
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Matriks: Jurnal
Belajar Siswa Kelas XI SMK Ma’arif Cicalengka,
Bandung
Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan dengan sengaja atau rutin
yang bertujuan untuk mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan (Efendi,
2017). Sekolah merupakan lembaga formal serta sarana untuk mencapai tujuan
pendidikan tersebut (Kurniawan, 2015). Siswa belajar berbagai hal di sekolah (Akbar,
2017). Perubahan positif dapat dilakukan jika kita mengikuti pendidikan formal
(Susilowati, 2018), sehingga pada tahap akhir akan diperoleh keterampilan, keterampilan
dan pengetahuan baru (Lestari & Diana, 2018). Hasil proses pembelajaran tercermin dari
prestasi belajar mereka (Khoeron, Sumarna, & Permana, 2014). Namun, untuk
mendapatkan hasil akademik yang memuaskan diperlukan proses pembelajaran
(Anggraini & Mukhadis, 2013).
Proses pembelajaran yang berlangsung dalam diri individu sangatlah penting,
karena melalui pembelajaran individu dapat memahami lingkungannya sendiri dan
beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Menurut (Qodir, 2017) belajar adalah proses
perubahan dari tidak mampu menjadi mampu dan terjadi dalam kurun waktu tertentu.
Melalui pembelajaran, siswa dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Belajar akan
mengubah seseorang. Untuk mengetahui sejauh mana perubahan tersebut, perlu dilakukan
penilaian. Mirip dengan apa yang terjadi pada siswa terpelajar, hasil belajar selalu
dievaluasi. Setelah siswa belajar, kemudian di evaluasi untuk mengetahui sejauh mana
tujuan belajar telah tercapai, inilah yang disebut dengan prestasi belajar.
Menurut (Puspitasari, 2016) prestasi belajar adalah Seperti yang tertera dalam
transkrip nilai prestasi belajar siswa. Melalui hasil belajar, siswa dapat memahami
kemajuan. Ia telah mengukir prestasi dalam studinya. Proses pembelajaran di sekolah
merupakan proses yang kompleks dan komprehensif. Banyak orang berpikir seperti itu
prestasi akademis yang tinggi, harus punya IQ tinggi, karena kecerdasan merupakan
persiapan yang potensial. Mempromosikan sistem belajar, setelah mendapat kesempatan
akan mengarah pada hasil pembelajaran optimal (Gusniwati, 2015). Menurut Binet dalam
(Damayanti, 2016) Inti dari kecerdasan adalah kemampuan untuk menetapkan dan
mempertahankan tujuan, melakukan penyesuaian untuk mencapai tujuan tersebut, dan
mengevaluasi secara kritis dan objektif situasi seseorang.
Kedua jenis kecerdasan itu diperlukan. Jika tidak ada apresiasi dalam emosional
belajar di sekolah, IQ tidak akan berfungsi. Kedua jenis kecerdasan ini saling melengkapi.
IQ dan EQ yang seimbang adalah kunci keberhasilan siswa dalam belajar (Thaib, 2013).
Pendidikan sekolah tidak hanya perlu mengembangkan kecerdasan rasional (ini adalah
model pemahaman yang biasanya dipahami siswa), tetapi juga perlu mengembangkan
cara mengontrol emosi siswa.
Peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, kecerdasan emosional
selalu mendahului kecerdasan rasional. (Waninda, 2011). Kecerdasan emosional mampu
untuk membuat seseorang berhasil dan berprestasi merintis karir, menjalin silaturahmi
yang harmonis antara suami dan istri, serta dapat mengurangi agresi terutama di kalangan
remaja. (Sukriadi, Basir, & Rusdiana, 2016).
Menurut Goleman yang dikutip dari (Awang, Merpirah, & Mulyadi, 2019),
Kecerdasan emosional mampu mengatur kehidupan emosional seseorang melalui
kecerdasan, melalui pengalaman pribadi, mengontrol diri, menyemangati diri, solidaritas
dan bersosialisasi, menjaga emosi dan ekspresi mereka secara harmoni.
Menurut Goleman yang dikutip dari (Dartija, 2014), terlebih bagi mereka yang
berpengetahuan tinggi akan memiliki rasa cemas, terlalu pilih-pilih, kritis, penutup,
tampil cuek serta sulit mengungkapkan amarah dan amarahnya dengan tepat. Jika
didukung oleh kecerdasan emosional yang rendah, biasanya orang seperti inilah yang
menjadi provokator. Karena ciri-ciri di atas, seseorang yang memiliki IQ tinggi tetapi