Vol. 1, No. 1, Juli 2019
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
18
http://matriks.greenvest.co.id
EKSPLORASI DAN UJI VIRULENSI JAMUR PATOGEN GULMA DAUN
SEMPIT DI PERTANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)
Dede Yusup Ziaulhak, Loekas Soesanto dan Abdul Manan
Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jawa Tengah, Indonesia
Diterima:
7 April 2019
Direvisi:
5 Mei 2019
Disetujui:
6 Juni 2019
Abstrak
Untuk meningkatkan produksi Gula Nasional, pemerintah telah
berbuat banyak hal. Termasuk penambahan luas tanam tebu dari
381.800. Luas lahan tahun 2010 menjadi 429.200 hektar. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui jenis jamur patogen penyebab
penyakit pada gulma daun sempit pada perkebunan tebu, informasi
virulensi jamur patogen terhadap gulma daun sempit pada
perkebunan tebu dan informasi virulensi jamur patogen gulma daun
sempit terhadap tanaman budidaya. Penelitian ini terdiri atas tiga
tahap yaitu eksplorasi, identifikasi dan uji virulensi jamur patogen
gulma. Hasil dari penelitian diperoleh jamur patogen Curvularia
lunata dan Fusarium oxysporum. Perlakuan jamur C. lunata pada
gulma C. rotundus menunjukkan intensitas paling besar di antara
gulma yang lain dan perlakuan F. oxysporum dengan intensitas
22,5714% bahkan mampu menimbulkan kematian pada gulma C.
rotundus. Sementara perlakuan jamur F. oxysporum menunjukkan
intensitas yang lebih besar pada gulma D. ciliaris dengan kisaran
6,116%. Jamur patogen gulma daun sempit virulen terhadap gulma
daun sempit dan tidak virulen terhadap tanaman budidaya yang
diujikan.
Kata kunci: Gulma; Jamur patogen gulma; Tebu
Abstract
To increase the production of Sugar National, the government has
done a lot. Including the addition of sugar cane planting area of
381,800. The land area in 2010 became 429,200 hectares. This study
aims to find out the types of pathogenic fungi that cause disease in
narrow leaf weeds on sugarcane plantations, information on the
virulence of pathogenic fungi against narrow leaf weeds on
sugarcane plantations and information on the virulence of narrow
leaf weed pathogenic fungi against cultivated plants. This research
consists of three stages, namely exploration, identification and
virulence test of weed pathogenic fungi. The results of the study
obtained pathogenic fungi Curvularia lunata and Fusarium
oxysporum. The treatment of C. lunata mushrooms on C. rotundus
weeds showed the greatest intensity among other weeds and the
treatment of F. oxysporum with an intensity of 22.5714% was even
able to cause death in the weed C. rotundus. Meanwhile, the
treatment of F. oxysporum fungus showed greater intensity on D.
ciliaris weed with a range of 6.116%. Pathogenic fungi of narrow
leaf weeds were virulent to narrow leaf weeds and not virulent to
cultivated plants tested.
Keywords: Weeds; Pathogenic fungi weeds; Sugar cane
Eksplorasi dan Uji Virulensi Jamur Patogen Gulma Daun
Sempit di Pertanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.)
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
19
Pendahuluan
Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu tanaman dengan nilai
ekonomi tinggi karena tebu merupakan bahan dasar dalam pembuatan gula. Selain
itu,limbah pengolahan gula juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya,
seperti pakan ternak, pupuk, jamur, bahan baku industri kimia, dan farmasi. Sekitar
78% gula berasal dari tanaman tebu (Kaur, Bhullar, & Gill, 2015). Produksi tanaman
tebu nasional pada tahun 2015 sebesar 2,4 juta ton dan tahun 2016 produksi tebusebanyak
2,2 juta ton, sentra produksi tebu terbesar adalah Provinsi Jawa Timur dengan
produksi pada tahun2015 sebanyak 1,2 juta ton dan 2016 produksi tebu mencapai 1,05
juta ton (Setyawati & Wibowo, 2019). Produksi tebu saat ini masih mengalami
kendala karena hambatan dari organisme pengganggu tumbuhan khususnya gulma.
