Vol. 1, No. 2, Januari 2020
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
78
http://matriks.greenvest.co.id
PENERAPAN METODE PEMBIASAAN PADA KOMPETENSI DASAR
MENJELASKAN KETENTUAN SALAT BERJEMAAH DI MTs
ASYROFUDDIN CONGGEANG SUMEDANG
Labisal Fitri Al Qolbi
SMK Syntax Business School Cirebon Jawa Barat, Indonesia
Diterima:
6 Oktober 2019
Direvisi:
8 November
2019
Disetujui:
6 Desember
2019
Abstrak
Penelitian ini bertolak pada kegiatan yang menjadi sebuah kewajiban
selaku hamba Allah yang senantiasa diperintahkan untuk
mengerjakannya. Penelitian ini berasumsi terhadap penerapan
metode pembiasaan dalam melaksanakan salat berjemaah dengan
harapan dapat memberikan sebuah kemudahan kepada para peserta
didik guna memahami ketentuan-ketentuan tentang salat berjemaah
tersebut. Karakteristik seseorang bisa dirubah dengan terbiasanya
melakukan kegiatan yang menjadi tujuan, seperti halnya salat
berjemaah. Lebih terbiasanya siswa dalam melaksanakan salat
berjemaah maka karakteristik cenderung lebih disiplin membagi
waktu dalam kegiatan sehari-hari. Kesimpulan yang diperoleh dari
penelitian ini adalah dengan menggunakan metode pembiasaan ini
dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang ketentuan salat
berjemaah. Dengan pemahaman yang semakin baik terhadap
ketentuan salat berjemaah maka siswa akan semakin baik dan teliti
dalam melaksanakan ibadahnya yaitu salat berjemaah dan amaliah
lainnya. Selain itu, pemahaman siswa tentang ketentuan salat
berjemaah menjadi semakin optimal dengan menggunakan metode
pembiasaan ini, terbukti dengan berkurangnya siswa yang sering
memilih saf di belakang daripada saf di depan.
Kata Kunci: Metode Pembelajaran; Salat Berjemaah; Kompetensi
Abstract
This research is based on the activity that becomes an obligation as
a servant of God who is always instructed to do it. This study
assumes the application of habituation methods in performing
congregational prayers in the hope of providing an ease to the
learners in order to understand the provisions on the congregational
prayer. The characteristics of a person can be changed by the habit
of doing activities that become the purpose, as well as prayers. More
familiarity of students in performing prayers congregation then
characteristics tend to be more disciplined dividing time in daily
activitiesThe conclusion obtained from this study is that using this
habituation method can improve students' understanding of the
provisions of congregational prayer. With a better understanding of
the provisions of congregational prayer, students will be better and
more thorough in performing their worship, namely congregational
prayers and other practices. In addition, students' understanding of
the provisions of congregational prayer becomes more optimal by
using this habituation method, as evidenced by the decrease in
students who often choose saf at the back rather than saf in front.
Keywords: Learning Methods; Pray In Congregation; Competence
Penerapan Metode Pembiasaan pada Kompetensi Dasar
Menjelaskan Ketentuan Salat Berjemaah di MTs
Asyrofuddin Conggeang Sumedang
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
79
Pendahuluan
Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai, karena lebih banyak
menonjolkan aspek nilai (Al Farisi, 2020), baik nilai ketuhanan maupun nilai
kemanusiaan, yang hendak ditanamkan atau dikembangkan ke dalam diri peserta didik
sehingga dapat melekat pada dirinya dan menjadi kepribadiannya (Nisa, 2013).
(Muhaimin, 2003) mengatakan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang
selama ini berlangsung agaknya terasa kurang terkait atau kurang concern terhadap
persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi
“makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik, untuk
selanjutnya menjadi sumber motivasi bagi peserta didik untuk bergerak, berbuat, dan
berperilaku secara konkret agamis dalam kehidupan praktisi sehari-hari.
Proses internalisasi nilai ajaran Islam menjadi sangat penting bagi peserta didik
untuk dapat mengamalkan (Sofanudin, 2015) dan mentaati ajaran dnilai-nilai agama
dalam kehidupannya, sehingga tujuan Pendidikan Agama Islam tercapai (Utomo, 2018).
Upaya dari pihak sekolah untuk dapat menginternalisasikan nilai ajaran Islam kepada diri
peserta didik menjadi sangat penting (Sulfemi, 2018), dan salah satu upaya tersebut
adalah dengan metode pembiasaan di lingkungan sekolah (Ahsanulkhaq, 2019). Metode
pembiasaan tersebut adalah dengan menciptakan suasana religius di sekolah (Ibrahim,
Sarbini, & Maulida, 2019), karena kegiatankegiatan keagamaan dan praktik-praktik
keagamaan yang dilaksanakan secara terprogram (Ibtidayah, 2016) dan rutin
(pembiasaan) diharapkan dapat mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai
ajaran Islam secara baik kepada peserta didik (Azhani, Chusniatun, & Abidin, 2017).
Metode pembiasaan tersebut juga diterapkan di MTs Asyrofuddin sebagai salah
satu upaya menginternalisasikan nilainilai ajaran Islam kepada diri peserta didik,
sehingga peserta didik dapat menghayati dan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Bentuk pembiasaan yang diterapkan di MTs Asyrofuddin salah
satunya adalah salat zuhur berjemaah. Selain itu salat duha, membaca Alquran sebelum
pelajaran dimulai, membaca doa sebelum dan sesudah belajar, berjabat tangan dan
mengucapkan salam. Pembiasaan adalah sesuatu yang dibiasakan, yaitu dengan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya
(Berlianti, Kurniawan, & Cikdin, 2020). Dengan pendekatan ini, siswa dibiasakan
mengamalkan ajaran agama, baik secara individual maupun secara kelompok dalam
kehidupan sehari-hari (Isbakhi, 2018). Metode berarti cara yang teratur dan ilmiah dalam
mencapai maksud untuk memperoleh ilmu atau cara kerja yang sistematis untuk
mempermudah suatu kegiatan dalam mencapai maksudnya (Salim & Salim, 1991).
Jadi metode pembiasaan yang dimaksud adalah suatu cara yang dilakukan oleh
pendidik dengan memberikan latihan-latihan (Khunnisaq, 2020) atau tugas-tugas kepada
siswa terhadap suatu perbuatan tertentu, agar siswa mempunyai kebiasaan yang sesuai
dengan ajaran Islam. Sebagian besar siswa dalam pelaksanaan salat berjemaah tergolong
aktif namun seringkali apa yang mereka kerjakan dalam salat kebanyakan tidak tahu atau
belum paham tentang apa yang mereka kerjakan (Rajab, 2018), seperti iktidal, doa kunut,
imam, makmum dan lain sebagianya.
