Vol. 2, No. 2, Januari 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
matriks.greenvest.co.id
76
PENGETAHUAN PENGAWASAN MENELAN OBAT TENTANG
TUBERCULOSIS DENGAN KEJADIAN PUTUS BEROBAT DI
POLIKLINIK PARU PUSKESMAS SIRAMPOG
Regita Anggia Ning Tyas
STF YPIB Cirebon Jawa Barat, Indonesia
E-mail: Regitaan[email protected]
Diterima:
7 Oktober 2020
Direvisi:
7 November 2020
Disetujui:
7 Desember 2020
Abstrak
Penyakit TBC merupakan salah satu penyakit menular yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang
paru-paru dan organ tubuh lainnya. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan PMO tentang
TB paru dengan kejadian putus berobat pada penderita TB paru
di Poliklinik Paru Puskesmas Sirampog. Penelitian ini termasuk
jenis retrospektif dengan rancangan case control. Data
penelitian diolah dan dianalisis dengan menggunakan uji Chi
Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar
(62,5%) Pengawas Menelan Obat (PMO) yang mendampingi
penderita TB paru untuk berobat di Poliklinik Paru Puskesmas
Sirampog memiliki pengetahuan tentang TB paru dalam
katagori kurang. Pada kelompok penderita TB paru yang putus
berobat, 79,2% PMOnya memiliki pengetahuan yang kurang
tentang TB paru. Pada kelompok TB paru yang berobat teratur ,
54,2%, PMOnya memiliki pengetahuan yang baik tentang TB
paru. Terdapat hubungan yang signifikan (nilai p=0,017)
Kata kunci: Pengawasan; Obat; Tuberculosis; Paru
Abstract
Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium
tuberculosis that attacks the lungs and other organs. This study
aims to find out the relationship between PMO knowledge about
pulmonary TB and the incidence of severed treatment in people
with pulmonary TB in Pulmonary Polyclinic Puskesmas
Sirampog. This study includes a retrospective type with case
control design. The research data was processed and analyzed
using Chi Square test. The results showed that the majority
(62.5%) Drug Swallowing Supervisor (PMO) who accompanies
people with pulmonary TB to treatment in Pulmonary Polyclinic
Puskesmas Sirampog has knowledge about pulmonary TB in the
category of less. In the group of people with pulmonary TB who
broke up treatment, 79.2% of PMOnya have less knowledge
about pulmonary TB. In the group of pulmonary TB that is
treated regularly, 54.2%, PMOnya have good knowledge about
pulmonary TB. There is a significant relationship (value
p=0.017).
Keywords: Surveillance; Drugs; Tuberculosis; Lung
Pengetahuan Pengawasan Menelan Obat Tentang
Tuberculosis dengan Kejadian Putus Berobat di Poliklinik
Paru Puskesmas Sirampog
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
77
Pendahuluan
Tuberculosis (TB) masih terus menerus menjadi masalah kesehatan di dunia
(Siahaineinia & Sinaga, 2020) terutama di negara berkembang. Meskipun obat anti TB
sudah ditemukan dan vaksinasi BCG telah dilaksanakan (Padhilah, 2019), TB tetap belum
bisa diberantas habis. Insiden TB yang terus meningkat menjadi penyakit re-emerging
sehingga Organisasi Kesehatan Sedunia pada tahun 1995 mendeklarasikan TB sebagai
suatu global health emergency (Anita & Candrawati, 2018). Laporan WHO
memperkirakan ada 9,2 juta pasien TB baru dan 4,1 juta diantaranya adalah pasien
dengan Basil Tahan Asam (BTA) (Irnawati, Siagian, & Ottay, 2016) positif dengan angka
kematian 1,7 juta pasien pertahun di seluruh dunia. Kondisi ini diperparah oleh kejadian
HIV yang semakin meningkat (Retnowati, 2017) dan bertambahnya jumlah kasus
kekebalan ganda kuman TB terhadap Obat Anti Tuberculosis (OAT) lini pertama atau
disebut Multidrug Resistance (MDR) TB. Negara Indonesia (Sembiring, 2019), TB
merupakan masalah utama kesehatan masyarakat (Muthia, 2016). Jumlah pasien TB di
Indonesia merupakan ketiga terbanyak di dunia setelah India (Yuni & Arda, 2016) dan
Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB di dunia (Azzahra,
2017). Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian
101.000 orang (Andarmoyo, 2019). Insiden kasus TB BTA positif sekitar 110 per
100.00 penduduk (Hastuti & Ibrahim, 2016). Jumlah penderita Tuberculosis paru (TB
Paru) di kabupaten Brebes pada tahun 2015 terdeteksi sebanyak 3.474 orang, dengan
angka kejadian putus berobat 186 orang atau sekitar 5,35%, sedangkan pada tahun 2010
terdeteksi sebanyak 1934 orang dengan angka kejadian putus berobat 104 orang atau
sekitar 5,38%.