Organisme ini merupakan tanaman yang keberadaannya tidak diinginkan pada areal
pertanaman karena gulma akan menjadi tanaman pesaing bagi tanaman utama.
Kehadiran gulma, dapat memberikan dampak pada produksi dengan kerugian 15-75%
bergantung pada kondisi alam dan kepadatannya. Keberadaan gulma pada areal
pertanaman tebu pada stadium pembibitan dapat menyebabkan pertumbuhan bibit
tanaman tebu tidak optimum, karena adanya persaingan dengan gulma (Raharjo,
Tyasmoro, & Sebayang, 2018). Pengendalian gulma dengan herbisida apabila
dilakukan terus menerus akan menimbulkan akumulasi residu yang berbahaya
bagi lingkungan, karena dapat menurunkan kualitas air dan sumber daya darat.
Menurut (Mohamad Taufik Fauzi & Murdan, 2009), penggunaan herbisida akan
menimbulkan dampak negatif karena peningkatan reaksi deoksigenasi dan risiko pada
organisme bukan sasaran. Pengendalian gulma secara kimia saat ini dinilai sudah tidak
efektif, mengingat pengaruh efek samping jangka panjang yang ditimbulkan
sangatlah membahayakan, seperti pencemaran lingkungan. Pengendalian herbisida
jangka panjang juga dapat menimbulkan lonjakan populasi gulma tahan terhadap
herbisida (Soesanto, L., Mugiastuti, E.& Manan, 2017). Saat ini pengendalian hayati
terhadap gulma dinilai lebih aman dan tidak merusak kestabilan lingkungan.
Pengendalian hayati ini berprinsip pada penggunaan musuh alami (organisme), selain
manusia, untuk mengurangi populasi gulma. Pengendalian gulma secara hayati
dipandang lebih aman dan menguntungkan dari segi lingkungan. Agensia hayati yang
umumnya digunakan adalah golongan jamur, karena mempunyai sifat merusak,
mampu diproduksi secara masal dan dapat diformula langsung, serta dapat
diaplikasikanpada tumbuhan secara langsung (Mohamad Taufik Fauzi & Murdan, 2009).
Jamur patogen gulma dapat ditemukan melalui serangkaian kegiatan eksplorasi dan
identifikasi baik di lapangan maupun laboratorium.
Beberapa jamur yang sudah digunakan sebagai mycoherbicide adalah
Phytophthora palmivora (Butl.) Butl. dan Colletotrichum gleosporioides(Penz.)Sacc.
f.sp. aeschynomen (Te Beest, Yang, & Cisar, 1992). Berdasarkan hal tersebut, maka
dilakukan penelitian eksplorasi dan uji virulensi jamur patogen gulma daun sempit
pada tanaman tebu dengan tujuan mengetahui jenis jamur patogen penyebab penyakit
gulma daunsempit pada perkebunan tebu,mengetahui virulensi jamur patogen terhadap
gulma daun sempit pada perkebunan tebu, dan terhadap tanaman budidaya.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan
Rumah Kaca, Fakultas Pertanian,Universitas Jenderal Soedirman dari Oktober 2019
sampai Agustus 2020. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu eksplorasi dan
identifikasi serta uji virulensi pada gulma daun sempit alang-alang (Imperata
cylindrica), teki ladang (Cyperus kyllingia), rumput teki (Cyeperus rotundus), jampang
Vol. 1, No. 1, Juli 2019
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
20
http://matriks.greenvest.co.id
(Eleusine indica), rumput kebo (Digitaria ciliaris), tanaman budidaya padi (Oryza sativa),
jagung (Zea mays) dan tebu (Sacharum officinarum L.). Penelitian ini menggunakan
rancangan lingkungan rancanganacak petak terbagi (split plot), dengan petak utama
jamur patogen gulma dengan petak anak gulma/tanaman budidaya. Pengambilan sampel
gulma daun sempit dilaksanakandi lahan perkebunan tebu milik warga di daerah
Kabupaten Pemalang dengan metode purposive random sampling dengan menetapkan
tiga titik pengambilan pada kebun tebu. Identifikasi gejala di lapangan dilakukan
dengan cara pengamatan seksama terhadap gejala yang ditimbulkan oleh jamur
patogen pada gulma daun sempitdengan serangan lebih dari 50%
(Sastrahidayat, 2016). Jamur patogen ditumbuhkan langsung pada medium PDA dan
dilakukan identifikasi, dengan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis
(Sholihah, Sritamin, & Wijaya, 2019).