Salat merupakan kegiatan fisik yang ditunjang dengan kondisi jiwa yang bersih
(Dwi, 2018). Maka mereka adalah orang-orang yang egaliter, bertauhid, dan bersatu padu
(Hidayat & Suwanto, 2020). Sungguh Rasulullah Shallallahu „Alaihi wa Sallam yang
mulia telah memotivasi kita untuk gandrung pergi ke masjid-masjid, serta selalu
konsisten dalam berjemaah. Selain itu juga kita diajarkan bahwa setiap langkah yang
diayunkan menuju masjid, menyebabkan derajat terangkat dan kesalahan terhapuskan.
Sejatinya momentum isro mikraj adalah membentuk karakter bangsa. Inti dari
peristiwa isro mikraj adalah diperintahnya kita untuk mendirikan salat dalam semua aspek
Vol. 1, No. 2, Januari 2020
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
80
http://matriks.greenvest.co.id
kehidupan. isro mikraj mendidik kita untuk menjadi manusia yang memiliki keunggulan
moral dan budi pekerti yang dibentuk melalui salat. Banyak hikmah yang dapat dipetik
dari salat (Zaini, 2015). Salat tidak hanya membentuk karakter cerdas spiritual, akan
tetapi mampu membentuk karakter cerdas emosional, sosial, dan personal.
Sesuai dengan ringkasan di atas bahwa salat dapat membentuk karakter seseorang,
hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan yaitu pembentukan karakter yang terwujud
dalam kesatuan esensial subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya.
Menurut (Foerster,1960) karakter merupakan sesuatu yang mengakualifikasikan seorang
pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu
berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.
Pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan formal, karena
bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu
pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituations) tentang hal yang baik
sehingga siswa didik menjadi paham (domain kognitif) tentang mana yang baik dan salah,
mampu merasakan (domain afektif) nilai yang baik dan mau melakukannya (domain
psikomotor) (Sumantri, 2007).
Proses pembentukan mental tersebut menunjukan keterkaitan antara pikiran,
perasaan dan tindakan. Dari akal terbentuk pola pikir, dari fisik terbentuk menjadi
perilaku. Cara berfikir menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berperilaku
menjadi karakter. Apabila hal ini terjadi terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan
(Sumantri, 2007).
Seperti kata Aristotle, karakter erat kaitannya dengan „„habit„„ atau kebiasaan yang
terus menerus diparaktekan dan dilakukan. Sejalan dengan hal ini Penerapan Metode
Pembiasaan bertujuan untuk membangun karakter siswa/i MTs Asyrofuddin Cipicung
Conggeang Sumedang menjadi insan yang cerdas spritual, cerdas emosional, cerdas
sosial dan cerdas personal. Hal ini dilakukan berulang kali dalam sehari, dimana seorang
siswa merasakan betapa pentingnya bersama-sama dengan ikhwan dalam menunaikan
syiar agama mereka.
Fenomena yang terjadi adalah kebanyakan siswa lebih memilih saf disamping dan
belakang dengan dalih supaya tidak gerah dan apabila batal di tengah salat tidak susah
untuk keluar dari barisan. Seringkali ada siswa yang barisannya tidak rapat dengan yang
lainya. Sebagain siswa seringkali bercanda pada saat hendak melaksanakan salat
berjemaah sehingga mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan jemaah lain. Adanya
siswa juga yang menjadi makmum masbuk kemudian mengejar gerakan imam yang
dalam aturan sudah tidak boleh dikejar.
Seringkali terjadi siswa yang lebih memilih saf disamping dan belakang dengan
dalih supaya tidak gerah dan apabila batal di tengah salat tidak susah untuk keluar dari
barisan. Seringkali juga ada siswa yang barisannya tidak rapat dengan yang lainya. Siswa
seringkali bercanda pada saat hendak melaksanakan salat berjemaah sehingga
mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan jemaah lain.
Dalam keadaan masbuk, sebagaian siswa ada yang datang pada saat posisi imam
dalam keadaan duduk tasyahud awal, maka siswa tersebut mulai salat dengan gerakan
yang tertib seperti biasa sendiri dalam artian mengejar gerakan imam sehingga imam
sudah berdiri maka ia pun sudah berdiri dan siswa pun menghitung sudah dapat rakaat
seperti halnya imam.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini ialah metode deskriptif.
Sedangkan jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini mencakup data kuantitatif yang
merupakan data pokok dan data kualitatif yang merupakan data tambahan (Arikunto,
Penerapan Metode Pembiasaan pada Kompetensi Dasar
Menjelaskan Ketentuan Salat Berjemaah di MTs
Asyrofuddin Conggeang Sumedang
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
81
1998). Data kuantitatif meliputi data tentang jumlah guru, siswa, dan jumlah sarana.
Sedangkan jenis data kualitatif meliputi data tentang pemahaman siswa terhadap
ketentuan salat berjemaah.
Penelitian ini dilakukan di kelas VII MTs Asyrofuddin Cipicung Pesantren
Conggeang Sumedang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII MTs
Asyrofuddin yang berjumlah 24 orang. Sedangkan sampel adalah wakil dari populasi
yang akan diteliti (Arikunto, 1998). Besar atau banyaknya sampel yang ditarik
berpedoman pada prinsip yang menyatakan apabila subjeknya kurang dari 100 orang
lebih baik diambil semua sehingga penelitianya merupakan penelitian populasi.
Selanjutnya jika subjeknya lebih besar dari 100 dapat diambil 10 - 15% atau 20% - 25%
atau lebih (Arikunto, 1998).
Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, angket, tes dan studi
kepustakaan. Dari data yang terkumpul berupa data-data kuantitatif dianalisis dengan
menggunakan analisis statistik.
Hasil dan Pembahasan
A.
Kondisi Objektif Lokasi Penelitian
a)
Sejarah Berdirinya MTs Asyrofuddin
MTs Asyrofuddin berkedudukan di Dusun Cipicung desa Conggeang Wetan
Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang-Jawa Barat. Dusun Cipicung merupakan
satu wilayah dusun di wilayah desa Conggeang Wetan Kecamatan Conggeang yang
memiliki Pondok Pesantren yaitu Ponpes Asyrofuddin dan merupakan kawasan
pendidikan di Kabupaten Sumedang, yang dimana di lingkungan dusun Cipicung terdapat
lembaga pendidikan dari mulai TK/RA, MTs, MA, dan SMK serta Perguruan Tinggi
(STAI) yang dinaungi oleh Yayasan yaitu Yayasan Ardli Sela.