Berdasarkan studi pendahuluan di Poliklinik Paru Puskesmas Sirampog diketahui
jumlah penderita TB Paru dari Juli sampai Desember 2015 sebanyak 154 orang dengan
rincian BTA positif sebanyak 7 orang, BTA negatif dengan hasil rontgen menunjukkan
gambaran TB sebanyak 113 orang, ekstra paru sebanyak 23 orang dan kategori anak
sebanyak 11 orang (Utari, 2019).
Dari jumlah tersebut di atas, yang mengalami kejadian putus berobat berjumlah 24
orang atau sekitar 15,58% (Fatimah, 2008). Adapun alasan-alasan yang menyebabkan
putus berobat yaitu merasa dirinya sudah sembuh karena tidak ada keluhan lagi (Pilka,
2012), jarak unit pelayanan kesehatan yang jauh, merasa jemu atau bosan dengan waktu
(Pilka, 2012) pengobatan yang terlalu lama dan ada yang masih belum menerima
sepenuhnya tentang penyakitnya (Prasetyo & Kustanti, 2014).
TB Paru dapat disembuhkan jika penderita berobat secara teratur sampai dengan selesai
pengobatan (Septia, Rahmalia, & Sabrian, 2014). Untuk menjamin keteraturan
pengobatan diperlukan seorang PMO (Pengawas Menelan Obat). Sebaiknya PMO adalah
petugas kesehatan, bila tidak memungkinkan dapat berasal dari kader kesehatan, tokoh
masyarakat atau anggota keluarga (Putri, 2015).
Tugas PMO adalah mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur
sampai selesai pengobatan dan mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada
waktu yang telah ditentukan (Prabowo & Wachidah Yuniartika, 2014). Berkaitan dengan
tugas PMO seperti tersebut di atas, maka pengetahuan tentang TB Paru sangat
dibutuhkan oleh PMO agar dapat menjalankan tugasnya. Pengetahuan adalah hasil dari
“tahu” yang didapat baik secara formal maupun informal. Sesuai dengan konsep L Green
(1980) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) bahwa perilaku seseorang / masyarakat
tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan tradisi dari orang
yang bersangkutan. Pengetahuan tentang TB Paru ini meliputi : penyebab, tanda dan
gejala, cara penularan, cara pencegahan, pengobatan, efek samping dari obat TB Paru,
dan komplikasi TB Paru. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinkes Kab Brebes,
Vol. 2, No. 2, Januari 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
78
http://matriks.greenvest.co.id
Poliklinik Paru Puskesmas Sirampog memiliki angka kejadian putus berobat yang paling
tinggi yaitu sekitar 15,58% dibandingkan dengan Dinkes Kab Brebes (5,38%) dan RS
Sekar Kamulyan (15,51%), maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan antara
pengetahuan PMO tentang TB Paru dengan kejadian putus berobat penderita TB Paru di
Poliklinik Paru Puskesmas Sirampog.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk penelitian analitik yang bertujuan untuk menganalisis
dinamika hubungan antara variabel dengan melakukan pengujian hipotesis. Rancangan
penelitian menggunakan rancangan case control yaitu rancangan epidemiologis yang
mempelajari hubungan antara paparan (amatan penelitian) dan penyakit, dengan cara
membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya
(Badriah, 2012). Dalam penelitian ini, penulis mencoba menganalisis hubungan antara
pengetahuan PMO (Pengawas Menelan Obat) tentang TB Paru dengan kejadian putus
berobat (default) penderita TB Paru di Poliklinik Paru di Puskesmas Sirampog periode
Juli Desember tahun 2015.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan PMO
tentang TB paru dengan kejadian putus berobat (default) di Poliklinik Paru Puskesmas
Sirampog. Data penelitian diperoleh langsung dari responden yaitu para Pengawas
Menelan Obat (PMO) baik dari kelompok kasus yaitu PMO dari penderita TB paru yang
mengalami putus obat (default) maupun dari kelompok kontrol yaitu PMO dari penderita
TB paru yang teratur berobat periode Maret - April 2015. Sampel penelitian berjumlah 48
orang yang terdiri dari 24 orang kelompok kasus dan 24 orang kelompok kontrol.
