasi menjadi tidak efektif karena
adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan, dan kurangnya minat peserta didik (Arikunto et al., 2018).
Sebagai
salah satu dari empat kemampuan berbahasa, mendengar merupakan keterampilan yang memungkinkan seorang pemakai bahasa untuk memahami bahasa yang digunakan secara lisan (Djiwandono, 2016). Karena banyaknya komunikasi sehari-hari yang dilakukan secara lisan, kemampuan
ini amat penting dimiliki oleh setiap pemakai Bahasa (Hermawan & Alwasilah, 2011). Tanpa kemampuan mendengar yang baik, akan terjadi banyak
kesalah-pahaman dalam komunikasi antara sesama pemakai bahasa yang dapat menyebabkan berbagai hambatan dalam melaksanakan tugas dan kehidupan seharihari (Herdah, 2020). Oleh karena itu kemampuan
mendengar merupakan bagian yang tak boleh diabaikan dalam pengajaran bahasa terutama bila tujuan penyelenggaraannya
adalah penguasaan kemampuan berbahasa (Aziza & Muliansyah, 2020).� Untuk memelihara lisan dari�� kesalahan dan memelihara� tulisan dari�� kekeliruan,� serta� menciptakan� kebiasaan� berbahasa� yang benar.� Dalam pengajaran bahasa semacam itu perkembangan
dan tingkat penguasaan kemampuan mendengar perlu dipantau dan diukur melalui penyelenggaraan asesmen dan evaluasi (Schulz, 2017).
Pembelajaran
Bahasa Arab adalah suatu
proses pembelajaran yang diarahkan
untuk mendorong, membimbing, dan mengembangkan serta membina kemampuan
bahasa Arab peserta didik baik secara
aktif maupun pasif, dan menumbuhkan sikap positif terhadap
bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab merupakan proses pembelajaran peserta didik agar mereka mampu menguasai empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis (Syaifudin, 2020).
Salah satu keterampilan berbahasa adalah berbicara atau maharatul kalam yang mana mempunyai fungsi yang sangat penting dalam komunikasi
karena melibatkan pembicara dan pendengarnya. Dalam pembelajarannya maharatul kalam diaplikasikan dengan beberapa bentuk seperti dengan percakapan, mengungkapkan suatu ide atau gagasan yang singkat, dan lain sebagainya (Darmawati & Dalleq, 2019). Dan didalam praktiknya masih banyak kendala
ataupun kekeliruan yang dilakukan oleh pengajar untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada peserta didik, baik dari tujuan
pembelajarannya, langkahlangkah
pengajarannya serta metode-metode yang digunakan dalam pengajarannya. Sehingga muncullah masalah-masalah yang dapat menghambat guru ataupun peserta didik dalam
mencapai tujuan keterampilan berbicara itu sendiri (Acep, 2011).
Kemampuan
berbahasa Arab serta sikap positif terhadap
bahasa Arab tersebut sangat
penting dalam membantu memahami sumber ajaran Islam yaitu al-Qur�an dan al-hadits, serta kitab-kitab berbahasa Arab
yang berkenaan dengan Islam
bagi peserta didik (Nurlaela, 2020).� Keterampilan dalam berbahasa mencakup empat keterampilan, yaitu keterampilan mendengar (Maharah al-Istima�), keterampilan berbicara (Maharah al-Kalam), keterampilan membaca (Maharah al-Qira�ah), dan keterampilan menulis (Maharah al-Kitabah). Keempat aspek ini menjadi
aspek penting dalam belajar bahasa
Arab, karena keempat keterampilan tersebut tidak dapat dipisahkan.
Karena kedudukan keempat keterampilan ini sangat menunjang dalam pencapaian keterampilan berbahasa (Mustofa & Hamid, 2016).
Oleh karena itu, penulis akan
melakukan penelitian terkait dengan Objek Penelitian Bahasa Arab.