MTs Asyrofuddin ini didirikaan pada tahun 1970. Madrasah ini didirikan atas
prakarsa masyarakat dan tokoh pendiri Yayasan karena melihat banyaknya warga jemaah,
sementara ingin menampung dalam satu sekolah. Dalam arti banyak anak-anak dari
warga jamaah yang lulus SD/MI sementara di daerah tersebut belum terdapat SLTP
maupun MTs, maka pada tahun 1970 atas swadaya tokoh pendiri dan masyarakat seluruh
jamaah didirikanlah Madrasah Sanawiah (MTs.).
Latar belakang berdirinya MTs Asyrofuddin desa Conggeang Wetan Kecamatan
Conggeang Kabupaten Sumedang ini, dilandasi oleh rasa tanggung jawab terhadap
pendidikan yang semakin meningkat keberadaannya. Hal ini mengingat di desa ini hanya
ada satu SMP begitupun jaraknya jauh sekali. Jadi banyak yang bisa menampung lulusan
dari SD/MI.
Dalam rangka pemerataan pendidikan nak yang berkualitas tinggi serta untuk
memajukan kecerdasan anak bangsa dalam berbagai ilmu pengetahuan baik umum
terutama sekali dalam bidang agama maupun kejuruan yang dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari maka dengan didirikannya MTs Asyrofuddin, dusun Cipicung desa
Conggeang Wetan Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang merupakan wujud nyata
dari cita-cita pendidikan di desa setempat.
Pimpinan Madrasah yang pernah bertugas di MTs Asyrofuddin sejak awal
berdirinya (1970 ) adalah :
1)
K.H.R. Endang Bukhori tahun 1970 1981
2)
H. Sahlam Basri tahun 1981 1989
3)
H. Edi Djunaedi tahun 1989 2007
4)
Abdurohman, S.Pd.I tahun 2007 sekarang
Vol. 1, No. 2, Januari 2020
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
82
http://matriks.greenvest.co.id
b)
Letak Geografis dan Astronomis MTs Asyrofuddin
Secara administratif MTs Asyrofuddin terletak di desa Conggeang Wetan
Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang.
Di sebelah barat : Berbatasan dengan desa Conggeang Wetan
Di sebelah timur : Berbatasan dengan desa Cacaban
Di sebelah utara : Berbatasan dengan desa Cacaban
Di sebelah selatan: Berbatasan dengan desa Conggeang Wetan
Letak astronomis kabupaten Sumedang adalah 107˚14‟-108˚21‟ Bujur Timur dan
60˚40‟-70˚83‟ Lintang Selatan.
c)
Lingkungan MTs Asyrofuddin
Keberadaan lingkungan fisik dan sosial sekolah menjadi bahan pertimbangan
dalam proses pembelajaran. Karena lingkungan fisik maupun sosial sedikit banyak
mempengaruhi karakter dan kepribadian siswa, guru dan proses pendidikan. Tanah
Madrasah sepenuhnya milik wakaf. Luas areal seliruhnya 1.200 m
2
. Luas lahan yang
belum digunakan adalah 1.000 m
2
.
Keadaan tanah MTs Asyrofuddin
Status : Hak Guna Pakai
Luas Tanah : 1200 m
2
Luas Bangunan : 216 m
2
Belum digunakan : 1000 m
2
Keadaan Gedung MTs Asyrofuddin
Ruang Kepala Madrasah
: 1
baik
Ruang Tata Usaha
: 1
baik
Ruang Guru
: 1
baik
Ruang Kelas
: 9
baik
Ruang Perpustakaan
: 1
baik
Mesjid
: 1
baik
Ruang OSIS
: 1
baik
Lapangan Olahraga
: 1
baik
Ruang Lab. Komputer
: 2
baik
d)
Keadaan Guru, Siswa dan Sarananya
1)
Keadaan Guru di MTs Asyrofuddin
Guru sebagai sumber daya manusia merupakan pelaksana dari setiap program
kegiatan yang ada di sekolah. Keadaan guru di MTs Asyrofuddin dapat dilihat pada tabel-
tabel berikut ini.
Tabel 1. Nama Guru Dan Pembagian Tugas Mengajar Semester Genap Tahun Pelajaran
2011/2012 Mts Asyrofuddin
No.
Nama
L
/
P
Tugas
Mengajar
Kelas
Jumlah
Jam
1
Abdurohman, S.Pd.I
L
Kep.MTs/ BP
9
2
E. Maemunah
P
A.Akhlak/Fikih
9 Pa Pi
24
3
Ai Inayah, S.Pd.I
P
Qurdist
9 Pa Pi
6
4
Yeyu Forida, S.Pd.I
P
Bahasa Indonesia
8Pa Pi, 9Pa Pi
20
5
Aripin Wahyudin, S.Pd.I
L
Penjaskes
7Pa Pi,8Pa Pi, 9Pa
Pi
12
6
Endang Supriadi, S.Pd.I
L
IPA/ Pend.Seni
7Pa Pi,8Pa Pi, 9Pa
Pi
24
Penerapan Metode Pembiasaan pada Kompetensi Dasar
Menjelaskan Ketentuan Salat Berjemaah di MTs
Asyrofuddin Conggeang Sumedang
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
83
7
K.R.Ucu Ali M.
