Vol. 2, No. 2, Januari 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
82
http://matriks.greenvest.co.id
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN
PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS XI SMK MA’ARIF CICALENGKA,
BANDUNG
Taufik Ridwan
Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon Jawa Barat, Indonesia
Diterima:
6 Oktober 2020
Direvisi:
9 November 2020
Disetujui:
8 Desember 2020
Abstrak
Kemampuan emosional yaitu kemampuan seseorang untuk
mengenali emosi, mengontrol emosi, memotivasi diri
sendiri, mengenali empati, dan meningkatkan kerjasama
dengan orang lain. Penelitian ini mengandung variabel
bebas kecerdasan emosional dan prestasi akademik sebagai
variabel terikat. Populasi penelitiannya siswa kelas XI
SMK Ma'arif Cicalengka dengan jumlah 240 orang. Data
dikumpulkan dengan metode berskala kecerdasan
emosional. Melalui metode cek transkrip semester pertama
untuk mengukur kinerja siswa, hasil analisis data
menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,248, p = 0,002
(<0,05), sehingga Ha diterima tetapi Ho ditolak. Penelitian
bertujuan untuk mengetahui tingkat kepintaran, emosi dan
prestasi belajar. Kesimpulan dari riset adalah terjadi
keterkaitan antara kecerdasan emosi dengan prestasi
akademik siswa kelas XI SMK Ma'arif Cicalengka.
Kata kunci: Prestasi belajar; Kecerdasan emosional;
Emosi diri
Abstract
Emotional ability is the ability of a person to recognize
emotions, control emotions, motivate oneself, recognize
empathy, and increase cooperation with others. This study
contains variables free of emotional intelligence and
academic achievement as bound variables. The research
population is grade XI students of SMK Ma'arif
Cicalengka with a total of 240 people. Data is collected by
scaled methods of emotional intelligence. Through the first
semester transcript check method to measure student
performance, the data analysis results showed a
correlation coefficient of 0.248, p = 0.002 (<0.05), so Ha
was accepted but Ho was rejected. Research aims to
determine the level of intelligence, emotions and learning
achievements. The conclusion of the research is that there
is a link between emotional intelligence and academic
achievement of grade XI students of SMK Ma'arif
Cicalengka.
Keywords: Learning achievements; Emotional
intelligence; Self-emotion
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Matriks: Jurnal
Belajar Siswa Kelas XI SMK Ma’arif Cicalengka,
Bandung
Taufik Ridwan
83
Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan dengan sengaja atau rutin
yang bertujuan untuk mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan (Efendi,
2017). Sekolah merupakan lembaga formal serta sarana untuk mencapai tujuan
pendidikan tersebut (Kurniawan, 2015). Siswa belajar berbagai hal di sekolah (Akbar,
2017). Perubahan positif dapat dilakukan jika kita mengikuti pendidikan formal
(Susilowati, 2018), sehingga pada tahap akhir akan diperoleh keterampilan, keterampilan
dan pengetahuan baru (Lestari & Diana, 2018). Hasil proses pembelajaran tercermin dari
prestasi belajar mereka (Khoeron, Sumarna, & Permana, 2014). Namun, untuk
mendapatkan hasil akademik yang memuaskan diperlukan proses pembelajaran
(Anggraini & Mukhadis, 2013).
Proses pembelajaran yang berlangsung dalam diri individu sangatlah penting,
karena melalui pembelajaran individu dapat memahami lingkungannya sendiri dan
beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Menurut (Qodir, 2017) belajar adalah proses
perubahan dari tidak mampu menjadi mampu dan terjadi dalam kurun waktu tertentu.
Melalui pembelajaran, siswa dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Belajar akan
mengubah seseorang. Untuk mengetahui sejauh mana perubahan tersebut, perlu dilakukan
penilaian. Mirip dengan apa yang terjadi pada siswa terpelajar, hasil belajar selalu
dievaluasi. Setelah siswa belajar, kemudian di evaluasi untuk mengetahui sejauh mana
tujuan belajar telah tercapai, inilah yang disebut dengan prestasi belajar.