Tujuan
Penelitian adalah untuk mengetahui objek penelitian bahasa arab, dan manfaat penelitian ini dihararapkan dapat memperdalam serta melengkapi kekurangan yang membahas tentang objek penelitian
Bahasa arab.
Metode Penelitian
Penelitian
ini� menggunakan� pendekatan� kualitatif� dengan� metode� studi pustaka (library�� research). Pengumpulan�� data��
dilakukan��
dengan��
didasarkan kepada kurikulum bahasa Arab salah satunya telaah kurikulum KMA No 183 Tahun
2019.� Hal ini�
dilakukan� karena� adanya� KMA�
183� Tahun� 2019� diarahkan� untuk menyiapkan�� peserta�� didik�� madrasah��
mampu�� beradaptasi�� dengan�� perubahan sehingga� lulusannya� kompatibel� dengan� tuntutan� zamannya� dalam� membangun peradaban�� bangsa.�� Selain�� itu�� data�� pendukung�� tentunya�� dibutuhkan�� seperti beberapa buku teks,
jurnal ilmiah dan dokumen serta sumber-sumber
data dan atau informasi lainnya yang dianggap memiliki relevansi dengan topik penelitian.
Hasil dan Pembahasan
Bahasa Arab adalah terdiri dari 2 kata bahasa (lughah)
adalah kumpulan sistem bunyi, nahwu, sharaf�
dan leksikal yang berhubungan satu sama lain untuk menghasilkan ungkapan
atau kalimat yang mempunyai makna di antara sekelompok manusia.
Bahasa
Arab adalah bahasa yang digunakan oleh bangsa-bangsa Arab dan
masyarakat Islam. Bahasa Arab
merupakan life language yang kuat, mengalami perkembangan,
dan mampu menerjemahkan bahasa Perancis, India, Yunani dan sebagainya. Bahasa
Arab di abad pertengahan merupakan sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan
penyebaran kebudayaan ke negara-negara Eropa. Kebudayaan Arab saat ini lebih
bersinar daripada peradaban Eropa. Bahasa Arab mampu menghilangkan kebodohan
dan memotivasi dunia Islam untuk berkembang dan bangkit
Pengajaran bahasa Arab
berkait erat dengan aspek-aspek pengajarannya itu sendiri yang mencakup
pendekatan (Approach), metode (method), dan tekhnik-tekniknya (technique).
Serangkaian asumsi hakikat bahasa dan pembelajaran bahasa menurut Edward M.
Anthony merupakan sebuah pendekatan dalam pengajaran bahasa Arab. Asumsi yang
berhubungan dengan pembelajaran bahasa mencakup aspek mendengar/menyimak (al-Istima�),
bercakap-cakap (al-kalam), membaca (al qiraat), dan menulis (al-kitabah).
Empat keterampilan ini selanjutnya akan membangun metode-metode atau
model-model dalam pengajaran bahasa Arab.
Pembelajaran bahasa Arab
diajarkan secara intergral, yaitu dengan menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis sebagai persiapan untuk mencapai dan mewujudkan pencapaian kompetensi
berbahasa. Kecakapan menyimak dan berbicara sebagai landasan berbahasa merupakan
titik dasar, pada tingkat pendidikan dasar (elementary). Kemudian
keempat kecakapan berbahasa diajarkan secara seimbang pada tingkat pendidikan
menengah (intermediate). Agar peserta didik mampu untuk mengakses
berbagai referensi berbahasa Arab maka pada tingkat pendidikan lanjut (advanced)
dikonsentrasikan pada kecakapan membaca dan menulis.