A.
Analisis Univariat
a)
Gambaran Pengetahuan PMO tentang TB Paru
Pengukuran pengetahuan didasarkan pada kemampuan menjawab
dengan benar 20 buah pernyataan yang ada dalam kuesioner. Kuesioner
menggunakan skala dichotomous, untuk jawaban yang benar diberi skor 1 dan
untuk jawaban yang salah diberi skor 0. Setelah dihitung skor total dari
masing-masing responden, kemudian dihitung rata-rata nilai total pengetahuan
dari keseluruhan responden dan didapatkan rata-rata 14,7. Responden yang
memiliki skor sama dengan atau di atas 14,7 dikategorikan berpengetahuan
baik, dan yang memiliki skor di bawah 14,7 dikategorikan berpengetahuan
kurang. Berikut ini disajikan data gambaran pengetahuan PMO tentang TB
Paru yang mengalami kejadian putus obat (default) yang termasuk kelompok
kasus ditunjukkan dalam tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1. Pengetahuan PMO tentang TB Paru pada Kelompok Kasus di Poliklinik Paru
Puskesmas Sirampog Tahun 2015
Pengetahuan
Frekuensi
Persentase (%)
Kurang
19
79,2
Baik
5
20,8
Jumlah
24
100
Sumber: Hasil Penelitian Maret - April 2015
Berdasarkan tabel 1 di atas dapat dijelaskan bahwa dari 24 responden yang
termasuk kelompok kasus, 19 orang (79,2%) PMO memiliki pengetahuan tentang TB
Paru pada kategori kurang. Sementara itu, 5orang (20,8%) PMO memiliki pengetahuan
Pengetahuan Pengawasan Menelan Obat Tentang
Tuberculosis dengan Kejadian Putus Berobat di Poliklinik
Paru Puskesmas Sirampog
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
79
tentang TB Paru dalam kategori baik. Adapun gambaran pengetahuan PMO pada
kelompok kontrol dapat dilihat dalam tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2. Pengetahuan PMO tentang TB Paru pada Kelompok Kontrol di Poliklinik Paru
Puskesmas Sirampog Tahun 2015
Kelompok Kontrol
Pengetahuan
Frekuensi
%
Kurang
11
45,8
Baik
13
54,2
Jumlah
24
100
Sumber: Hasil Penelitian Maret - April 2015
Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dijelaskan bahwa 13 orang (54,2%) PMO dari
penderita TB Paru yang berobat teratur memiliki pengetahuan yang baik tentang TB Paru
dan sisanya yaitu 11 orang (45,8%) memiliki pengetahuan yang kurang tentang TB Paru.
B.