Pengamatan makroskopis dengan mengamati secara visual jamur yang tumbuh
dalam hal bentuk koloni, warna koloni permukaan atas, warna koloni permukaan
bawah, bentuk permukaan koloni, dan bentuk tepi koloni. Pengamatan mikroskopis
dilakukan dengan mengambil jamur yang telah direisolasi menggunakan jarum,
diletakkan pada gelas benda yang sebelumnya ditetesi air steril, kemudian ditutup
dengan cover glass dan diamati di bawah mikroskop, kemudian dicocokan dengan
beberapa pustaka, seperti (Watanabe, 2010). Setelah jamur patogen gulma diperoleh
dilakukan uji Postulat Kochpada gulma berdaun sempit sehat dengan cara daun
gulma ditusuk hingga menembus sisi lain dari titik tusuk dengan luas kurang lebih
5 mm menyesuaikan dengan diameter bor gabus menggunakan jarum preparat steril,
kemudian isolat jamur patogen di bor gabus lalu ditempelkan di permukan bawah
daun gulma berdaun sempit yang sehat kemudian dibungkus dan diberi label. Lalu
diamati hingga muncul gejala dan pastikan kembali bahwa penyebabnya adalah jamur
patogen yang sama (Sudirga, 2016).
Jamur yang telah uji Postulat Koch kemudian diperbanyak dan dihitung kerapatan
konidiumnya untuk kemudian dilakukan uji virulensi pada gulma dan tanaman budidaya.
Jamur patogen di aplikasikan pada bagian bawah daun gulma dan tanaman
budidaya,penyemprotan dilakukan pada lokasi terpisah dengan unit percobaan lain untuk
setiap perlakuannya, untuk menghindari kontaminasi silang pada unit yang lainnya.
Tanaman dan gulma yang telah diaplikasikan jamur patogen diamati hingga gejala yang
sama muncul.
Variabel yang diamati meliputi masa inkubasi, intensitas penyakit, area under
diseases progress curve (AUDPC), bobot tanaman basah, dan bobot tanaman kering.
Masa inkubasi dihitung sejak inokulasi patogen hingga gejala penyakit pada gulma dan
tanaman pertama kali muncul, dengan satuan hari setelah inkubasi. Intensitas serangan
patogen dapat dihitung dengan rumus (Prabaningrum & Moekasan, 2016):
Keterangan:
P= Intensitas penyakit
𝑃 =
∑(𝑛𝑥𝑣)
𝑁𝑥𝑍
𝑥 100%
v Nilai (skor) inensitas penyakit berdasarkan luas daun seluruh tanaman yang
terserang( Prabaningrum dan Moekasan, 2014), yaitu:
0= tidaka da kerusakan sama sekali
1= luas kerusakan tanaman >0- ≤10%
2= luas kerusakan tanaman 10- ≤20%
3= luas kerusakan tanaman 20-≤40%
4= luas kerusakan tanaman 40≤60%
Eksplorasi dan Uji Virulensi Jamur Patogen Gulma Daun
Sempit di Pertanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.)