Secara teoritis, paling tidak ada empat orientasi pendidikan
bahasa
Arab sebagai berikut:
a. Belajar bahasa
Arab untuk tujuan memahami dan memahamkan ajaran
Islam. Orientasi ini dapat berupa belajar keterampilan pasif (mendengar dan
membaca), dan dapat pula mempelajari keterampilan aktif (berbicara dan
menulis).
b. Belajar bahasa
Arab untuk tujuan memahami ilmu-ilmu dan keterampilan berbahasa Arab. Orientasi
ini cenderung menempatkan bahasa Arab sebagai disiplin ilmu atau obyek studi
yang harus dikuasai secara akademik.
c. Belajar bahasa
untuk kepentingan profesi, praktis atau pragmatis, seperti mampu berkomunikasi
lisan dalam bahas Arab untuk bisa menjadi TKI, diplomat, turis, misi dagang,
atau untuk melanjutkan studi di salah satu negara Timur Tengah, dan sebagainya.
d. Belajar bahasa
Arab untuk memahami dan menggunakan bahasa Arab
sebagai media bagi kepentingan orientalisme, kapitalisme, imperalisme, dan sebagainya.
Adapun ruang lingkup
pembelajaran bahasa Arab melputi; unsur-unsur kebahasaan, terdiri atas tata
bahasa (qawaidu al-lughah), kosakata (mufradat), pelafalan dan
ejaan (ashwat Arabiyah), keterampilan berbahasa, yaitu menyimak (istima�),
berbicara (kalam), membaca (qira�ah), dan menulis (kitabah),
dan aspek budaya yang terkandung dalam teks lisan dan tulisan.
A. Unsur-unsur
Bahasa Arab
Dalam pembelajaran bahasa Arab tidak
terlepas dari mempelajari
keterampilan berbahasa dan unsur bahasa. Untuk keterampilan bahasa terdiri dari
keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan
keterampilan menulis. Untuk keterampilan menyimak dan membaca disebut sebagai
keterampilan reseptif sedangkan keterampilan berbicara dan menulis disebut
sebagai keterampilan produktif.
Adapun unsur bahasa Arab terdiri dari tiga
bagian yaitu suara, kosakata dan tata bahasa.
1. Suara
Para pakar pendidikan berpendapat bahwa urgensi untuk mempelajari cara
melafalkan bunyi huruf Arab sejak awal haruslah benar. Melafalkan suara atau bunyi
adalah unsur tersulit dalam perubahan dan mengkoreksinya setelah mempelajari
dengan salah. Bukan berarti harus sesuai dengan penutur asli tapi mampu
menguasai mengeluarkan suara yang memungkinkan pelajar bisa berinteraksi dengan
penutur asli dengan detail yang sempurna dalam mengeluarkan suara, menekan dan
intonasinya. Para guru hendaknya menghindari mengajarkan suara-suara Arab yang
kesulitan dalam mengucapkannya ataupun kalau mengucapkan maka akan terpaut jauh
dengan kebenaran dalam mengucapkannya.
Huruf Arab memiliki beberapa karakteristik yang membedakanmya dari
huruf latin. Perbedaan ini merupakan problem tersendiri dalam mempelajari
bahasa Arab bagi siswa yang hanya mengenal huruf latin seperti siswa-siswa Indonesia
pada umumnya. Ada beberapa teknik atau bisa juga disebut metode untuk
mengajarkan baca tulis huruf Arab atau mengenalkan bunyi dan ortografi bahasa
Arab.
2. Kosakata
Kosakata dalam bahasa Arab atau yang disebut dengan mufradat,
merupakan himpunan kata-kata atau khazanah kata yang diketahui oleh
seseorang atau etinitas lain yang merupakan bagian dari bahasa tertentu.
Dalam bahasa inggris kosakata disebut dengan vocabulary. Kosakata juga
dapat diartikan sebagai himpunan kata-kata yang dimengerti oleh orang tersebut
dan kemungkinan akan digunakannya untuk menyusun kalimat baru.
