Vol. 1, No. 1, Juli 2019
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
13
http://matriks.greenvest.co.id
TANGGAPAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK USIA
DINI HUBUNGANNYA DENGAN MOTIVASI MENYEKOLAHKAN
ANAKNYA PADA PAUD
Labisal Fitri Al Qolbi
Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon Jawa Barat, Indonesia
Diterima:
7 April 2019
Direvisi:
7 Mei 2019
Disetujui:
10 Mei 2019
Abstrak
Penelitian ini bertolak dari fenomena yang ada di desa Pamulihan
Kecamatan Pamulihan Kabupaten Semedang, yakni disalah satu sisi
orang tua merupakan pendidik yang pertama dan paling utama.
Penulis melakukan penelitian ini dengan menggunakan metode
deskriptif, karena metode ini di anggap cocok untuk menggali,
menganalisis dan menginterprestasikan fenomena empirik yang
terjadi sekarang. Populasinya sebanyak 893 orang dan sampelnya
sebanyak 90 orang. Sedangkan teknik pengumpulan datanya
menggunakan teknik angket kemudian di analisis menggunakan
analisis korelasional dengan taraf signifikasi 5%. Hasil pengolahan
data menunjukkan bahwa realitas tanggapan orang tua terhadap
pendidikan anak usia dini di desa Pamulihan memiliki angka rata-
rata 3.90 yang menunjukkan kualifikasi baik/tinggi. Dan motivasi
menyekolahkan anaknya pada PAUD memiliki angka rata-rata 4,11
yang juga menunjukkan angka kualifikasi tinggi. Koefisien
korelasinya sebesar 0.24 yang berarti termasuk kategori
rendah/kurang, sedangkan derajat pengaruhnya sebesar 4%. Jadi
masih ada 96% lagi faktor lain yang memengaruhi motivasi
menyekolahkan anaknya pada PAUD.
Kata kunci: Orangtua; PAUD; Motivasi
Abstract
This research is based on the phenomenon in pamulihan village,
Pamulihan subdistrict, Semedang regency, one side of the parents is
the first and foremost educator. The authors conducted this study
using descriptive methods, because this method is considered
suitable for digging, analyzing and interpreting empirical phenomena
that occur now. The population is 893 people and the sample is 90
people. While the data collection technique using questionnaire
techniques then in the analysis using correlational analysis with a
signification level of 5%. The results of the data processing showed
that the reality of parents' response to early childhood education in
Pamulihan village had an average figure of 3.90 which showed
good/high qualifications. And the motivation to send their children to
PAUD has an average figure of 4.11 which also shows a high
qualification figure. The correlation coefficient is 0.24 which means
it belongs to the low/less category, while the degree of influence is
4%. So there are still 96% more factors that influence the motivation
to send their children to PAUD.
Keywords: Parents; PAUD; Motivation
Tanggapan Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak Usia
Dini Hubungannya dengan Motivasi Menyekolahkan
Anaknya pada PAUD
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
14
Pendahuluan
Banyak ayat pendidikan yang menerangkan tentang pentingnya pendidikan, salah
satunya seperti yang diterangkan ayat berikut. QS.al-Mujadilah: 11,






yang artinya :





Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majelis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, dan
apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Adapun pemikiran utama pendidikan anak usia dini adalah Nabi Muhammad
SAW. Beliau merupakan tokoh pendidikan yang menganjurkan pendidikan harus dimulai
sejak kecil. Sabda Rasulullah saw menyebutkan: “Utlubul „ilma minal mahdi illal lahdi”,
(tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat). Sabda ini memberikan petunjuk yang
tegas tentang pendidikan semenjak usia dini. Sabda ini menekankan bahwa pendidikan
merupakan proses yang kuntinuitas mulai anak dalam gendongan orangtua sampai
manusia meninggal dunia. Sabda ini memberi makna bahwa pendidikan itu penting dan
tidak ada kata berhenti untuk belajar dalam memperoleh ilmu (Omeri, 2015).
Pendidikan tersebut dimulai dari anak usia dini yakni usia 0 6 tahun (Sudarsana,
2018), karena pada masa usia dini ini anak mengalami masa keemasan (the golden years)
yang merupakan masa anak (Istiyani, 2014) mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai
rangsangan. Rangsangan pendidikan ini hendaknya dilakukan secara bertahap, berulang,
konsisten dan tuntas (Ariyanti, 2016) sehingga memiliki daya ubah (manfaat) bagi anak.