Menurut (Puspitasari, 2016) prestasi belajar adalah Seperti yang tertera dalam
transkrip nilai prestasi belajar siswa. Melalui hasil belajar, siswa dapat memahami
kemajuan. Ia telah mengukir prestasi dalam studinya. Proses pembelajaran di sekolah
merupakan proses yang kompleks dan komprehensif. Banyak orang berpikir seperti itu
prestasi akademis yang tinggi, harus punya IQ tinggi, karena kecerdasan merupakan
persiapan yang potensial. Mempromosikan sistem belajar, setelah mendapat kesempatan
akan mengarah pada hasil pembelajaran optimal (Gusniwati, 2015). Menurut Binet dalam
(Damayanti, 2016) Inti dari kecerdasan adalah kemampuan untuk menetapkan dan
mempertahankan tujuan, melakukan penyesuaian untuk mencapai tujuan tersebut, dan
mengevaluasi secara kritis dan objektif situasi seseorang.
Kedua jenis kecerdasan itu diperlukan. Jika tidak ada apresiasi dalam emosional
belajar di sekolah, IQ tidak akan berfungsi. Kedua jenis kecerdasan ini saling melengkapi.
IQ dan EQ yang seimbang adalah kunci keberhasilan siswa dalam belajar (Thaib, 2013).
Pendidikan sekolah tidak hanya perlu mengembangkan kecerdasan rasional (ini adalah
model pemahaman yang biasanya dipahami siswa), tetapi juga perlu mengembangkan
cara mengontrol emosi siswa.
Peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, kecerdasan emosional
selalu mendahului kecerdasan rasional. (Waninda, 2011). Kecerdasan emosional mampu
untuk membuat seseorang berhasil dan berprestasi merintis karir, menjalin silaturahmi
yang harmonis antara suami dan istri, serta dapat mengurangi agresi terutama di kalangan
remaja. (Sukriadi, Basir, & Rusdiana, 2016).
Menurut Goleman yang dikutip dari (Awang, Merpirah, & Mulyadi, 2019),
Kecerdasan emosional mampu mengatur kehidupan emosional seseorang melalui
kecerdasan, melalui pengalaman pribadi, mengontrol diri, menyemangati diri, solidaritas
dan bersosialisasi, menjaga emosi dan ekspresi mereka secara harmoni.
Menurut Goleman yang dikutip dari (Dartija, 2014), terlebih bagi mereka yang
berpengetahuan tinggi akan memiliki rasa cemas, terlalu pilih-pilih, kritis, penutup,
tampil cuek serta sulit mengungkapkan amarah dan amarahnya dengan tepat. Jika
didukung oleh kecerdasan emosional yang rendah, biasanya orang seperti inilah yang
menjadi provokator. Karena ciri-ciri di atas, seseorang yang memiliki IQ tinggi tetapi
Vol. 2, No. 2, Januari 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
84
http://matriks.greenvest.co.id
kecerdasan emosionalnya rendah, sering dianggap keras kepala, sulit bergaul, mudah
frustasi, tidak mudah mempercayai orang lain, dan tidak peka terhadap kondisi
lingkungan. Dan cenderung menyerah saat sedang stres (Hulu & Minauli, 2013). Apabila
IQ rata-rata dimiliki seseorang tetapi kecerdasan emosional tinggi akan bertemu
lingkungan yang berlawanan.
Metode Penelitian
Dilihat berdasarkan penelitian maka di peroleh jumlah sampel sebesar 148 orang.
Sampel diambil dengan metode yang di pakai pada observasi adalah menggunakan
metode sampel acak seimbang. Menurut (Hani, 2016), untuk prosedur pengambilan
sampel dengan metode sampel acak seimbang dipergunakan rumus sebagai berikut :
𝑁i
𝑛i =
𝑁
𝑥 𝑛
Keterangan: ni : Jumlah sampel per sub populasi
Ni : Total sub populasi
N : Total populasi
n : Besarnya sampel
Atas dasar ini, cara penyelidikan perangkat digunakan untuk pengolahan
data. Langkah-langkah untuk analisis instrumental adalah sebagai berikut:
a)
Validitas
Menurut (Riadin & Jailani, 2019), Validitas mengacu pada sejauh mana
alat ukur dapat dengan benar menampilkan gejala yang akan diukur atau
gejala tertentu, yang berarti bahwa tes tersebut dapat mengukur apa yang
harus diukur. Apabila suatu alat ukur menjalankan fungsi pengukurannya
yang sesuai dengan maksudnya, maka dapat dikatakan alat tersebut
mempunyai keefektifan yang tinggi:
1)
Uji validitas item
Pengujian efektivitas proyek adalah pengujian kualitas proyek, yang
bertujuan untuk memilih proyek yang benar-benar selaras dan dipilih
berdasarkan faktor-faktor yang ingin Anda selidiki. Metode penghitungan uji
keefektifan proyek adalah dengan mengkorelasikan skor tiap proyek dengan
skor total proyek.