Kosakata adalah media pembawa makna yang berarti dalam waktu
bersamaan adalah media untuk berfikir, dengan kosa kata seorang pembelajar akan
berfikir menerjemahkan pikirannya dalam kata-kata sebagaimana yang diharapkan. Biasanya
kosakata bahasa asing diperoleh dari keterampilan reseptif yaitu menyimak
berupa menyimak dan membaca, baru kemudian keterampilan
produktif yaitu berbicara dan menulis yang akan diperluas dalam pengembangan
dan berlatih menggunakannya. Cara mengajarkan kosakata adalah pertama,
menyodorkan kata-lata yang berhubungan langsung dengan kondisi mereka, kedua,
memberi kesempatan untuk berlatih menggunakan kata-kata ini dalam sikap
komunikatif, ketiga, mengupayakan mengulangi menyodorkan kata-kata dalam buku
tulis yang terstuktur sehingga tidak dilupakan.
Perpindahan
kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab dapat menimbulkan berbagai
persoalan, antara lain: pergeseran arti, lafadznya berubah dari bunyi aslinya,
lafadznya tetap, tetapi artinya berubah. Dalam hal bilangan kata benda, dalam
bahasa Indonesia hanya ada dua kategori, yaitu tunggal
dan jamak, sedangkan dalam bahasa Arab terdapat tiga kategori, yaitu mufrad,
mutsanna, dan jama�.
Cara mengajarkan mufrodat adalah dengan
menirukan (muhakah) dan
pemberian contoh dalam pengucapan yang benar oleh guru. Untuk solusinya adalah
dengan mengucapkan contoh ayat-ayat al-Qur�an.
Adapun teknik-teknik pengajaran kosakata dan
tahapan-tahapannya
dipaparkan sebagai berikut :
a. Mendengarkan kata
Ini adalah tahap yang
pertama. Berikan kesempatan kepada siswa untuk
mendengarkan kata yang diucapkan guru, baik berdiri sendiri maupun di
dalam kalimat. Apabila unsur bunyi dari kata itu sudah dikuasai oleh siswa maka
dalam dua atau tiga pengulangan siswa telah mampu mendengarkan dengan benar.
b. Mengucapkan kata
Tahap berikutnya adalah memberi kesempatan
kepada siswa untuk mengucapkan kata yang telah didengarnya. Mengucapkan kata
baru membantu siswa mengingatnya dalam waktu yang lebih lama.
c. Mendapatkan makna kata
Berikan arti kepada siswa dengan sejauh mungkin menghindari terjemahan
kecuali kalau tidak ada jalan lain. Saran ini dikemukakan karena kalau guru
setiap kali selalu menggunakan bahasa ibu siswa, maka tidak akan terjadi
komunikasi langsung dalam bahasa yang sedang dipelajari sementara itu akan
segera dilupakan pula oleh siswa.
3. Tata Bahasa
Salah satu kesulitan
mempelajari bahasa Arab adalah karena semua tulisan Arab selain Al-Qur�an dan
beberapa hadits tertulis tanpa harokat (gundul). Karena itu bisa membaca
sebelum memahami maka dibutuhkan media yaitu tatabahasa. Karena kesulitan itu,
maka apapun teks Arab haruslah diberi harokat tentunya sebagai penulis harus
kerja dua kali, menulis dan memberikan harokat. Tapi resiko itulah yang harus
ditanggung untuk membantu mereka membaca dan memahami teks berbahasa Arab.
Dalam metode pengajaran
bahasa modern pengajaran tata bahasa berfungsi sebagai penunjang tercapainya
kemahiran berbahasa. Tata bahasa bukan tujuan melainkan sarana untuk menggunaka
bahasa dengan benar dalam komunikasi. Pada dasarnya kegiatan pengajaran tata
bahasa terdiri dari dua bagian ��������������������������(a) pengenalan kaidah-kaidah
bahasa (nahwu shorof) dan (b) pemberian latihan atau drill. Keduanya
dapat dilaksanakan dengan dua cara deduktif atau induktif.
Pada dasarnya latihan
ini bertujuan menanamkan kebiasaan dengan memberikan stimulus untuk mendapatkan
respon yang benar. Ada bermacam-macam latihan mekanis, antara lain, pengulangan
sederhana, penggantian sederhana, penggantian lebih dari satu item,
transformasi dam penggabungan kalimat dengan penambahan isim maushul.