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
21
a
b
5= luas kerusakan tanaman >60%
n= jumlah tanaman yang memiliki nilai v (kerusakan tanaman) yang sama
Z= nilai (skor) tertinggi (v=5)
N= jumlah tanaman yang diamati
AUDPC dihitung menggunakan menggunakan integrasi metode trapezoid (Hanudin
et al., 2011), dengan rumus sebagai berikut:
𝑛−1
Keterangan:
𝐴𝑈𝐷𝑃𝐶 =
|(
i
𝑌
i+1
+ 𝑌
i
2
)| 𝑡
i+1
𝑡
i
Y
i+1
= Data pengamatan ke-i+1
Y
i
= Data pengamatan ke-i
t
i+1
=Waktu Pengamatan ke-i+1
t
i
= Waktu pengamatan ke-i
n = Jumlah total pengamatan
Tanaman yang telah selesai diamati kemudian ditimbang untuk memperoleh nilai
bobot tanaman segar. Tanaman yang sudah ditimang kemudian dikeringkan untuk
memperoleh nilai bobot kering tanaman. Proses ini dilakukan dengan menyimpan
seluruh bagian tanaman dalam oven dengan suhu 70
o
C dengan waktu 48 jam (Sianipar,
Jaya, & Sinaga, 2020). Data yang di peroleh dianalisis dengan uji F, apabila berbeda
nyata dilanjutkan dengan duncan multiple range test (DMRT) pada taraf 5%.
Hasil dan Pembahasan
Eksplorasi dan identifkasi jamur patogen gulma daun sempit memperoleh hasil
Curvularia lunata dan Fusarium oxysporum (Gambar 1-4), sebagai kandidat untuk uji
virulensi. Jamur yang telah diperoleh sebelum memasuki tahap uji virulensi, jamur diuji
postulat Koch terlebih dahulu. dengan menginfeksikan jamur pada gulma asal. Jamur
yang telah melalui postulat Koch, kemdudian diperbanyak untuk keperluan uji virulensi.
Uji virulensi C. lunata dan F. oxysporum dilakukan dengan menyemprotkan suspensi
jamur pada gulma sebanyak 20 ml dengan kerapatan konidium masing-masing sebanyak
5 x 10
6
dan 3,5 x 10
6
spora/ml.
Gambar 1. Jamur Curvularia lunata hasil eksplorasi. Keterangan: a) koloni jamur pada
medium PDA, b) konidium pada perbesaran 400x (Sumber: Dokumentasi
Pribadi).
Vol. 1, No. 1, Juli 2019
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
22
http://matriks.greenvest.co.id
a
b
Gambar 2. Jamur Curvularia lunata.Keterangan:a-b) Koloni jamur Curvularia lunata
pada medium OA dan PCA c-h) konidium dan konidiofor, i) klamidospora
(Madrid et al., 2014).
Gambar 3. Koloni jamurFusarium oxysporum. Keterangan:a) koloni pada medium PDA
(Sumber: Dokuentasi Pribadi), b) Padamedium PDA (Selvi, K. &
Sivakumar, 2012).
Gambar 4. Kenampakan mikroskopis Fusarium oxysporumKeterangan:.a) Fusarium
oxsporum asal hutan mangrove (Selvi, K. & Sivakumar, 2012), b)
Fusarium oxsporum asal gulma Imperata cyliandica, perbesaran 400
(Sumber Dokumentasi Pribadi)
.
a
b
a
b
c
d
e
g
h
i
f
Eksplorasi dan Uji Virulensi Jamur Patogen Gulma Daun
Sempit di Pertanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.)