Pada masa itu terjadi lonjakan luar biasa pada perkembangan anak yang tidak terjadi pada
periode berikutnya (Angkur, 2019). Oleh karena itu kesempatan ini hendaknya
dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk proses belajar anak. Rasa ingin tahu pada usia ini
berada pada posisi puncak. Tidak ada usia sesudahnya yang menyimpan rasa ingin tahu
anak melebihi usia dini, khususnya usia 0-3 tahun karena pada masa tersebut kecerdasan
anak mencapai 80%, usia 3-6 tahun bertambah 5 %, usia 6-10 tahun bertambah 5% jadi
90% (Sit, 2017). Selanjutnya kapasitas kecerdasan anak tersebut akan mencapai 100%
setelah berusia sekitar 18 tahun, itu pun kalau perkembangan anak dirangsang dengan
benar.Masa ini juga merupakan masa yang tepat untuk melatakkan dasar-dasar
pengembangan kemampuan fisik, bahasa, sosial-emosional, kognitif, seni serta moral dan
nilai-nilai agama (Lalompoh & Lalompoh, 2017). Sehingga upaya pengembangan seluruh
potensi anak usia dini dapat tercapai secara optimal.
(Dewantara, 2017) berpendapat bahwa anak-anak adalah mahluk hidup yang
memiliki kodratnya masing-masing. Kaum pendidik hanya membantu menuntun
kodratnya tersebut. Jika anak memilki kodrat yang tidak baik, maka tugas pendidik untuk
membantunya menjadi baik. Jika anak sudah memiliki kodrat yang baik, maka ia akan
lebih baik lagi jika dibantu melalui pendidikan. Kodrat dan lingkungan merupakan
konvergensi yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Salah satu pendidik
disini juga keluarga dimana orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi
anak-anaknya.
Pendidikan yang diberikan orangtua sendiri mereka yang bertanggung jawab penuh
atas kemajuan perkembangan anak kandungnya (Roesli, Syafi‟i, & Amalia, 2018), karena
Vol. 1, No. 1, Juli 2019
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
15
http://matriks.greenvest.co.id
berhasil tidaknya seorang anak sangat tergantung pada pola pengasuhan dan
pendidikannya (Maksum & Winasih, 2018). Sebagai pendidik pertama dan utama dalam
Tanggapan Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak Usia
Dini Hubungannya dengan Motivasi Menyekolahkan
Anaknya pada PAUD
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
16
keluarga, orang tua terkadang tidak semuanya mengerti tentang pola asuh yang baik
terhadap anak-anaknya. Apabila anak usia dini tersebut salah asuhan seperti yang nampak
terjadi sekarang ini di seluruh pelosok negeri kita akan berakibat fatal bagi perkembangan
jaman. Penanaman mental pondasi bagi manusia penerus bangsa dimanapun adanya
terletak pada anak usia dini dalam rentang usia 0 sampai dengan 6 tahun, disesuaikan
dengan tahapan-tahapan tumbuh kembang anak sesuai usia, maka selamatlah generasi
mendatang yang siap menerima dan memproses iptek dengan mudah dan benar bahkan
bukan hal yang tidak mungkin bahwa generasi tersebut mempunyai daya cipta tepat yang
berhasil guna bagi nusa dan bangsa (Muhria, 2020). Sebaliknya apabila anak usia dini
tersebut kita berikan pendidikan kepribadian ketahanan mental dan sikap yang tidak
benar, maka tunggulah kehancuran generasi yang akan datang yang akan menghancurkan
negara, licik, mementingkan diri sendiri, saling fitnah, menghalalkan segala cara, karena
kebodohannya dalam menyikapi ilmu pengetahuan di berbagai bidang, baik ideologi,
politik sosial ekonomi dan kebudayaan jelas akan direbut orang lain dari negara lain yang
lebih pintar karena mengutamakan dan mengurus secara hati- hati terhadap pendidikan
anak usia dini Namun demikian penerimaan masyarakat terhadap program pendidikan
anak usia dini nampaknya juga belum sepenuhnya seperti yang diharapkan, artinya
tanggapan masyarakat belum memiliki pemahaman terhadap arti pentingnya program
PAUD tersebut bagi masa depan anak (Faiqoh, 2015).