2)
Percobaan interaksi menyertai aspek
Percobaan ini merupakan tes yang dirancang untuk membuktikan jika
faktor tersebut benar-benar mengungkapkan struktur konstruk yang telah
ditetapkan. Metode penghitungan uji validitas faktor adalah dengan
mengkorelasikan skor masing-masing faktor dengan skor faktor total item
efektif. Untuk menghitung korelasi antara analisis proyek dan faktor-faktor,
formula koefisien interaksi momentum produk digunakan, dan perhitungan
dibantu oleh program. SPSS 11.01 for windows.
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Matriks: Jurnal
Belajar Siswa Kelas XI SMK Ma’arif Cicalengka,
Bandung
Taufik Ridwan
85


N

x
2

x

2



y y
2


2




N



Rumus:
xy
x

y
rxy
N
Keterangan :
rxy = koefisien korelasi x dan y
xy = jumlah hasil perkalian antara x dan y
x = jumlah nilai setiap item.
y = jumlah nilai konstan.
N = jumlah subyek penelitian
b)
Reliabilitas
Reliabilitas adalah hasil pengukuran dapat dipercaya, jika Anda
mendapatkan hasil yang relatif sama dalam beberapa pengukuran untuk grup
yang sama (Solichin, 2017). Observasi dilakukan menggunakan uji reliabilitas
teknologi formula Cronbach Alpha dan program Windows SPSS 11.01.
Rumus :
Keterangan :
𝑘
𝑎 =
𝑘 1
(1
∑𝑆
2
j
𝑆
2
𝗑
)
α = koefisien reliabilitas alpha
k = jumlah item
Sj = varians responden untuk item I
Sx = jumlah varians skor total
Kemudian menggunakan korelasi product moment Carl Pearson untuk
menganalisis data yang diperoleh untuk melihat interaksi antara kepintaran emosional
serta prestasi belajar. Cara penghitungan dapat ditunjang melalui metode SPSS 11.01 for
window.
Hasil dan Pembahasan
a)
Analisis validitas instrumen
Lakukan uji validitas untuk memahami apakah mental scale dapat mewujudkan
data yang akurat, artinya apakah item yang dihasilkan benar-benar mengungkap faktor
untuk diteliti. Uji validitas skala kecerdasan emosional dihitung dengan menggunakan
rumus korelasi product-moment dari Pearson. Dari perspektif korelasi antara skor item
dan skor total, nilai korelasi pada skala kecerdasan emosional berkisar antara 0,320 -
0,720, dan p berkisar antara 0,000-0,008. Berdasarkan tingkat signifikansi 0,05 maka
pada skala kecerdasan emosional 15 dari 100 item dinyatakan valid dan 85 item valid.
Informasi rinci setelah tes adalah:
Vol. 2, No. 2, Januari 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
86
http://matriks.greenvest.co.id
Tabel 1. Distribusi penyebaran item yang efektif dan penurunan nisbah kepintaran
sentimental
No
Aspek
Indeks
Nomor Item
Jumlah
Favorable
Unfavorable
1.
Mengenali
Emosi Diri
a.Mengenali serta
mengerti perasaan
seorang diri
1*,14,21*,25,
39
6,45,55,65,67
8
b.Memahami pemicu
keluarnya emosi
2,3,38*,46*,7
2
28,68,77,83,9
4
8
2.
Mengelola
Emosi
a. Mengendalikan
Emosi
15,22,34,40,5
1*
7,56,62,66,78
*
8
b. Mengartikulasika
n emosi secara
benar
4,8,16,47*,84
*
29,69,73,79,8
9*
7
3
Memotivas
i diri
sendiri
a. Optimis
5,17,41,87,90
35,57,61,95,97
10
b. Dorongan
berprestasi
9,18,58,74*,80
26,30,42,48,70
9
4
Mengenali
Emosi
Orang lain
a. Peka terhadap
perasaan orang
lain
10,27,31,52,81
19,36,63,85,91
10
b. Mendengarkan
masalah orang lain
59,75,92,96,98*
11,23,43*,49,
100
8
5
Membina
Hubungan
a. Dapat bekerja sama
32,53,71,76*,88
12,20,37,93,99
9
b. Dapat
berkomunikasi.