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
23
Tabel 1. Tabel komponen pertumbuhan dan patosistem dari uji virulensi jamur patogen
gulma daun sempit terhdap gulma daun sempit
Kombinasi Perlakuan
Masa
Inkubasi
IP (%)
AUDPC
Bobot
GulmaSegar
Bobot
Gulma
Kering
Kontrol
21 a
1,26 a
1,31 a
1,51 a
0,92 a
Curvularia lunata
14,02 b
1,46 b
1,66 b
1,54 a
0,98 b
Fusarium oxysporum
11,73 c
1,44 b
1,71 b
1,51 a
0,94 ab
Imperata cyliandrica
18,14 a
1,29 a
1,47 a
1,72 d
0,69 a
Cyperuskyllingia
17,63 a
1,32 b
1,46 a
1,47 b
1,07 d
Cyperus rotundus
14,81b
1,46 d
1,56 b
1,43 b
1,01 c
Eleusine indica
14,33b
1,45 d
1,68 c
1,64 c
0,79 b
Digitaria ciliaris
13c
1,42 c
1,61 bc
1,34 a
1,17 e
Kontrol x I. Cyliandrica
21a
1,26 a
1, 41 b
1,67 fg
0,72 bc
Kontrol x C. Kyllingia
21a
1,26 a
1,26 a
1,43 cd
1,07 h
Kontrol x C. Rotundus
21a
1,26 a
1,26 a
1,44cd
0,92 f
Kontrol x E. Indica
21a
1,26 a
1,26 a
1,63 f
0,76 cd
Kontrol x D. Ciliaris
21a
1,26 a
1,26 a
1,36 b
1,14 i
C. lunata x I. Cyliandrica
19,44 b
1,28 a
1,26 a
1,71 g
0,71 b
C. lunata x C. Kyllingia
15,22 b
1,37 c
1,58 c
1,49 e
1,07 h
C. lunata x C. Rotundus
12,44f
1,65 g
1,84 e
1,43 cd
1,10 hi
C. lunata x E. indica
12,67f
1,56 f
1,93 e
1,65 f
0,82 e
C. lunata x D. ciliaris
10,33h
1,45 d
1,69 d
1,39 bc
1,18 j
F. oxysporum x I.
Cyliandrica
14 e
1,35 b
1,66 d
1,79 h
0,65 a
F. oxysporum x C. Kyllingia
16,67c
1,34 b
1,55 bc
1.48 de
1,06 h
F. oxysporum x C. Rotundus
11 g
1,46 d
1,58 c
1,40 bc
1,01 g
F. oxysporum x E. indica
9,33 i
1,51 e
1,86 e
1,64 f
0,78 de
F. oxysporum x D. ciliaris
7,67 j
1,52 e
1,89 e
1,27 a
1,20 j
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
berbeda nyata pada DMRT dengan taraf 5%.
F. oxysporum menunjukkan gejala lebih cepat ya itu pada kisaran 11,73 hari
dibandingkan C. lunata yang 14,002 hari (Tabel 1). Proses inkubasi dari jamur patogen
sangat dipengaruhi oleh komponen inang, lingkungan, dan kondisi dari patogennya.
Ketiga komponen ini menjadi penentu sukses tidaknya infeksi (Pilli, Kumar, &
Pilaka, 2016). Berdasarkan dari penelitian (M T Fauzi, 2009), jika komponen inang dan
lingkungan menguntungkan bagi patogen, maka virulensi akan meningkat dan
menimbulkan gejala lebih awal. Menurut (Nandhini, Ganesh, Yoganathan, & Kumar,
2019), masa inkubasi menjadi parameter mengenai adaptif tidaknya jamur patogen
terhdap lingkungan.
Perlakuan jamur C. lunata pada gulma C. rotundus menunjukkan intensitas yang
paling besar di antara gulma yang lain, dan perlakuan F. oxysporum dengan intensitas
22,5714% bahkan mampu menimbulkan kematian pada gulma C. rotundus. Sementara
perlakuan jamur F. oxysporum menunjukkan intensitas lebih besar pada gulma D. Ciliaris
dengan kisaran 6,116%. Perkembangan jamur patogen gulma pada gulma menujukkan
tanggapan berbeda oleh setiap gulma.
Vol. 1, No. 1, Juli 2019
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
24
http://matriks.greenvest.co.id
Perkembangan Penyakit
Curvularia lunata terhadap Gulma
50
40
30
20
10
0
1 2 3 4 5 6 7
Pengamatan
D.ciliaris
E.indica
C.rotundus
C.kyllingia
Imperata cyliandrica
Gambar 5. Pola perkembangan penyakit Curvularia lunata terhadap gulma.
Perkembangan Penyakit
Fusarium oxysporum terhadap Gulma
30
25
20
15
10
5
0
1 2 3 4 5 6 7
Pengamatan
D.ciliaris
E.indica
C.rotundus
C.kyllingia
I.cyliandica
Gambar 6. Pola perkembangan penyakit Fusarium oxysporum terhadap gulma.