L
Qurdist/ Fikih
7Pa Pi, 8Pa Pi
24
8
Ani Ilmalasari, S.Pd,M.Pd.I
P
Matematika
7Pa A, 8Pa Pi, 9Pa
Pi
24
9
Yanti Giarti, S.Pd
P
B.Inggris/ Mulok
7Pa Pi, 9Pa Pi, 8Pi
24
10
Piping Restinal
P
SKI/ B.Sunda
8pa Pi, 9Pa B, 9Pi
10
11
Ade Yulianingsih, S.Pd
P
IPA/ Matematika
7Pa Pi, 9Pa Pi
24
12
Hannyfah, S.Pd
P
IPA
7Pa Pi
16
13
Ganjar Hirjata, S.Pd
L
PKn
7Pa Pi, 8Pa Pi
12
14
Lilis Nurmala, S.Pd
P
B.Inggris/ Mulok
8Pa Pi
12
15
Alis Sutriayuningsih, S.Pd
P
IPS
9Pa Pi
16
16
Euis Heri K, S.Pd
P
B.Sunda
7 Pa Pi
8
17
Yeni Suryani, S.Ag
L
Pkn/ IPS
7Pa A/B, 9Pa Pi
10
18
Lia Ghina Amalia, S.Pd
P
B.Inggris
7Pi
8
19
Iyang Yana S, S.Pd
L
PLH
7Pa Pi
9
20
Irfan Suryana,
L
Pend.Seni/
Mulok
7Pa A/B, 9 Pi
10
21
Ema Susanti, S.Pd
P
IPS/TIK
7Pi/ 9Pa Pi
14
22
Wasikin, S.Pd
L
SKI
7Pa,8Pa,9Pa
12
23
Ade Ina Layinah, S.Pd.I
P
SKI/B.Arab
7Pa Pi
20
24
Dedah Nur Fatimah, S.Ag
P
IPS
8PA Pi
8
Tabel 2. Kepala Sekolah dan Guru Menurut Status Kepegawaian Jabatan, Golongan dan
Jenis Kelamin
Kepala Sekolah
dan Guru Tetap
Guru Tidak
Tetap
Jumlah
Jabatan
Gol III Gol IV BPNS
Guru
Bantu
L P L P L P L P L P L+P
Tetap
Tidak
Tetap
Kepala Sekolah 1 1 1
Guru PNS
Guru PNS Depag 1 1 1
Guru Bantu Pusat
Guru Bantu Daerah
Guru Tidak Tetap 9 16 9 16 25
Jumlah 1 1 9 16 9 16 27
Tabel 3. Kepala Sekolah dan Guru Menurut Umur dan Masa Kerja Seluruhnya
Status
Pegaw
ai
Umur (tahun)
Masa Kerja Seluruhnya (tahun)
Jabatan
20-
29
30-
39
40-
49
50-
59
<5
5
-
9
10-14
15-
19
20-24
>24
Tetap
Kepala
1
1
Vol. 1, No. 2, Januari 2020
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
82
84
http://matriks.greenvest.co.id
Sekolah
Guru PNS
Guru PNS
Depag
1
1
Guru Bantu
Pusat
Tidak
Tetap
Guru Bantu
Daerah
Guru Tidak
Tetap
10
5
5
5
10
5
5
5
Jumla
h
10
6
6
5
10
5
5
5
Tabel 4. Keadaan Guru Menurut Ijazah Tertinggi
Ijazah Terakhir
Jumlah
Guru Tetap
Guru Tidak Tetap
S2/S3
1
S1
1
20
D3
-
-
D2/D1/SLTA
5
Jumlah
2
25
Selain guru, sumber daya manusia lainnya juga mempunyai pengaruh terhadap
berlangsungnya pendidikan adalah tata usaha. Karena tanpa tenaga administrasi suatu
sekolah akan timpang. Berikut adalah tabel tentang tenaga administrasi di MTs
Asyrofuddin.
Tabel 5. Tenaga Administrasi Menurut Jenis Pekerjaan dan Jenis Kelamin
Kepal
a
TU
Benda
hara
Petuga
s
Instala
si
Labora
n
Petugas
Perpustak
aan
Juru
Bengke
l
Juru
Ketik
Pesuru
h/
Penjag
a Sek.
Jumlah
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
L
P
2
1
-
1
-
-
1
-
-
1
-
-
-
-
1
-
4
3
Unsur penting lainnya yang menunjang kelangsungan dan pelaksaan berbagai
program di madrasah adalah komite madrasah dan pengurus yayasan. Karena komite
madrasah merupakan mitra pendidikan dalam menjembatani kebutuhan sekolah maupun
kebutuhan siswa/orang tua siswa. Dalam era transparansi dan akuntabilitas, peran komite
madrasah dan yayasan harus terlibat langsung maupun tidak langsung dalam
perencanaan, proses maupun out put pendidikan di madrasah. Adapun pengurus komite
madrasah MTs Asyrofuddin sekaligus pengurus yayasan sebagai berikut ini:
Tabel 6. Susunan Pengurus Komite Madrasah dan Yayasan Ardi Sella MTs. Asyrofuddin
No.
Nama
Jabatan
Ket.
1
Ustd. Rd. Sadad Bukhori
Pelindung (Pimp.Ponpes Asyrofuddin)
2
K. H. Rd. Abdul Azis
Pengawas I
3
K. Rd. Ucu Ali Makmur
Pengawas II
4
K. Rd. A. Abdurohman
Pembina
Penerapan Metode Pembiasaan pada Kompetensi Dasar
Menjelaskan Ketentuan Salat Berjemaah di MTs
Asyrofuddin Conggeang Sumedang
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
83
5
K.H.Rd. Anwar Sanusi
Ketua Yayasan Ardisella
6
Anhar Burry
Wakil Ketua
7
K. H. Rosyad K, B.Sc
Bendahara I
8
Ridwan Turmudzi, S.Pd.I
Bemdahara II
9
Aay Azhar Rosyad, ST
Sekretaris I
10
Lia Ghina Amalia, S.Pd
Sekretaris II
11
Ai Inayah, S.Pd.I
Anggota
12
Abdurohman, S.Pd.I
Anggota
13
B.Ubaidilah, S.Sos
Anggota
14
Fahmi Baihaqi
Anggota
15
Lilih
Anggota
16
Bella
Anggota
2)
Keadaan Siswa di MTs Asyrofuddin
Tabel 7. Keadaan Siswa Mts Asyrofuddin
Dari jumlah siswa di atas, diketahui kondisi orang tuanya sebagai berikut.
Tabel 8. Kondisi Orang Tua Siswa MTs Asyrofuddin
Pekerjaan
Jumlah (%)
PNS
17,85
TNI/POLRI
9,45
Pegawai Swasta
34,40
Petani
42,40
Wiraswasta
3,26
Lain-lain
0,50
Jumlah
100
Penghasilan per bulan (Rp)
Jumlah (%)
< 200.000
0,70
201.000 400.000
42,30
401.000 600.000
25,60
601.000 1.000.000
23,58
> 1.000.000
7.82
Jumlah
100
Labisal Fitri Al Qolbi
85
Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah Siswa
P
L
VII A Putra
-
24
24
VII A Putri
15
-
15
VII B Putri
15
-
15
VIII putra
-
23
23
VIII Putri
23
-
23
IX A Putra
-
18
18
IX B Putra
-
18
18
IX Putri
11
-
11
Jumlah
64
83
147
Vol. 1, No. 2, Januari 2020
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
86
http://matriks.greenvest.co.id
Tingkat Pendidikan
Jumlah (%)
SD/ Lebih rendah
37,53
SLTP
25,89
SLTA
29,60
Perguruan Tinggi
7,08
Jumlah
100
3)
Sarana dan Prasarana di MTs Asyrofuddin
a. Kurikulum MTs Asyrofuddin
MTs Asyrofuddin mengembangkan kurikulum sebagaimana tabel berikut ini:
Tabel 9. Komponen Kurikulum Kelas VII, VIII dan Kelas IX
Komponen
Alokasi Waktu
Kelas VII
Kelas VIII
Kelas IX
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama Islam
a. Qur‟an Hadits
2
2
2
b. Aqidah Akhlak
2
2
2
c. Fiqih
2
2
2
d. SKI
2
2
2
2. Pendidikan Kewarganegaraan
2
2
2
3. Bahasa Indonesia
4
4
4
4. Bahasa Arab
2
2
2
5. Bahasa Inggris
4
4
4
6. Matematika
4
4
4
7. IPA
4
4
4
8. IPS
4
4
4
9. Penjaskes
2
2
2
10. Pendidikan Seni
2
2
2
11. TIK
2
2
2
B. Mulok *)
1. Bahasa Sunda
2
2
2
2. PLH
1
1
1
C. Pengembangan Diri **)
2
2
2
1. Life Skill (Qiroat, Kaligrafi dan
Bahasa Inggris)
4
4
4
Jumlah
47
47
47
b. Sarana dan Prasarana MTs Asyrofuddin
Sarana dan prasarana MTs Asyrofuddin ditunjukkan sebagaimana tabel berikut:
Tabel 10. Sarana dan Prasarana MTs. Asyrofuddin
No.