13,24,60*,64,86
*
33,44,50,54,82
8
Total
85
*) item yang gugur
b)
Analisis korelasi antar faktor
Korelasi antar faktor dilakukan dengan mengaitkan masing-masing faktor dengan
faktor lain dan faktor total. Berdasarkan hasil korelasi antar faktor dapat diketahui bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara masing-masing faktor dengan total. Artinya,
faktor-faktor pada skala kecerdasan emosi memang dapat mengukur apa yang diukur.
Selebihnya dapat dilihat pada tabel korelasi antara faktor-faktor berikut:
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Matriks: Jurnal
Belajar Siswa Kelas XI SMK Ma’arif Cicalengka,
Bandung
Taufik Ridwan
87
Tabel 2. Arah Hubungan Linear Antar Faktor Skala Kecerdasan Emosional
Faktor
F1
F2
F3
F4
F5
F tot
1. Mengenali emosi diri
1.000
.762
.778
.545
.499
.851
2. Mengelola emosi
.762
1.000
.842
.538
.509
.878
3. Memotivasi diri sendiri
.778
.842
1.000
.554
.552
.898
4. Mengenali emosi orang lain
.545
.538
.554
1.000
.754
.796
5. Membina hubungan
.499
.509
.552
.754
1.000
.778
Total
.851
.878
.898
.796
.778
1.000
Berdasarkan latar belakang penelitian ini dan teori yang digunakan untuk
menjelaskan ada atau tidak korelasinya antara kinerja belajar kelas XI SMK Ma'arif
Cicalengka bersama kepintaran emosional dapat dibuktikan bahwa terdapat korelasi
kepintaran sentimental serta akademik kinerja. Melalui pengujian statistik, hasil
penelitian pada dasarnya sesuai dengan asas sintesis yang difungsikan bermakna
observasi. Riset Daniel Goleman (Daniel Goleman) menunjukkan bahwa IQ tinggi
berkontribusi sekitar 20% terhadap kesuksesan seseorang, dan sisanya 80% diisi oleh
kelebihan lainnya.(Sianturi, 2018) Salah satunya adalah kecerdasan emosional seseorang.
Berdasarkan hasil skala kecerdasan emosional, disusun sebanyak 85 pernyataan menurut
skala likert yang telah direvisi (termasuk alternatif jawaban), yaitu:
Sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Metode evaluasi adalah
diberikan nilai antara 1-4 sesuai kriteria yang disukai dan tidak disukai. Analisis data
menggunakan rumus korelasi torsi produk Pearson dengan bantuan SPSS versi 11.01.
Hasil penelitian dari data analisis korelasi momentum produk menunjukkan bahwa nilai
korelasi (r) sebesar 0,248, p = 0,002 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif
kecerdasan emosional dengan prestasi akademik. Jika kecerdasan emosional tinggi maka
prestasi akademik tinggi, begitu pula sebaliknya.
Hasil data analisa, hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi (rxy) sebesar
0,248, p = 0,002 <0,05, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa
terdapat keterkaitan emosional cerdas dengan prestasi akademik siswa kelas XI SMK
Ma'arif Cicalengka.