Perkembangan penyakit terparah terjadi pada gulma C. rotundus yang diaplikasi C.
lunata. Sementara aplikasi F. oxysporum sangat memengaruhi D. ciliaris dan E. indica
(Gambar 5 dan 6). Besar kecilnya dampak yang ditimbulkan oleh jamur patogen
berkaitan dengan mekanisme hipersensitif tanaman, yang merupakan salah satu bentuk
pertahanan tanaman terhadap patogen dengan membuat jaringan sekitar bagian terinfeksi
mengering. Penelitian (Sneideris, Ivanauskas, Suproniene, Kadziene, & Sakalauskas,
2019) menerangkan bahwa kondisi genetika dari patogen juga dapat menjadi petunjuk
variasi keganasan, kecepatan tumbuh dan racun yang dihasilkan. Berdasarkan gambar
perkembangan penyakit (Gambar 5-6), area yang paling luas merupakan petunjuk
berhasilnya jamur menginfeksi gulma dan menjadi pertanda kerusakan semakin besar,
sesuai dengan penelitian (Milati & Nuryanto, 2019) bahwa semakin parah penyakit pada
Intensitas Penyakit (%)
Intensitas Penyakit (%)
Eksplorasi dan Uji Virulensi Jamur Patogen Gulma Daun
Sempit di Pertanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.)
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
25
tanaman, maka akan berpengaruh pada ukuran dari luas area daerah di bawah kurva
perkembangan penyakit.
Hasil penelitian (Tabel 7), bahwa tanaman budidaya yang diaplikasi oleh jamur
patogen gulma tidak terpengaruh karena tidak munculnya gejala selama penelitian
berlangsung. Kondisi ini terlihat dari nilai intensitas penyakit 0%, dan hal ini berpengaruh
pada variabel lain yaitu AUPDC yang nilainya terpengaruh oleh nilai intensitas penyakit.
Tidak adanya kerusakan artinya kurva perkembangan penyakit tidak dapat terbentuk.
Masa inkubasi jamur patogen gulma tidak memberikan pengaruh dari awal aplikasi
hingga aplikasi terakhir. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan asal-usul jamur patogan
gulma dapat menjadi petunjuk mengenai spesifikasi inang dan virulensi jamur.
Tabel 2. Tabel komponen pertumbuhan dan patosistem dari uji virulensi jamur patogen
gulma daun sempit terhdap tanaman budidaya
Kombinasi Perlakuan
Masa
Inkubasi
IP(%)
AUDPC
Bobot
Tanaman
Budidaya
Segar
Bobot
Tanaman
Budidaya
Kering
Kontrol
21a
0
0
1,76 a
1,39 a
Curvularia lunata
21a
0
0
1,74 a
1,44 a
Fusarium oxysporum
21a
0
0
1,86 a
1,41 a
Oryza sativa
21a
0
0
1, 13 a
1,11 a
Zea mays
21a
0
0
1,48 b
1,18 b
Saccharum officinarum
21a
0
0
2,74 c
1,95 c
Kontrol x O. Sativa
21a
0
0
1,14 a
1,11 a
Kontrol x Z. Mays
21a
0
0
1,47 b
1,13 ab
Kontrol x S. officinarum
21a
0
0
2,66 c
1,95 de
C. lunata x O. Sativa
21a
0
0
1,14 a
1,11 a
C. lunata x Z. Mays
21a
0
0
1,52 b
1,17 b
C. lunata x S officinarum
21a
0
0
2,58 c
1, 99 e
F. oxysporum x O. Sativa
21a
0
0
1,14 a
1,10 a
F. oxysporum x Z. Mays
21a
0
0
1,46 b
1,17 b
F. oxysporum x S officinarum
21a
0
0
2,99 d
1,95 de
Keterangan: Angka yang diikuti oaleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan berbeda nyata pada DMRT dengan taraf 5%.