Ruang
Jumlah
Luas (m
2
)
Kondisi
Baik
Rusak
1
Kelas
9
1152
Baik
2
Laboratorium
1
144
Baik
3
LAB. Bahasa
-
-
-
4
Perpustakaan
1
120
Baik
5
Kepala Sekolah
1
36
Baik
6
Guru
1
120
Baik
7
Aula
-
-
-
8
Tata Usaha
1
64
Baik
Penerapan Metode Pembiasaan pada Kompetensi Dasar
Menjelaskan Ketentuan Salat Berjemaah di MTs
Asyrofuddin Conggeang Sumedang
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
87
9
Wakil Kepala
2
18
Baik
10
BP/BK
1
64
Baik
11
Mushola
1
100
Baik
12
Lapangan
12
1600
Baik
13
UKS/PMR
1
12.5
Baik
14
Pramuka
1
6
Baik
15
OSIS
1
15
Baik
16
Kesenian
-
-
-
17
Koperasi
1
64
Baik
18
Paskibra
-
-
-
19
Rumah Penjaga
-
-
-
20
Komputer
2
64
Baik
21
Gudang
1
16
Baik
22
WC Kepala Sekolah
1
6
Baik
23
WC Guru
2
18
Baik
24
WC Siswa
2
36
Baik
25
Kantin
1
36
Baik
26
Ruang Piket
-
-
-
Ardisella ini dalam keadaan baik karena telah mengalami perbaikan pada tahun
2009. Di dalamnya telah tersedia aula untuk pertemuan baik rapat rutin ataupun
perjamuan untuk tamu. Makrab ini selain dipakai untuk aula pertemuan juga dipakai
praktik-praktik ibadah lain seperti pertemuan untuk manasik haji.
Tabel 11. Perlengkapan Mts Asyrofuddin
Komp
.
Mesin
Branka
s
Filling
Cabine
t
Lemar
i
Rak
Buk
u
Mej
a
Kurs
i
Keti
k
Hitun
g
Stensi
l
Fotocop
y
16
1
-
-
1
1
2
5
3
165
165
e)
Kondisi Sosial, Ekonomi, Pendidikan, Agama dan Budaya
1)
Kondisi Geografis
MTs Asyrofuddin terletak di Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang. Batas-
batas Kecamatan Conggeang yaitu sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ujung
Jaya, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Paseh, sebelah barat berbatasan
dengan Kecamatan Buahdua, dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Tomo
Luas Kecamatan Conggeang dengan rincian :
-
Persawahan seluas 441 Ha
-
Pekarangan seluas 467 Ha
-
Perkebunan seluas 2.520 Ha
-
Perhutanan seluas 4.526 Ha
-
Pengangonan seluas 380,33 Ha
B.
Realitas Metode Pembiasaan Dalam Melaksanakan Shalat Berjama’ah
Jenis kegiatan yang difokuskan dalam penelitian ini adalah salat
berjemaah dan metode pembiasaan tersebut dilaksanakan di luar kegiatan belajar
mengajar. Seluruh siswa MTs Asyrofuddin wajib mengikuti kegiatan salat
Vol. 1, No. 2, Januari 2020
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
88
http://matriks.greenvest.co.id
berjemaah hal ini sudah menjadi salah satu aturan yang wajib diikuti oleh seluruh
siswa baik laki-laki dan perempuan. 15 menit sebelum salat berjemaah dimulai
seluruh siswa harus sudah berada di dalam masjid untuk tadarus sambil
menunggu imam salat. Kegiatan ini dimaksudkan agar para siswa/santri terbiasa
melaksakan salat wajib secara berjemaah yang memang secara syariat pahalanya
lebih besar yaitu 27 derajat daripada salat sendiri (munfarid) dengan 1 derajat.
Apabila ada siswa/santri yang terlambat datang sedangkan salat sudah
dimulai dalam hal ini disebut makmum masbuk, maka diberi hukuman yaitu
dipukul dengan rotan sebanyak 2 kali pukulan per rakaat yang tertinggal. Hal ini
dimaksudkan untuk meningkatkan kedisiplinan siswa dalam membagi dan
menggunakan waktunya serta untuk siswa yang tidak mengikuti salat berjemaah
dengan imam yang pertama maka hukumanya 4 kali pukulan persalat yang
tertinggal. Hal ini sudah menjadi aturan tetap pesantren yang menaungi sekolah
dan sudah mendapat persetujuan dari orang tua siswa/santri. Namun, metode
pembiasaan ini juga bukan hanya diterapkan pada salat fardu/wajib saja, tetapi
juga diterapkan pada salat yang lainnya. seperti salat sunah, baik salat sunah yang
bisa dilaksanakan secara berjemaah juga sendiri-sendiri, seperti salat sunah duha,
tahajud, hajat, tasbih, gerhana bulan dan gerhana matahari, salat jenazah/mayat,
salat gaib, juga yang biasa dilakukan sendiri-sendiri, seperti salat sunah rawatib,
qobliyah dan ba‟diyah. Hal ini dimaksudkan agar para siswa/i/santri/wati terbiasa
melaksanakan ibadah salat sunah manakala mereka kembali ke kampung halaman
masing-masing sebagai cerminan umat rasul yang taat akan sunahnya yang
semata-mata dalam rangkaian kegiatan ibadah kepada Allah Subhanahu
Wata‟aala.