Kenyataan pada saat ini banyak yang menganggap pendidikan baru bisa dimulai
setelah usia sekolah dasar (7 tahun) ternyata tidak benar. Bahkan pendidikan yang
dimulai pada usia Taman Kanak-kanak (4-6 tahun) pun sebenarnya sudah terlambat.
Artinya kalau pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang
maksimal, maka potensi otak anak tidak akan berkembang secara optimal (Yus, 2015).
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu suatu
metode deskriptif digunakan untuk berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan
yang sedang dihadapi pada situasi sekarang dilakukan dengan menempuh langkah-
langkah pengumpulan klasifikasi dan analisis / pengolahan data, memuat kesimpulan dan
laporan dengan tujuan utama membuat penggambaran tentang suatu keadaan secara
objektif dalam suatu deskriptif situasi (Soendari, 2012). Penulis menulis metode ini
karena dengan pertimbangan bahwa menggunakan metode deskriptif tidak hanya terbatas
kepada pengumpulan dan pengolahan data saja, tetapi membuat kesimpulan dan membuat
gambaran tentang suatu keadaan secara objektif.
Hasil dan Pembahasan
Untuk mengetahui data tentang tanggapan orang tua terhadap pendididkan anak
usia dini, penulis mengajukan 12 pertanyaan yang dikembangkan dari 6 indikator.
Adapun indicator yang diteliti mengenai tanggapan orang tua terhadap pendidikan anak
usia dini (variabel X) terdiri dari : 1) Penampilan orang tua, 2) Keteladanan orang tua, 3)
Metode yang digunakan orang tua, 4) Memberi motivasi, 5) Memberi nasehat, dan 6)
Memberi hukuman. Kemudian disebarkan kepada 90 responden dengan menyediakan 5
alternatif jawaban yang memiliki skor dimulai dari 5, 4, 3, 2, 1 untuk pertanyaan atau
pernyataan yang positif, dan dimulai dari 1, 2, 3, 4, 5 untuk pertanyaan atau pernyataan
yang negatif.
Hasil yang diperoleh penulis adalah :
Realitas tanggapan orang tua terhadap pendidikan anak usia dini di Desa
Pamulihan dikategorikan baik. Hal ini berdasarkan dari perhitungan statistik hasil
penyebaran angket yang mengangkat variabel X terhadap 90 responden dari nilai angka
Vol. 1, No. 1, Juli 2019
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
17
http://matriks.greenvest.co.id
rata-rata perindikator mencapai 3,90. Berdasarkan pada rentang nilai tertinggi 5,5 dan
terendah 0,5, posisi 3,90 berada pada interval 3,5 4,5 dengan kualifikasi tinggi. Adapun
skor maksimal tertinggi yang diperoleh sebesar 58 dan skor terendah 37 dari skor
maksimal ideal 60 (Siwas, 2014).
Realitas motivasi menyekolahkan anaknya pada PAUD di Desa Pamulihanjuga
dapat dikategorikan baik. Setelah melakukan penelitian dengan menyebar angket yang
mengangkat variabel Y terhadap 90 responden dari nilai angka rata-rata perindikator
mencapai 4,11. Berdasarkan pada rentang nilai tertinggi 5,5 dan terendah 0,5, posisi 4,11
berada pada interval 3,5 4,5 dengan kualifikasi tinggi. Adapun skor maksimal tertinggi
yang diperoleh sebesar 60 dan skor terendah 40 dari skor maksimal ideal 60 (Siwi, 2015).
Tanggapan orang tua terhadap pendidikan anak usia dini berpengaruh sebesar 4%
terhadap motivasi menyekolahkan anaknya pada PAUD di Desa Pamulihan. Nilai 4% ini
jika di konsultasikan kepada skala prosentase berada diantara nilai 1 % - 19 % yang
ditafsirkan kepada kategori sedikit kecil. Artinya tanggapan orang tua terhadap
pendidikan anak usia dini berpengaruh sedikit kecil sebesar 4% terhadap motivasi
menyekolahkan anaknya pada PAUD di Desa Pamulihan dan selebihnya 96% adalah
faktor lain yang mempengaruhi motivasi orang tua dalam menyekolahkan anaknya pada
PAUD.
Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan yaitu pentingnya menyekolahkan anak pada usia
dini.Kaum pendidik hanya membantu menuntun kodratnya tersebut. Jika anak memilki
kodrat yang tidak baik, maka tugas pendidik untuk membantunya menjadi baik. Jika anak
sudah memiliki kodrat yang baik, maka ia akan lebih baik lagi jika dibantu melalui
pendidikan. Kodrat dan lingkungan merupakan konvergensi yang saling berkaitan dan
mempengaruhi satu sama lain. Salahsatu pendidik yaitu keluarga dimana orang tua
merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Orangtua
bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya, karna
berhasil tidaknya seorang anak sangat tergantung pada pola pengasuhan dan
pendidikannya. Sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga, orang tua
terkadang tidak semuanya mengerti tentang pola asuh yang baik terhadap anak-
anaknya. Apabila anak usia dini tersebut salah asuhan seperti yang terjadi sekarang
ini di seluruh negeri akan berakibat fatal bagi perkembangan zaman
Bibliografi
Angkur, Maria Fatima Mardina. (2019). Penerapan pendekatan saintifik pada pendidikan
anak usia dini. Jurnal Smart Paud, 2(1), 3742.
Ariyanti, Tatik. (2016). Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini Bagi Tumbuh Kembang
Anak The Importance Of Childhood Education For Child Development. Dinamika
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 8(1).
Dewantara, Agustinus. (2017). Filsafat Moral (Pergumulan Etis Keseharian Hidup
Manusia).
Faiqoh, Nur. (2015). Implementasi Pendidikan Berbasis Multikultural Sebagai Upaya
Penguatan Nilai Karakter Kejujuran, Toleransi, Dan Cinta Damai Pada Anak Usia
Dini Di Kiddy Care, Kota Tegal. UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG.
Istiyani, Dwi. (2014). Model pembelajaran membaca menulis menghitung (calistung)
pada anak usia dini di kabupaten pekalongan. Jurnal Penelitian, 10(1).
Lalompoh, Cyrus T., & Lalompoh, Kartini Ester. (2017). Metode Pengembangan Moral
dan Nilai-Nilai Keagamaan bagi Anak Usia Dini.
Maksum, Khanif, & Winasih, Shofia Khusni. (2018). Hubungan pola asuh orang tua
Tanggapan Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak Usia
Dini Hubungannya dengan Motivasi Menyekolahkan
Anaknya pada PAUD
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
18
terhadap perkembangan moral siswa kelas tinggi di SD Negeri Cimpon desa Tirtosari
kecamatan Kretek kabupaten Bantul tahun ajaran 2014/2015. LITERASI (Jurnal
Ilmu Pendidikan), 8(2), 7584.
Muhria, Lan Lan. (2020). Peran Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah dalam
Pembentukan Mental Anak yang Berakhlakul Karimah. Jurnal Jendela Bunda
Program Studi PG-PAUD Universitas Muhammadiyah Cirebon, 8(1), 4951.
Omeri, Nopan. (2015). Pentingnya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Manajer
Pendidikan, 9(3).
Roesli, Mohammad, Syafi‟i, Ahmad, & Amalia, Aina. (2018). Kajian islam tentang
partisipasi orang tua dalam pendidikan anak. Jurnal Darussalam: Jurnal
Pendidikan, Komunikasi Dan Pemikiran Hukum Islam, 9(2), 332345.
Sit, Masganti. (2017). Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini Edisi Pertama. Kencana.
Siwas, Siwas. (2014). Tanggapan Orang Tua Terhadap PAUD Tunas Bangsa di Muara
Kandis Kecamatan Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan. Universitas
Negeri Padang.
Siwi, Erika Brahma. (2015). Hubungan Persepsi Orang Tua Tentang Pendidikan Anak
Usia Dini dengan Motivasi Menyekolahkan Anaknya ke Paud di Desa Podosugih,
Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. BELIA: Early Childhood
Education Papers, 4(2).
Soendari, Tjutju. (2012). Metode Penelitian Deskriptif. Bandung, UPI. Stuss, Magdalena
& Herdan, Agnieszka, 17.
Sudarsana, I. Ketut. (2018). Membentuk Karakter Anak Sebagai Generasi Penerus
Bangsa Melalui Pendidikan Anak Usia Dini. Purwadita: Jurnal Agama Dan
Budaya, 1(1).
Yus, Anita. (2015). Penilaian perkembangan belajar anak taman kanak-kanak. Kencana.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License.