Tidak adanya pengaruh dari jamur patogen gulma terharap tanaman budiaya
terlihat secara statistika pada bobot tanaman segar dan kering terlihat pada notasi huruf
dibelakang yang sama untuk setiap perlakuanya. Menurut (Sutton et al., 2019), patogen
gulma memiliki kisaran inang yang spesifik.
Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini yaitu jamur patogen gulma daun
sempit yang didapat dari hasil eksplorasi pada perkebunan tebu adalah Fusarium
oxysporum dan Curvularia lunata. Fusarium oxysporum dan Curvularia lunata virulen
pada gulma ditinjau dari kenampakan gejala. Fusarium oxysporum dan Curvularia lunata
tidak virulen pada tanamn budidaya padi, tebu dan jagung, ditinjau dari kenampakan
gejala.
Bibliografi
Fauzi, M.T. 2009. Patogenesitas jamur karat (Puccinia philiphinensis Syd), pada gulma
teki (Cyperusrotundus). J. HPT Tropika, 9(2): 141-148.
Vol. 1, No. 1, Juli 2019
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
26
http://matriks.greenvest.co.id
Fauzi, M.T., Murdan, & Muthahanas.,I. 2009. Potensi jamur Fusarium sp. sebagai agen
pengendali hayati gulma eceng gondok (Eichhornia crassipes). Jurusan Budidaya
Pertanian, Fakultas Petanian, Universitas Mataram. Mataram. (Online)
https://cropagro.unram.ac.id/index.php /caj/article/view/93/76diakses pada 11 Mei
2019.
Hanudin,W., Nuryani, E. S. Y., I Djatnika & Soedarjo, M. 2011. Perbandingan teknik
inokulasi Puccinia horiana dan seleksi bakteri antagonis untuk mengendalikan
penyakit karat putih pada krisan. J.Hort, 2(2): 173-184.
Kaur, N., Bhullar,M.S.& Gill,G. 2015. Weed management optios for sugarcane-vegetable
intercropping system in north western India. Crop Protection, 74 : 18-23.
Madrid, H., Cunha, K. C da., Gené, J., Dijksterhuis, J., Cano, J., Sutton, D.A., Guarno, J.
& Crous, P.W. 2015. Novel Curvularia species from clinical specimens. Persoonia,
33: 48-60.
Marin-Felix, Y., Hernández-Restrepo, M., Wingfield, M.J., Akulov, A., Carnegie, A.J.,
Cheewangkoon, R., Gramaje, D., Groenewald, J.Z., Guarnaccia, V., Halleen, F.,
Lombard, L., Luangsa-ard, J., Marincowitz, S., Moslemi, A., Mosert, L.,
Quaedvileg, W., Schumacher, R.K., Spies, C.F.J.,Thangavel, R., Taylor, P.W.J.,
Wilson, A.M., Wingfield, B.D., Wood A.R.&Crous, P.W. Genera of
phytopatogenic fungi : GOPHY 2. (Online) https:// doi.org/10.1016/
j.simyco.2018.04.002. diakses 11 Mei 2019.
Martin-Felix, Y., Groenewald, J.Z. , Cai, L., Chen, Q., Marincowitz, S., Barnes, I.,
Bensch, K., Braun, U., Camporesi, E., Damm, U., de Beer, Z.W., Dissanayake, A.,
Edwards, A., Giraldo, A., Hernández-Restrepo, M., Hyde, K.D.,Jayawardena,
R.S., Lombard, L., Luangsa-ard, J., McTaggart, A.R., Rossman, A.Y., Sandovai-
Denis, M.. Shen, M.,Shivas, R.G., Tan, Y.P., van der Linde, E.J., Wingfield, M.J.,
Wood, A.R., Zhang, J.Q., Zhang, Y., & Crous, P.W. Genera of phytopatogenic
fungi : GOPHY 1. (Online) 10.1016/j.simyco.2017.04.002. diakses 11 Mei 2019.
Milati, L.N. & Nuryanto B. 2019. Periode kritis pertumbuhan tanaman padi terhadap
infeksi penyakit hawar pelepah dan pengaruhnya terhadap hasil gabah. Penelitian
Pertanian Tanaman Pangan. 3(2):61-66.