Kalau latihan mekanis
sepenuhnya bersifat manipulatif, karena kalimat-kalimat yang diucapkan oleh
siswa sama sekali tidak dihubungkan dengan konteks atau situasi maka
latihan-latihan bermakna ini walaupun belum sepenuhnya bersifat komunikatif
tapi sudah dihubungkan dengan konteks atas situasi yang sebenarnya. Oleh karena
itu dapat dikatakan semikomunikatif.
Latihan ini menumbuhkan
daya kreasi siswa dan merupakan latihan berbahasa yang sebenarnya. Oleh karena
itu, langkah ini sebaiknya diberikan
apabila guru merasa bahwa siswa telah mendapatkan bekal yang cukup untuk dapat
menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi. Dalam metode audiolingual,
latihan komunikatif ini baru diberikan beberapa bulan setelah
latihan-latihan manipulatif.
B. Faktor-faktor
Luar dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Faktor-faktor dalam pempelajaran bahasa Arab merupakan suatu
faktor yang bisa menghalangi dan memperlambat pelaksanaan proses pembelajaran
bahasa Arab. Faktor-faktor yang muncul dalam pembelajaran bahasa Arab yaitu:
1. Faktor
Linguistik
a. Tata Bunyi
Ada beberapa
problem tata bunyi yang perlu menjadi perhatian para pembelajar non Arab salah
satunya fonem atau bunyi Arab yang tidak ada dalam bahasa Indonesia, maka perlu
waktu dan keuletan berlatih. Seorang pelajar Indonesia akan merasa kesulitan
dalam mengucapkan fonem-fonem atau bunyi-bunyi tersebut, sehingga apabila ada
kata Arab yang mengandung fonem-fonem tersebut masuk ke Indonesia, maka� fonem-fonem itu akan berubah menjadi fonem
lain.
b.
Kosa Kata
Perpindahan
kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab dapat menimbulkan berbagai
persoalan, antara lain: pergeseran arti, lafadznya berubah dari bunyi aslinya,
lafadznya tetap, tetapi artinya berubah. Dalam hal bilangan kata benda, dalam
bahasa Indonesia hanya ada dua kategori, yaitu tunggal
dan jamak, sedangkan dalam bahasa Arab terdapat tiga kategori, yaitu mufrad,
mutsanna, dan jama�.
c.
Tata Kalimat
Tata kalimat
bahasa Arab memang tidak mudah dipahami oleh pelajar non �Arab, seperti yang berasal dari orang
Indonesia, meskipun ia sudah menguasai gramatika bahasa Indonesia, ia tidak
akan menemukan perbandingannya dalam bahasa Indonesia.
d.
Tulisan
Tulisan Arab
yang berbeda sama sekali dengan tulisan lain, juga menjadi kendala tersendiri
bagi pelajar bahasa Arab non Arab, khususnya dari Indonesia. Tulisan latin
dimulai dari kanan ke kiri, sedangkan tulisan Arab dimulai dari kiri ke kanan.
Huruf latin hanya memiliki dua bentuk, yaitu huruf kapital dan huruf
kecil, maka huruf Arab mempunyai berbagai bentuk, yaitu bentuk berdiri sendiri,
�awal, tengah, dan akhir.
2.
Faktor Non Linguistik
a.
Faktor Sosio-Kultural
Problem yang
mungkin muncul ialah ungkapan-ungkapan, istilah-istilah dan nama-nama benda
yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia tidak mudah dan tidak cepat dipahami
oleh pelajar Indonesia yang sama sekali belum mengenal sosial dan budaya bangsa
Arab.
b.
Faktor Buku Ajar
Buku ajar yang
tidak memperhatikan prinsip-prinsip penyajian materi bahasa Arab sebagai bahasa
asing akan menjadi problem tersendiri dalam pencapaian tujuan.
c.