Dalam upaya mendalami keadaan variabel metode pembiasaan dalam
melaksanakan saalat berjemaah, prosedur penarikan datanya akan ditempuh
menggunakan angket yang disebarkan kepada 24 orang siswa kelas VII MTs.
Asyrofuddin. Sejumlah angket yang diajukan berstruktur disertai dengan alternatif
jawabannya. Untuk mengetahui variasi nilai yang diperoleh siswa, berdasarkan skala
penilaian yang mengacu kepada rentang nilai terendah dan nilai tertinggi. Item angket
yang disebarkan itu mempermasalahkan indikator-indikator penerapan metode
pembiasaan dalam melaksanakan salat berjemaah.
Pada pertemuan terakhir setelah diberi tes subsumatif, siswa diberi angket untuk
diisi yang, berikut hasil perhitungannya.
Tabel 12. Hasil Perhitungan Angket Pendapat Siswa
Jumlah
Rata-Rata
Kategori
92
3,54
Positif
Pada tabel di atas diperoleh rata-rata skor angket pendapat siswa terhadap
penggunaan metode pembiasaan adalah 3,54. Hal ini menunjukkan bahwa pendapat siswa
terhadap penggunaan metode pembiasaan positif sesuai dengan ketegori skala liket yang
prosesnya telah tercantum dalam lampiran. Berdasarkan hasil penghitungan di atas dapat
disimpulkan bahwa dengan metode pembiasaan siswa menjadi lebih giat melaksanakan
salat berjemaah dan metode ini cukup baik digunakan khususnya di sekolah yang latar
belakangnya berada di lingkungan pesantren.
Penerapan Metode Pembiasaan pada Kompetensi Dasar
Menjelaskan Ketentuan Salat Berjemaah di MTs
Asyrofuddin Conggeang Sumedang
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
89
C.
Realitas Pemahaman Siswa pada Ketentuan Salat Berjemaah dengan
Menggunakan Metode Pembiasaaan
Setiap kegiatan amaliah ibadah baik berupa ibadah mahdoh dan goer mahdoh
mempunyai aturan tersendiri yang biasa disebut ilmul hal, yaitu ilmu tentang ibadah itu
sendiri. Begitu juga salat , baik salat berjemaah maupun salat sendiri. Yaitu syarat sahnya
salat, rukun-rukun salat, hal yang membatalkan salat. Namun yang menjadi sorotan disini
adalah kurangnya pemahaman siswa terhadap ketentuan salat berjemaah yaitu hukum
salat berjemaah, syarat menjadi imam syarat menjadi makmum, susunan saf dalam salat
berjemaah. Dengan metode pembiasaan ini diharapkan siswa mampu terbiasa akan
ketentuan-ketentuan tersebut.
Seringkali terjadi siswa yang lebih memilih saf disamping dan belakang dengan
dalih supaya tidak gerah dan apabila batal di tengah salat tidak susah untuk keluar dari
barisan. Seringkali ada siswa yang barisannya tidak rapat dengan yang lainnya, perlu
diakui hal ini mengurangi fadlilah salat berjemaah tersebut karena sesuai dengan sabda
rasul:
“Rapatkanlah barisan (saf) salat kalian karena hal itu adalah sebagaian dari
kesempurnaan salat”.
Dengan metode pembiasaan ini siswa diarahkan mengikuti aturan tentang salat
berjemaah sesuai dengan materi pada kompetensi dasar ketentuan salat berjemaah. Hal
bertujuan untuk meningkatkan karakteristik siswa khususnya dari segi psikomotorik yaitu
pengerjaan langsung dilapangan agar menjadi insan yang benar dalam kegiatan ibadah.
Pengalaman siswa bersifat kumulatif dalam arti bahwa jika suatu pengalaman terjadi
secara jarang, maka pengalaman itu bisa memiliki pengaruh yang sedikit. Sebaliknya, jika
pengalaman tersebut terjadi dengan sering, maka pengaruhnya bisa kuat, kekal dan
bahkan semakin bertambah. Pengalaman awal juga dapat memiliki pengaruh yang
tertunda terhadap perkembangan berikutnya.
Siswa dibimbing pada saat hendak melaksanakan salat berjemaah khususnya pada
submateri pengaturan saf salat berjemaah. Untuk materi pengetian dan keutamaanya telah
diberikan dikelas. Secara terus menerus diharapakan siswa mampu memahami materi dan
mengamalkan dalam kegiatan salat berjemaah langsung. Pengalaman dapat mengalami
percepatan bila anak memiliki kesempatan untuk mempraktikan keterampilan-
keterampilan yang baru diperoleh dan ketika mereka mengalami tantangan di atas tingkat
penguasaannya. Anak akan mudah cenderung malas dan tidak termotivasi bila
dihadapkan pada kegiatan yang terlalu mudah dan tidak menantang. Sebaliknya, anak
juga akan frustasi bila dihadapkan pada kegiatan yang terlalu sulit dan membuatnya
selalu gagal (Taal et al., 2011).
Untuk mengetahui pemahaman siswa data yang diperoleh dari hasil sub sumatif
diolah dengan menggunakan perhitungan statistik yaitu uji Z. adapun hasil yang diperoleh
dari tes subsumatif dapat dilihat pada tabel distribusi frekuensi berikut.
Tabel 13. Daftar Distribusi FrekuensiHasil Subsumatif
Interval
Frekuensi (fi)
59-65
2
66-72
2
73-79
2
80-86
4
87-93
7
94-100
9
Vol. 1, No. 2, Januari 2020
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
88
90
http://matriks.greenvest.co.id
Jumlah
26
Data yang diperoleh dari hasil tes subsumatif diolah dengan langkah-langkah
sebagai berikut.
1. Menghitung rata-rata dan simpangan baku
Untuk perhitungan rata-rata dan simpangan baku dapat dilihat pada lampiran, adapun
hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 14. Hasil Perhitungan Rata-Rata dan Simpangan Baku
Subjek
Rata-Rata
Simpangan Baku
Nilai Tertinggi
Nilai
Terendah
Kelas VII
86,50
11,24
100
59
2. Menguji Normalitas
Data hasil tes subsumatif diuji normalitasnya, untuk perhitungannya dapat
dilihat pada lampiran. Adapun hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 15. Hasil Pengujian Normalitas (α= 1%)
Subjek
2
hitung
2
hitung
db
Interprestasi
Kelas VII
10,47
11,33
3
Normal
3. Perhitungan Nilai Z
Berdasarkan hasil tes subsumatif diperoleh jumlah siswa yang tuntas yaitu 24
orang dengan kriteria ketuntasan minimal yaitu 60. Jadi diperoleh x = 24 dan p = 75%.