Nandhini, C., Ganesh, P., Yoganathan, K. & Kumar, D. 2019. Efficacy of
Colletotrichumgleosporioides, potential fungi for bio control of Echinochloa crus-
gali (Barmyard grass). Journal of Drug Delivery and Therapeutics, 9(6):72-75.
Pili, G.G., Kumar, P.K.R. &Pilaka, B. 2016. Selection of some fungal pathogens for
biological control of Trianthemaportulacastrum L., a common weed of vegetable
crops. Journal of Applied Biology & Biotechnology, 4(4): 90-96.
Prabaningrum, L., & Moekasan,T. K. 2014.Pengelolaan organisme pengganggu
tumbuhan utama pada budidaya cabai merah di dataran tinggi. Jurnal Hortikultura,
24(2): 179- 188.
Raharjo, E.B., Tyasmoro,S.Y.& Sebayang, H.T. 2017. Pengaruh pengendalian gulma
pada pertumbuhan vegetatif dua jenis bibit tanaman tebu (Saccharum officinarum
L.). Jurnal Produksi Tanaman, 5(4) : 641-646.
Selvi, K. & Sivakumar, T. 2012. Isolation and characterization of silver nano particles
from Fusarium oxysporum. International Journal of Current Microbiology and
Apllied Sciences, 1(1): 56-62.
Setyawati, I. K. & Wibowo, R. 2019. Efisiensi teknis produksi usaha tani tebu plant cane
dan tebu atoon cane.JSEP, 12(1): 80-88.
Sianipar, H.F., Sijabat, A. & Pane, E.P. 2019. Pengaruh pemberian berbagai tingkat
mikoriza arbuskula pada tanah terakumulasi logam Pb terhadap pertumbuhan
tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi). Jurnal Biosains, 5(2): 53-58.
Eksplorasi dan Uji Virulensi Jamur Patogen Gulma Daun
Sempit di Pertanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.)
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
27
Sneideris, D., Ivanauskas, A., Suproniene, S., Kadziene, G.& Sakalauskas, S. 2018.
Genetic diversity of Fusarium graminearum isolated from weeds. Eur J Plant
Pathol (Online) https://doi.org/10.1007/s10658-018-1543-3 diakses 21 September
2020.
Soesanto, L., Mugiastuti, E.& Manan, A. 2017. Identifikasi cendawan patogen gula
berdaun lebar dan uji virulensi terhadap gulma berdaun lebar.284-296. Dalam : A.
Khaernui R., M. Tufaila, Muhidin,G.A.K. Sutartiati, Rahayu, L.O.S. Bande,
Gusnawaty H.S., S.H. Hidayat, Baharuddin, A. Rosmana, T. Kuwinanti, I.S. Budi,
Lisnawita, R. Sriwati (eds.) September 2018.Prosiding Seminar Nasional dan
Kongres Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto.
Sudriga, S.K. 2016. Isolasi dan identifikasi jamur Colletotrichum spp. isolat PCS
penyebab penyakit antraknosa pada buah cabai besar (Capsicum annum L.) di Bali.
Jurnal Metamorfosa. 3(1) : 23-30.
Sukmadjaja,D.&Mulyana,A. 2011. Regenerasi dan pertumbuhan beberapa varietas tebu
(Saccharum officinarum L.) secarain vitro. JurnalAgroBiogen, 7(2): 106-118.
Sutton, G. F., Canavan, K., Day, M. D., den Breeyen, A., Goolsby, J. A., Cristofaro, M.,
& Paterson, I. D. 2019. Grasses as suitable targets for classical weed biological
control. BioControl.(Onilne) doi:10.1007/s10526-019-09968-8, access at
September 5
th
2020.
Te Beest, D.O., Yang,X.B. &Cisar,C.R. 1992. The status of biological control of weed
with fungal pathogens. Annual Reviews Phytopatology. 30 :637-657.
Watanabe, T. 2010. Pictorial Atlas of Soil and Seed Fungi: Morphologies of Cultured
Fungi and Key to Spesies Thrid Edition. CRC Press. United States of America.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License.