Analisis Bivariat
Setelah dilakukan analisis univariat dengan cara menghitung proporsi dan
persentase dari masing-masing variabel penelitian, kemudian dilakukan analisis
bivariat sebagai metode dalam pembuktian atau uji hipotesis dengan
menggunakan uji Chi-Square. Di bawah ini disajikan hasil analisis data dengan
menggunakan tabulasi silang yang menjelaskan hubungan antara pengetahuan
PMO tentang TB Paru dengan kejadian putus obat pada penderita TB paru di
Poliklinik Paru Puskesmas Sirampog Tahun 2015 dalam tabel 3 sebagai berikut:
Tabel 3. Hubungan antara Pengetahuan PMO tentang TB paru dengan Kejadian Putus
Obat di Poliklinik Paru Puskesmas Sirampog Tahun 2015
Kejadian Putus Obat
Putus Obat
(Default)
Tidak Putus
Obat (Teratur)
Total
Nilai p
(p value) dan
OR
Pengetahuan
N
%
N
%
N
%
p=0,017
OR=
4,5
Kurang
19
39,6
11
22,9
30
62,5
Baik
5
10,4
13
27,1
18
37,5
Total
24
50
24
50
48
100
Sumber: Hasil Penelitian Maret - April 2015
Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari sembilan belas orang
penderita TB Paru yang mengalami putus obat memiliki PMO dengan pengetahuan
kurang tentang TB Paru dan hanya lima orang penderita TB Paru yang mengalami putus
obat memiliki PMO dengan pengetahuan baik tentang TB Paru.
Sementara itu tiga belas penderita TB Paru yang berobat teratur memiliki PMO
dengan pengetahuan baik tentang TB Paru, dan ada sebelah orang penderita TB Paru
yang berobat teratur memiliki PMO dengan pengetahuan kurang tentang TB Paru.
Berdasarkan hasil uji statistik Chi-square didapat nilai p = 0,017 (p < 0,05). Hal ini
menunjukkan bahwa H
0
ditolak dan H
a
diterima, yang berarti terdapat hubungan yang
signifikan antara pengetahuan PMO tentang TB Paru dengan kejadian putus obat (default)
pada penderita TB Paru di Poliklinik Paru Puskesmas Sirampog.
Setelah dilakukan uji hubungan, kemudian dihitung Odds Ratio (OR) dan
menunjukkan hasil nilai OR = 4,49 atau 4,5 (pembulatan). Hal ini dapat diinterpretasikan
Vol. 2, No. 2, Januari 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
80
http://matriks.greenvest.co.id
bahwa PMO yang memiliki pengetahuan kurang tentang TB Paru memiliki resiko 4,5 kali
lebih besar untuk mendorong terjadinya kejadian putus obat (default) pada penderita TB
Paru dibandingkan PMO yang memiliki pengetahuan baik tentang TB Paru.
Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan yaitu pada kelompok penderita TB Paru yang tidak
mengalami kejadian putus berobat (kelompok kontrol), 54,2% PMOnya memiliki
pengetahuan yang baik tentang TB paru, pada kelompok penderita TB Paru yang
mengalami kejadian putus berobat (kelompok kasus), 79,2% PMOnya memiliki
pengetahuan yang kurang tentang TB Paru. erdapat hubungan yang signifikan (nilai p =
0,017) antara pengetahuan PMO tentang TB Paru dengan kejadian putus berobat pada
penderita TB Paru di Poliklinik Paru Puskesmas Sirampog dengan OR = 4,5 (95% CI :
1,26 16,00).
Bibliografi
Andarmoyo, S. (2019). Pemberian pendidikan kesehatan melalui media leaflet
efektif dalam peningkatan pengetahuan perilaku pencegahan tuberkulosis
paru di kabupaten ponorogo. Seminar Nasional Pendidikan 2015, 600605.
Anita, Y., & Candrawati, E. (2018). Hubungan Pengetahuan Pasien Tuberculosis
Tentang Penyakit Tuberculosis dengan Kepatuhan Berobat di Unit Rawat
Jalan Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang. Nursing News: Jurnal
Ilmiah Keperawatan, 3(3).
Azzahra, Z. (2017). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit
Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Muliorejo Kecamatan
Sunggal Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017.