Kecerdasan emosional berpengaruh sangat rendah terhadap prestasi akademik,
karena terdapat faktor yang berpengaruh dari kecerdasan emosi dengan prestasi akademik
itu sendiri. Prestasi akademik menunjukkan tingkat kesanggupan siswa mengikuti
rencana studi dalam kurun waktu yang tepat dengan cakupan yang telah ditetapkan. Tes
prestasi akademik yang diukur yaitu ilmu yang sudah dicapai siswa (masalah memori)
dan cara untuk menerapkan ilmu tersebut untuk menyelesaikan masalah yang ada
(perhitungan masalah, analisis masalah). Pada jenjang SMK, soal-soal yang biasanya
diuji pada taraf kemampuan mengingat, dan seringkali tingkat kemampuan penerapan dan
analisis hanya berlaku untuk mata pelajaran matematika, fisika dan kimia.. Prestasi
akademik biasanya ditampilkan dalam bentuk huruf atau angka. Naik atau turunnya
menunjukkan sejauh mana mahasiswa sudah menguasai materi tersebut, namun hal ini
tidak lagi diterima karena hasil transkrip bukan ditunjukan dengan sejauh mana
mahasiswa sudah menguasai materi tersebut. topik tertentu. Prestasi akademik
memengaruhi perilaku, keahlian dan keterampilan siswa tersebut, serta dapat diukur oleh
guru terkait melalui nilai standar tertentu.. Budaya yang berbeda dalam ekspresi emosi
antar negara saling berpengaruh dengan rendahnya kecerdasan seseorang. Ekspresi
emosional terbukti di satu negara / wilayah dapat tepat atau tidak di wilayah lain. Wilayah
benua Asia orang didorong untuk menyembunyikan dan menyembunyikan emosi negatif
karena Indonesia tidak memiliki skala kecerdasan emosional yang baku, maka penulis
Vol. 2, No. 2, Januari 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
88
http://matriks.greenvest.co.id
mencoba menetapkan skala kecerdasan emosionalnya menjadi seratus item berdasarkan
faktor-faktor yang diadopsi oleh Amerika Serikat dalam teori Daniel Gorman yaitu:
pengenalan emosi Anda sendiri, kontrol emosi Anda. emosi, memotivasi diri sendiri,
mengenali emosi orang lain dan membangun hubungan. Dari seratus item ini, 15 telah
jatuh. Hal ini terlihat pada observasi lapangan, dan beberapa subjek merasa kesulitan
untuk menentukan pilihan jawaban.
Selain itu, beberapa penelitian telah mengkonfirmasi pemisahan kecerdasan
emosional dan kecerdasan akademik, dan menemukan bahwa terdapat sedikit atau tidak
ada hubungan antara nilai tes prestasi akademik atau IQ dan kesejahteraan emosional,
karena orang yang menderita kemarahan atau depresi yang hebat masih dapat
merasakannya. kaya. Jika mereka dibayar dalam bentuk hiburan atau waktu bahagia
(Sarnoto, 2014). Menurut hasil survei besar-besaran orang tua dan anak-anak di Amerika
Serikat Guru menunjukkan bahwa anak-anak masa kini lebih sering mengalami masalah
emosional daripada generasi sebelumnya. Rata-rata, anak-anak sekarang tumbuh dengan
perasaan kesepian dan depresi, lebih mudah marah, kurang disiplin, lebih gugup, dan
lebih cemas, dan mereka menjadi impulsif dan agresif. Hal yang sama terjadi di negara
lain.
Menurut Dr. Thomas Achenbach, seorang psikolog di Universitas Vermont,
melakukan penelitian di negara lain. Ia mengatakan bahwa penurunan kemampuan dasar
anak-anak tersebut sepertinya sudah mendunia. Tanda paling jelas dari penurunan ini
adalah semakin banyak anak muda yang mengalami masalah seperti keputusasaan akan
masa depan dan isolasi, penggunaan narkoba, kejahatan dan kekerasan, depresi atau
masalah makan, kehamilan yang tidak diinginkan, kriminalitas, dan putus sekolah.
Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, anak yang mendapatkan pendidikan
emosional dapat mengatasi masalah yang terjadi di sekitarnya dengan lebih baik dan
dapat memenuhi persyaratan akademik sekolah. Kecerdasan emosional sendiri tidak
diajarkan secara khusus di sekolah, juga tidak tercatat dalam transkrip atau keterampilan
lain dan transkrip lainnya, sehingga tidak secara langsung berkontribusi dalam
peningkatan prestasi akademik.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan emosional siswa kelas XI SMK Ma’arif Cicalengka
bisa dikatakan beragam dilihat dari hasil penelitian yang di lakukan melalui angket.
Prestasi belajar siswa kelas XI SMK Ma’arif Cicalengka sebagian besar sangat bagus
sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti melalui angket. Hubungan
antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa kelas XI SMK Ma’arif
Cicalengka bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar
pada siswa kelas XI SMK Ma’arif Cicalengka yaitu 0.05 atau 5%.
Bibliografi
Akbar, A. (2017). Membudayakan literasi dengan program 6M di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan
Sekolah Dasar, 3(1), 4252.
Anggraini, V. D., & Mukhadis, A. (2013). Problem based learning, motivasi belajar, kemampuan
awal, dan hasil belajar siswa SMK. Jurnal Ilmu Pendidikan, 19(2).