Faktor Lingkungan Sosial
Faktor
lingkungan umumnya menjadi masalah tersendiri dalam pembelajaran bahasa Arab di
Indonesia. Pelajar bahasa Arab yang ada didaerah tertentu, cenderung
menggunakan bahasa pergaulan yang ada di daerah itu. Kondisi ini akan menjadi
transfer negatif dalam belajar bahasa Arab.
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar.
Faktor eksternal yang mempengaruhi pembelajaran
Bahasa Arab dikelompokkan menjadi 3 faktor yaitu: faktor keluarga,
faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
1. Faktor
keluarga
Keluarga akan memberikan pengaruh kepada siswa yang
belajar berupa: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana
rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang
kebudayaan.
a.
Cara
orang tua mendidik
Orang
tua merupakan sumber pembentukan
kepribadian anak, karena anak mulai mengenal pendidikan yang pertama kali adalah
pendidikan keluarga oleh orang tuanya.
b.
Relasi
antar anggota keluarga
Relasi antar anggota keluarga
yang terpenting adalah relasi orang tua dengan anaknya. Selain itu relasi anak
dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga lainpun turut mempengaruhi
belajar anak. Wujud relasi ini misalnya apakah hubungan itu penuh dengan kasih
sayang dan pengertian, ataukah diliputi oleh kebencian, sikap yang terlalu
keras, ataukan sikap yang acuh tak acuh dan sebagainya.
Demi kelancaran belajar serta
keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga anak
tersebut. Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh pengertian dan kasih
sayang, disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman untuk
menyukseskan belajar anak sendiri.
c.
Suasana
rumah tangga
Suasana
rumah dimaksudkan sebagai situasi-situasi atau kejadian-kejadian yang sering
terjadi di dalam keluarga di mana anak berada dan belajar. Suasana
rumah juga merupakan faktor yang penting yang tidak termasuk faktor yang
disengaja. Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi
ketenangan kepada anak yang belajar. Suasana
tersebut dapat terjadi pada keluarga yang besar dan terlalu banyak penghuninya.
Suasana rumah yang tegang, ribut dan sering terjadi cekcok, pertengkaran antar
anggota keluarga atau dengan keluarga lainnya menyebabkan anak menjadi bosan di
rumah, akibatnya belajarnya menjadi kacau.
d.
Keadaan
ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi keluarga
sangat erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain
harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya: makan, pakaian, perlindungan,
kesehatan dan lain-lainnya, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang
belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis-menulis, buku-buku dan lain
sebagainya. Fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai
cukup uang.
e.
Latar
belakang kebudayaan
Tingkat
pendidikan atau kebiasaaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam
belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaaan-kebiasaaan yang baik, agar
mendorong semangat anak untuk belajar.
2.
Faktor
sekolah
Faktor
sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum,
relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat
pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar,
dan tugas rumah. Berikut ini akan penulis bahas faktor-faktor tersebut
satu persatu.
a.
Metode
Mengajar
Metode
adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu
tujuan.� Sebagaimana
kita ketahui ada banyak sekali metode mengajar. Metode
mengajar seorang guru akan mempengaruhi belajar siswa. Metode mengajar guru
yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa menjadi tidak baik pula.
Metode mengajar yang kurang baik itu dapat terjadi karena guru kurang persiapan
dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menerangkannya
tidak jelas. Akibatnya siswa malas untuk belajar.
Guru yang lama biasaa mengajar dengan metode ceramah
saja. Siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif dan hanya mencatat saja. Guru yang
progresif berani mencoba metode-metode yang baru, yang dapat membantu
meningkatkan kegiatan belajar mengajar, dan meningkatkan motivasi siswa untuk
belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus
diusahakan yang setepat, seefisien, dan seefektif mungkin.
b.
Kurikulum
Kurikulum
dipandang sebagai sejumlah mata pelajaran yang tertentu yang harus ditempuh
atau sejumlah pengetahuan
yang harus dikuasai untuk mencapai suatu tingkat atau ijazah. Kurikulum
sangat mempengaruhi belajar siswa. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh tidak
baik terhadap belajar. Kurikulum yang tidak baik itu misalnya kurikulum yang
terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat, minat dan
perhatian siswa. Sistem instruksional sekarang menghendaki proses belajar
mengajar yang mementingkan kebutuhan siswa.
c.