Fatimah, S. (2008). Faktor kesehatan lingkungan rumah yang berhubungan
dengan kejadian TB paru di Kabupaten Cilacap (Kecamatan: Sidareja,
Cipari, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari) tahun 2008.
UNIVERSITAS DIPONEGORO.
Hastuti, T., & Ibrahim, K. (2016). Analisis Spasial, Korelasi dan Tren Kasus TB
Paru BTA Positif Menggunakan Web Sistem Informasi Geografis di Kota
Kendari Tahun 2013-2015. (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan
Masyarakat), 1(3).
Irnawati, N. M., Siagian, I. E. T., & Ottay, R. I. (2016). Pengaruh dukungan
keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada penderita tuberkulosis di
Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu. Jurnal Kedokteran Komunitas
Dan Tropik, 4(1).
Muthia, F. (2016). Perbedaan Efektifitas Penyuluhan Kesehatan menggunakan
Metode Ceramah dan Media Audiovisual (Film) terhadap Pengetahuan Santri
Madrasah Aliyah Pesantren Khulafaur Rasyidin tentang TB Paru Tahun
2015. Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura, 2(4).
Padhilah, N. (2019). Isolasi dan Karakterisasi Gen Rv1926c Mycobacterium
Tuberculosis Isolat Makassar Sebagai Kandidat Vaksin Tuberkulosis.
Makassar: Universitas Hasanuddin.
Pilka, A. M. (2012). Analisis Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) NO. 4 Tahun
2005 Tentang Aborsi Akibat Pemerkosaan. Universitas Islam Negeri Sultan
Syarif Kasim Riau.
Pengetahuan Pengawasan Menelan Obat Tentang
Tuberculosis dengan Kejadian Putus Berobat di Poliklinik
Paru Puskesmas Sirampog
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
81
Prabowo, R. D. R., & Wachidah Yuniartika, S. (2014). Hubungan Antara Peran
Pengawas Minum Obat (Pmo) Dengan Kepatuhan Kunjungan Berobat Pada
Pasien Tuberculosis Paru (Bb Paru) Di Puskesmas Nogosari Boyolali.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Prasetyo, A. R., & Kustanti, E. R. (2014). Bertahan dengan lupus: Gambaran
resiliensi pada odapus. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 13(2),
139148.
Putri, J. A. (2015). Hubungan Pengetahuan dan Tingkat Pendidikan PMO
(Pengawas Minum Obat) Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antituberkulosis
Pasien TB Paru. Jurnal Majority, 4(8), 8184.
Retnowati, M. (2017). Hubungan Pengetahuan Dengan Stigma Tokoh Agama
Terhadap Orang Dengan HIV/AIDS di Kabupaten Banyumas. Bidan Prada:
Jurnal Publikasi Kebidanan Akbid YLPP Purwokerto, 8(1).
Sembiring, S. P. K. (2019). Indonesia bebas tuberkulosis. Jakarta: CV Jejak (Jejak
Publisher).
Septia, A., Rahmalia, S., & Sabrian, F. (2014). Hubungan dukungan keluarga
dengan kepatuhan minum obat pada penderita tb paru. Jurnal Online
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau, 1(2), 110.
Siahaineinia, H. E., & Sinaga, S. N. (2020). Pengaruh Pengetahuan Tentang
Tuberkulosis (Tb) Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Tb Paru Di
Rumah Sakit Tria Dipa Jakarta Tahun 2019. EXCELLENT MIDWIFERY
JOURNAL, 3(1), 2634.
Utari, D. (2019). Gambaran Lingkungan Fisik Rumah dan Karakteristik
Penderita TB Paru di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Hajimena Kecamatan
Natar Kabupaten Lampung Selatan. poltekkes tanjungkarang.
Yuni, I., & Arda, D. A. M. (2016). Hubungan Fase Pengobatan TB dan
Pengetahuan tentang MDR TB dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien TB.
Jurnal Berkala Epidemiologi, 4(3), 301312.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License.