Awang, I. S., Merpirah, M., & Mulyadi, Y. B. (2019). Kecerdasan Emosional Peserta Didik
Sekolah Dasar. Profesi Pendidikan Dasar, 6(1), 4150.
Damayanti, D. A. (2016). Pengaruh Kecerdasan Intelektual dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap
Prestasi Belajar IPS Siswa SMK Negeri 1 Gending Kabupaten
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Matriks: Jurnal
Belajar Siswa Kelas XI SMK Ma’arif Cicalengka,
Bandung
Taufik Ridwan
89
Probolinggo. Jurnal Penelitian Dan Pendidikan IPS, 10(3), 329336.
Dartija, D. (2014). Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Belajar Pendidikan
Jasmani Siswa SMP Negeri 1 Sawang Kabupaten Aceh Selatan. Jurnal Penjaskesrek, 1(1),
2639.
Efendi, Y. K. (2017). Pelaksanaan Program Pendidikan Pelatihan Di Dinas Tenaga Kerja
Transmigrasi Dan Kependudukan Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Khazanah Pendidikan,
10(2).
Gusniwati, M. (2015). Pengaruh kecerdasan emosional dan minat belajar terhadap penguasaan
konsep matematika siswa SMAN di Kecamatan Kebon jeruk. Formatif: Jurnal Ilmiah
Pendidikan MIPA, 5(1).
Hani, U. (2016). Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Belajar pada Mahasiswa
UNISKA Banjarmasin Jurusan PAI. AL’ULUM, 56(2).
Hulu, T., & Minauli, I. (2013). Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dan Efikasi Diri dengan
Prestasi Belajar. Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA, 5(2), 5056.
Khoeron, I. R., Sumarna, N., & Permana, T. (2014). Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Prestasi
Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Produktif. Journal of Mechanical Engineering
Education, 1(2), 291297.
Kurniawan, M. I. (2015). Tri pusat pendidikan sebagai sarana pendidikan karakter anak sekolah
dasar. PEDAGOGIA: Jurnal Pendidikan, 4(1), 4149.
Lestari, M. Y., & Diana, N. (2018). Keterampilan proses sains (KPS) pada pelaksanaan praktikum
Fisika Dasar I. Indonesian Journal of Science and Mathematics Education, 1(1), 4954.
Puspitasari, W. D. (2016). Pengaruh Sarana Belajar Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan
Sosial Di Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendas, 2(2).
Qodir, A. (2017). Teori Belajar Humanistik Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa.
PEDAGOGIK: Jurnal Pendidikan, 4(2).
Riadin, A., & Jailani, M. (2019). Perbedaan Peningkatan Hasil Belajar Ekonomi Dengan
Menerapkan Model Cooperatif Tipe NHT (Numbered Head Together) Dan Tipe IOC
(Inside Outside Circle) Pada Peserta Didik SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya.
Pedagogik: Jurnal Pendidikan, 14(2), 6070.
Sarnoto, A. Z. (2014). Kecerdasan Emosional Dan Prestasi Belajar: Sebuah Pengantar Studi
Psikologi Belajar. PROFESI, 3(4), 10.
Sianturi, K. (2018). Pengaruh Antara Kecerdasan Emosional dengan Penilaian Para Siswa dan
Siswi SD HKBP Teladan Medan. JURNAL ILMIAH SIMANTEK, 2(2).
Solichin, M. (2017). Analisis daya beda soal, taraf kesukaran, validitas butir tes, interpretasi hasil
tes dan validitas ramalan dalam evaluasi pendidikan. Dirasat: Jurnal Manajemen Dan
Pendidikan Islam, 2(2), 192213.
Sukriadi, S., Basir, A., & Rusdiana, R. (2016). Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa Pada Materi Sudut Dan Garis Di Kelas VII MTs Normal Islam
Samarinda. JPMI (Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia), 1(2), 6573.
Susilowati, D. (2018). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) solusi alternatif problematika
pembelajaran. Jurnal Ilmiah Edunomika, 2(01).
Thaib, E. N. (2013). Hubungan Antara prestasi belajar dengan kecerdasan emosional.
JURNAL ILMIAH DIDAKTIKA: Media Ilmiah Pendidikan Dan Pengajaran, 13(2). Waninda,
A. R. (2011). Prestasi Belajar IPS Ditinjau dari Kecerdasan Emosional dan
Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah 4 Surakarta Tahun Ajaran
2010/2011. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License.