Relasi
Guru dengan Siswa
Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa.
Proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri.
Jadi cara belajar juga dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya. Di dalam
relasi (guru dengan siswa) yang baik, siswa akan menyukai mata pelajaran yang
diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya. Hal tersebut
juga terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya. Ia segan mempelajari mata
pelajaran yang diberikannya, akibatnya pelajarannya tidak maju. Guru yang
kurang berinteraksi dengan siswa secara akrab, menyebabkan proses belajar
mengajar itu kurang lancar. Juga siswa merasa jauh dari guru, maka segan untuk
berpartisipasi secara aktif dalam belajar.
d.
Relasi
Siswa dengan Siswa
Guru
yang kurang mendekati siswa dan kurang bijaksana, tidak akan melihat bahwa di
dalam kelas
ada grup yang saling bersaing secara tidak sehat. Jiwa kelas
tidak terbina, bahkan hubungan masing-masing individu tidak tampak. Siswa
yang mempunyai sifat-sifat dan tingkah laku yang kurang menyenangkan teman
lain, mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin,
akan diasingkan dari kelompok. Akibatnya makin parah masalahnya dan akan
mengganggu belajarnya. Lebih-lebih lagi ia akan menjadi malas untuk masuk
sekolah dengan alasan-alasan yang tidak-tidak karena di sekolah mengalami
perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman-temannya.
e.
Standar
Pelajaran
Guru
berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran di atas
standar akibatnya siswa merasa kurang mampu dan takut kepada guru. Bila banyak
siswa yang tidak berhasil dalam mempelajari mata pelajarannya, guru semacam itu
merasa senang. Tetapi berdasarkan teori belajar, yang mengingat perkembangan
psikis dan kepribadian siswa yang berbeda-beda, hal tersebut tidak boleh
terjadi. Guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan
kemampuan masing-masing. Yang
penting tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai.
3.
Faktor
Masyarakat
Abu
Ahmadi mendefinisikan masyarakat dengan suatu kelompok yang telah memiliki
tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam
lingkungannya. Masyarakat merupakan faktor eksternal yang juga
berpengaruh terhadap pembelajaran. Yang
termasuk dalam faktor masyarakat ini antara lain adalah: kegiatan siswa dalam masyarakat,
mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.
Kegiatan
siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya.
Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak,
misalnya berorganisasi, kegiatan-kegiatan sosial, keagamaan dan lain-lain,
belajarnya akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur
waktunya. Perlulah kiranya membatasi kegiatan siswa dalam masyarakat supaya
jangan sampai mengganggu belajarnya. Jika mungkin memilih kegiatan yang
mendukung belajar. Kegiatan ini misalnya kursus bahasa Inggris, PKK remaja,
kelompok diskusi dan lain sebagainya.
Kehidupan
masyarakat di sekitar siswa juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Masyarakat
yang terdiri dari orang-orang yang tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri, dan
mempunyai kebiasaaan yang tidak baik akan berpengruh jelek terhadap anak
(siswa) yang berada di situ. Masih banyak lagi faktor-faktor lain yang dapat
berpengaruh pada prestasi belajar seseorang. Maka tugas orang tua, pendidik
untuk memahami secara mendalam, sehingga dikemudian hari dapat membina
anak/siswanya secara individual dan efektif.
Kesimpulan
Bahasa Arab adalah terdiri dari 2 kata bahasa (lughah) adalah kumpulan sistem bunyi, nahwu,
sharaf dan leksikal yang berhubungan satu sama lain untuk menghasilkan ungkapan atau kalimat yang mempunyai makna di antara sekelompok manusia. Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan oleh bangsa-bangsa Arab dan masyarakat
Islam. Bahasa Arab merupakan life language yang kuat, mengalami perkembangan, dan mampu menerjemahkan bahasa Perancis, India, Yunani dan sebagainya.