Perhitungan z hitung dan z daftar dapat dilihat pada lampiran dan untuk hasil
perhitungannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 16. Hasil Perhitungan Nilai Z
Subjek
Z hitung
Z tabel
α
Kelas VII
2,04
2,33
1%
Dapat dilihat pada tabel 3.8 bahwa Z hitung berada diantara interval Z tabel (-2,33
sampai 2,33). Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi dasar ketentuan salat
berjemaah yang pembelajarannya menggunakan metode pembiasaan dapat dipahami
dengan baik. Berdasarkan hasil penghitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan metode pembiasaan siswa dapat lebih mudah memahami materi ketentuan
salat berjemaah. Kemudian dampak yang terjadi bisa dirasakan dengan menurunnya
angka jumlah siswa yang sering memilih saf di belakang dari pada saf paling depan hal
ini dikarenakan siswa telah mengetahui akan pahala/ganjaran bagi makmum yang salat
pada saf pertama lebih afdal dan sebaik-baiknya saf lelaki adalah paling depan.
Juga dapat dilihat dengan meningkatnya nilai ketertiban siswa pada saat hendak
melakasanakan salat berjemaah, hal ini disebabkan mereka telah mengetahui tentang cara
merapikan saf salat itu harus rapat sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“Rapikan dan rapatkanlah barisan saf kalian karena hal itu adalah sebagian dari
kesempurnaan salat”
Untuk makmum masbuk, siswa tidak lagi mengejar gerakan imam apabila sudah
lebih dari posisi ruku, tetapi siswa yang menjadi makmum masbuk langsung mengikuti
gerakan imam tanpa makmum mengerjakan dari gerakan awal salat. Contoh : imam
dalam posisi duduk antara dua sujud, maka makmum juga langsung ke posisi duduk
antara dua sujud dengan mengerjakan takbiratul ihram terlebih dahulu kemudian sebagian
surat Al-fatihah saja.
Penerapan Metode Pembiasaan pada Kompetensi Dasar
Menjelaskan Ketentuan Salat Berjemaah di MTs
Asyrofuddin Conggeang Sumedang
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
91
D.
Realitas Hubungan Antara Metode Pembiasaan dalam Melaksanakan Salat
Berjemaah dengan Pemahaman Siswa pada Ketentuan Salat Berjemaah
Setelah mengamati hasil dari analisis di atas mengenai metode pembiasaan dan
pemahaman siswa dalam kompetensi dasar ketentuan salat berjemaah, maka terdapat
hasil yang menjadi tolok ukur. Dimana bahwa dengan menggunakan metode pembiasaan
dalam melaksanakan salat berjemaah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam
memahami materi tentang ketentuan salat berjemaah. Siswa menjadi mengerti apabila
mengerjakan salat berjemaah jika hanya teradapat satu orang makmum, juga jika
makmum lebih dari satu, jika makmum lebih banyak anak-anak kecil daripada orang
dewasa, jika makmum perempuan, kemudian apabila makmum terdiri dari perempuan
dewasa dan anak. Terdapat juga aspek-aspek yang menjadi pembahasan dalam ketentuan
salat berjemaah.
Metode pembiasaan yang dilaksanakan pada kegiatan salat berjemaah baik
diterapkan karena para siswa cukup aktif dan antusias dalam melaksanakannya.
Walaupun masih ada yang tidak begitu peduli dengan pembiasaan tersebut. Dari
pembiasaan tersebut para siswa dapat menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam
diri mereka. Metode ini cukup berhasil, tetapi untuk mencapai hasil yang lebih baik
diperlukan metode lain yang mendukung, sehingga anak didik tidak hanya dibiasakan
saja tetapi dari pembiasaan yang diterapkan mereka bisa lebih memahami dan menghayati
nilai-nilai tersebut. Beberapa metode tersebut adalah nasehat, hukuman dan uswah
hasanah yang harus dijalankan secara terus-menerus dan saling melengkapi disesuaikan
dengan materi dan nilai yang hendak disampaikan.
Nilai-nilai yang muncul dan dirasakan oleh peserta didik adalah nilai-nilai
keimanan dan ketakwaan sedangkan nilai-nilai lain yang ada pada pembiasaan yang
diterapkan, yaitu nilai: ikhlas, tawakkal, disiplin, kebersihan, persaudaraan, persamaan,
dan syukur juga dirasakan tapi tidak dapat diukur sehingga hanya dapat dilihat dari
tingkah laku atau akhlak mereka. Dan nilai tersebut tumbuh dan berkembang serta dapat
terinternalisasi dari masing-masing individu tentunya berbeda, tergantung dari kefahaman
dan kesadaran melaksanakan ajaran Islam.
Namun, kondisi lingkungan dan tempat adaptasi anak pun mempengaruhi terhadap
kelangsungan pola pikir mereka, tentunya ini tergantung pada pihak orng tua siswa yang
bersangkutan, senantiasa mengawasi dan menjaga anak-anaknya dalam segala aspek
kehidupan. Anak adalah pembelajar aktif, mengambil pengalaman fisik dan sosial serta
juga pengetahuan yang ditransmisikan secara kultural untuk mengkonstruk
pemahamannya. Anak berkontribusi terhadap perkembangan belajarnya sendiri di saat dia
berupaya memaknai pengalaman sehari-harinya di rumah, sekolah, dan masyarakat. Sejak
lahir, secara aktif mereka terlibat dalam mengkontruksi pemahamannya sendiri dari
pengalamanya, dan pemahaman ini diperantarai oleh dan secara jelas terkait dengan
konteks sosiokultural (Copple & Bredekamp, 2008).
Perkembangan dan belajar merupakan hasil dari interaksi kematangan biologis dan
lingkungan yang mencakup lingkungan fisik dan sosial tempat anak-anak tinggal.
Manusia merupakan produk dari keturunan dan lingkungan, kekuatan-kekuatan ini saling
berinterelasi. Perkembangan dipandang sebagai hasil proses interaktif-transaksional
antara individu yang berkembang dengan pengalaman-pengalamannya dalam dunia sosial
dan fisik (Gestwicki, 1995).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan
metode pembiasaan ini dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang ketentuan salat
Vol. 1, No. 2, Januari 2020
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
berjemaah. Dengan pemahaman yang semakin baik terhadap kompetensi dasar ketentuan
salat berjemaah maka siswa akan semakin baik dan teliti dalam melaksanakan ibadahnya
yaitu salat berjemaah dan amaliah yang lainnya. Pemahaman siswa tentang ketentuan
salat berjemaah menjadi semakin optimal dengan menggunakan metode pembiasaan ini,
siswa sudah tidak keliru dalam mengucapkan doa dan nama doa tersebut juga dalam
pengaturan makmum juga saf salat yang menjadi aspek dari pembahasan tentang
ketentuan salat berjemaah. Dari hasil evaluasi dan sub sumatif memperlihatkan bahwa
terjadi peningkatan pemahaman siswa pada ketentuan salat berjemaah dengan
menggunakan metode pembiasaan ini. Dimana siswa belajar konsisten dan istikamah
dalam melaksanakan kegiatan tersebut yang hasilnya menjadi sebuah kegiatan yang
sudah tidak asing lagi dalam kehidupanya sehari-hari sekarang dan di masa depan yang
akan datang.