Bahasa Arab di abad pertengahan
merupakan sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan penyebaran kebudayaan ke negara-negara Eropa.
Adapun unsur-unsur bahasa Arab terdiri dari tiga bagian
yaitu suara, kosakata dan tata bahasa. Suara yaitu melafalkan
suara atau bunyi adalah unsur
tersulit dalam perubahan dan mengkoreksinya setelah mempelajari dengan salah. Bunyi atau suara pada huruf Arab memiliki beberapa karakteristik yang membedakanmya dari huruf latin. Ada beberapa teknik atau bisa juga disebut metode untuk mengajarkan baca tulis huruf
Arab atau mengenalkan bunyi dan ortografi bahasa Arab. Kosakata dalam bahasa Arab atau yang disebut dengan mufradat, merupakan himpunan kata-kata atau khazanah kata yang diketahui oleh seseorang atau etinitas lain yang merupakan bagian dari bahasa tertentu.
Tata bahasa berfungsi sebagai penunjang tercapainya kemahiran berbahasa. Tata bahasa bukan tujuan melainkan
sarana untuk menggunaka bahasa dengan benar dalam
komunikasi.
Faktor
luar atau faktor eksternal yang mempengaruhi pembelajaran Bahasa
Arab dikelompokkan menjadi 3
faktor yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Bibliography
Acep, H. (2011). Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Al-Al, A. Al-M., & Abd, S. (1981). Ihtirahat �Ammah Li
Qaqaie Nadawat Ta�lim Al-Lughah Al-Arabiyah Li Ghayr Al-Natiqin Biha. Al-Dawhah:
Maktabat Al-Tarbiyah Al-�Arabiyah Li Dual Al-Khalij.
Arikunto, S., Asnawi, M., & Nasional, D. P. (2018). Abu
Ahmadi Dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta: Rikena Cipta, 2004.
Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009.
Aziza, L. F., & Muliansyah, A. (2020). Keterampilan
Berbahasa Arab Dengan Pendekatan Komprehensif. El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan
Pba, 19(1), 56�71.
Darmawati, D., & Dalleq, A. (2019). Hypermedia:
Aplikasi Pembelajaran Bahasa Arab Di Era Digital. Cv. Kaaffah Learning
Center.
Departemen Agama, R. I. (2002). Al-Qur�an Dan Terjemahnya,
Semarang: Pt. Karya Toha Putra.
Djiwandono, M. S. (2016). Tes Bahasa Dalam Pengajaran.
Itb Bandung.
Hamid, M. A. (2013). Mengukur Kemampuan Bahasa Arab: Untuk
Studi Islam. Uin-Maliki Press.
Herdah, H. (2020). Kolaborasi Dan Elaborasi Dalam
Pembelajaran Bahasa Arab. Iain Parepare Nusantara Press.
Hermawan, A., & Alwasilah, C. (2011). Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. Pt Remaja Rosdakarya.
Mustofa, B., & Hamid, M. A. (2016). Metode Dan
Strategi Pembelajaran Bahasa Arab. Uin-Maliki Press.
Nurlaela, L. F. (2020). Problematika Pembelajaran Bahasa Arab
Pada Keterampilan Berbicara Di Era Revolusi Industri 4.0. Prosiding
Konferensi Nasional Bahasa Arab, 6(6), 552�568.
Rohmatul Arifin, R. R. (2022). Uin Kh Achmad Siddiq Jember.
Schulz, E. (2017). Al-Arabiyyah Al-Mu�ashiroh, Bahasa Arab
Modern, Terj. Bakhrudin Fannai, Dkk. Surabaya: Cv. Cakrawala.
Syaifudin, M. (2020). Pembelajaran Unsur Bahasa (Studi
Analisis Konten Buku Bahasa Arab Kelas V Mi). Qudwatuna, 3(1),
71�88.
|
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License. |