Penulis berharap dalam kegiatan belajar mengajar guru diharapkan menjadikan
metode pembiasaan sebagai suatu alternatif pada mata pelajaran untuk meningkatkan
pemahaman siswa tentang materi-materi lainya khususnya dalam mata pelajaran yang
bersifat „amaliyah. Karena metode pembiasaan sangat bermanfaat khususnya bagi guru
dan siswa, maka diharapkan metode ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam
mata pelajaran yang lain.
Bibliografi
Ahsanulkhaq, Moh. (2019). Membentuk Karakter Religius Peserta Didik Melalui Metode
Pembiasaan. Jurnal Prakarsa Paedagogia, 2(1).
Al Farisi, Salman. (2020). Internalisasi nilai-nilai pendidikan Agama Islam untuk
meningkatkan akhlak siswa melalui ektrakulikuler FIS (Forum Islamic Student):
Penelitian pada Siswa SMK Al Ghifari Limbangan Garut. UIN Sunan Gunung Djati
Bandung.
Arikunto, Suharsimi. (1998). Prosedur penilaian. Jakarta: Rineka Cipta.
Azhani, Riggina, Chusniatun, M. Ag, & Abidin, Zaenal. (2017). Metode Pembiasaan
Sebagai Upaya Internalisasi NilaiNilai Ajaran Islam Di SMP Muhammadiyah 5
Surakarta Tahun Pelajaran 2015/2016. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Berlianti, Reri, Kurniawan, Kurniawan, & Cikdin, Cikdin. (2020). Implementasi Metode
Pembiasaan pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Al-Qalam: Jurnal
Kajian Islam & Pendidikan, 12(2), 113.
Copple, Carol, & Bredekamp, Sue. (2008). Getting clear about developmentally
appropriate practice. YC Young Children, 63(1), 54.
Dwi, Linda Novial. (2018). Hubungan Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dengan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jurnal Medika: Karya Ilmiah Kesehatan,
3(1), 4046.
Foerster, Friedrich Wilhelm. (1960). Moderne Jugend und christliche Religion:
psychologische und pädagogische Gesichtspunkte.
Gestwicki, Carol. (1995). Developmentally Appropriate Practice: Curriculum and
Development in Early Education. Albany. NY. Merrill.
Hidayat, Rahmat, & Suwanto, Suwanto. (2020). Membumikan Etika Politik Islam Nabi
Muhammad SAW Periode Madinah Dalam Konteks Perpolitikan Indonesia. JUSPI
(Jurnal Sejarah Peradaban Islam), 3(2), 124141.
Ibrahim, Anwar, Sarbini, Muhammad, & Maulida, Ali. (2019). Implementasi Metode
Pembiasaan Shalat Tahajud Dan Puasa Senin-Kamis Pada Pembentukan Akhlak
Karimah di Sekolah Unggulan Islami (Suis) Leuwiliang Bogor. Prosa PAI:
Prosiding Al Hidayah Pendidikan Agama Islam, 1(2B), 130143.
Ibtidayah, Ibtidayah. (2016). Penerapan praktik pengamalan ibadah (PPI) dengan
92 http://matriks.greenvest.co.id
Penerapan Metode Pembiasaan pada Kompetensi Dasar
Menjelaskan Ketentuan Salat Berjemaah di MTs
Asyrofuddin Conggeang Sumedang
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
93
pendekatan habits (kebiasaan) di SMP Islam terpadu Al-Ghazali Palangka Raya.
IAIN Palangka Raya.
Isbakhi, Ari Fajar. (2018). Pembentukan Karakter Melalui Pembudayaan Agama. Jurnal
Tarbiyatuna, 9(1), 4146.
Khunnisaq, Aprilla Abni. (2020). Implementasi Metode Pembiasaan pada Nilai-Nilai
Moral dan Agama Anak Kelompok B di Taman Kanak-Kanak Al-Rasyid Kelurahan
Sidomulyo Timur Kecamatan Marpoyan Damai Pekanbaru. UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU.
Muhaimin, H. (2003). Arah baru pengembangan pendidikan Islam. Pemberdayaan
Pengembangan Kurikulum Hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan, Cet. I,
Bandung: Penerbit Nuansa.
Nisa, Farida Sholichatun. (2013). Penerapan strategi self management untuk mengurangi
perilaku prokrastinasi akademik pada siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Sukomoro
Nganjuk Tahun Ajaran 2012-2013. Jurnal BK UNESA, 2(1).
Rajab, Rajab. (2018). Implementasi Program Shalat Dhuha Dan Shalat Zuhur Berjamaah
Dalam Pembentukan Akhlak Siswa (Studi Pada Sekolah SD Al Hira Permata
Nadiah Medan). Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Salim, Peter, & Salim, Yenny. (1991). Kamus bahasa Indonesia kontemporer. Edisi
Pertama.
Sofanudin, Aji. (2015). Internalisasi nilai-nilai karakter bangsa melalui mata pelajaran
pendidikan agama Islam pada SMA eks-RSBI di Tegal. Jurnal SMART (Studi
Masyarakat, Religi, Dan Tradisi), 1(2).
Sulfemi, Wahyu Bagja. (2018). Pengaruh disiplin ibadah sholat, lingkungan sekolah, dan
intelegensi terhadap hasil belajar peserta didik mata pelajaran pendidikan agama
Islam. Edukasi, 16(2), 294585.
Sumantri, Endang. (2007). Etika dam Moral dalam Pendidikan Umum. Makalah
Pendidikan Umum.
Taal, Maarten W., Chertow, Glenn M., Marsden, Philip A., Skorecki, Karl, Alan, S. L., &
Brenner, Barry M. (2011). Brenner and Rector’s The Kidney E-Book. Elsevier
Health Sciences.
Utomo, Khoirul Budi. (2018). Strategi dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam MI. MODELING: Jurnal Program Studi PGMI, 5(2), 145156.
Zaini, Ahmad. (2015). Bermain sebagai metode pembelajaran bagi anak usia dini. Jurnal
Thufula, 3(3), 130131.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License.