Vol. 3, No. 1, Juli 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
1 http://matriks.greenvest.co.id
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN GAYA KEPEMIMPINAN
TERHADAP KEPUASAN KERJA PERANGKAT DESA
Jefri Babu Hahang
Universitas Teknologi Indonesia (UTI) Nusa Dua Badung Bali, Indonesia
Diterima:
21 Juni 2021
Direvisi:
5 Juli 2021
Disetujui:
14 Juli 2021
Abstrak
Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung sebagai
kepanjangan tangan pemerintah yang memberikan pelayanan kepada
masyarakat ditingkat desa diharapkan didukung oleh perangkat desa
yang mempunyai kecakapan kerja yang tinggi. Tujuan penelitian yang
dilakukan yaitu untuk mengetahui budaya organisasi, untuk
mengetahui gaya kepemimpinan dan untuk mengetahui pengaruh
budaya organisasi serta gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja
perangkat desa di Kantor Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan.
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif, observasi,
wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pelaksanaan budaya organisasi di Desa Kutuh sudah cukup baik hal ini
dibuktikan dengan tingkat kedisiplinan pegawai yang tinggi, kualitas
komunikasi pimpinan dan pegawai yang cukup baik yang
mengakibatkan terciptanya kerja sama dalam melaksanakan tugas.
Gaya kepemimpinan menggambarkan efektivitas suatu kepemimpinan
di dalam beberapa situasi. Tingkat kepuasan kerja pegawai Kantor
Desa Kutuh adalah tinggi. Faktor kepuasan kerja pegawai adalah
pekerjaan, gaji, penghargaan dari pimpinan, hubungan dengan sesama
rekan kerja serta lingkungan kerja fisik.
Kata kunci: Budaya Organisasi; Gaya Kepemimpinan; Kepuasan
Kerja
Abstract
Kutuh Village, South Kuta District, Badung Regency as an extension
of the government's hand that provides services to the community at
the village level is expected to be supported by village devices that
have high work proficiency. The purpose of the research is to know the
culture of the organization, to know the leadership style and to know
the influence of organizational culture and leadership style on the job
satisfaction of village devices in kutuh village office in South Kuta
District. This research was conducted by qualitative methods,
observations, interviews and documentation. The results showed that
the implementation of organizational culture in Kutuh Village is good
enough as evidenced by the high level of employee discipline, good
quality of communication of leaders and employees resulting in the
creation of cooperation in carrying out tasks. Leadership style
describes the effectiveness of leadership in some situations. The level
of job satisfaction of kutuh village office employees is high. Employee
satisfaction factors are employment, salary, awards from the
leadership, relationships with fellow colleagues and the physical work
environment.
Keywords: Organizational Culture; Leadership Style; Job
Satisfaction
Pengaruh Budaya Organisasi dan Gaya Kepemimpinan
Terhadap Kepuasan Kerja Perangkat Desa
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
Jefri Babu Hahang 2
Pendahuluan
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengandung prinsip welfare state sebagai
prinsip kesatuan (unitary state) (Koswara, 2018) yang dibentuk dalam rangka
mengokohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (Soepandji, 2018) di bawah
janji Pemerintah Republik dan bukan monarki. Bentuk pemerintahan secara hierarki
mempunyai beban pertanggungjawaban yang sama terhadap amanat yang telah digariskan
oleh Undang-Undang Dasar 1945 (Muin, 2018), baik Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah otonom maupun Pemerintah Desa. Pemerintah Desa keberadaannya telah diatur
pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 72
Tahun 2005 (Firdaus, 2011), yang di dalamnya terdapat subtansi tentang kedudukan dan
kewenangan Pemerintah Desa (Makmun, Sensu, & Jafar, 2020).
Peraturan perundang-undangan tersebut, dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan
pada Pemerintah Desa yang merupakan ujung tombak pemerintahan Republik Indonesia
(Aji, 2017). Pemerintah Desa dalam Peraturan Pemerintah No. 72/2005 yang mengatur
khusus tentang Desa (Ramadana, 2013), menyebutkan bahwa unsur penyelenggara
Pemerintah Desa dipegang oleh Perangkat Desa dan dikepalai oleh Kepala Desa
(Sukimin, 2020).
Sesuai perhitungan Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) pada tahun 2008
jumlah desa di Indonesia 63.712 lebih (Haryokusumo & Andriyani, 2011) atau 78%
rakyat Indonesia berada pada naungan Pemerintah Desa. Pemerintahan Desa diharapkan
dapat menjadi unit terdepan dalam pelayanan kepada masyarakat (Zarkasi & Dimasrizal,
2019), serta menjadi tonggak strategis untuk keberhasilan semua program karena secara
normatif (Yusuf, 2020) masyarakat akar-rumput (grass root) seperti halnya masyarakat
pedesaan sebenarnya bisa menyentuh langsung (Arditama & Lestari, 2020) serta
berpartisipasi dalam proses pemerintahan dan pembangunan di tingkat desa (Hardianti,
2017).
Apabila ingin dapat menjalankan amanatnya dengan baik, Pemerintah Desa mutlak
harus didukung penuh oleh perangkat desa yang merupakan pendukung kinerja
Pemerintah Desa (Adiwilaga, Alfian, & Rusdia, 2018). Kontribusi perangkat desa pada
pemerintah desa akan menjadi penting, jika dilakukan dengan tindakan efektif dan
berperilaku secara benar. Sifat-sifat yang ada pada diri perangkat desa, upaya atau
kemauan untuk bekerja, serta berbagai hal yang merupakan dukungan dari organisasi
sangat besar artinya bagi keberhasilan kinerja pemerintah desa.
Banyak hal yang menjadi perhatian pihak manajemen Pemerintah Desa guna
mendorong kinerja perangkat desa diantaranya dalam kaitan budaya organisasi, gaya
kepemimpinan dan kepuasan kerja bagi perangkat desa. Bagi perangkat desa, pemerintah
desa tidak hanya sekedar tempat ia mencari nafkah untuk hidup, akan tetapi juga sebagai
tempat untuk menempuh identitas atau jati diri, wadah untuk mengembangkan serta
mengaktualisasikan diri, juga sebagai wadah untuk membuktikan kemampuan dan
keahliannya, yang pada akhirnya menimbulkan kebanggan bagi dirinya. Kebanggaan
menjadi perangkat desa merupakan indikator bahwa perangkat desa tersebut telah
memiliki identitas organisasi. Identitas ini merupakan salah satu ciri tertanamnya nilai-
nilai yang ada tercermin di dalam budaya organisasi suatu pemerintah desa.
Kepemimpinan merupakan suatu upaya penggunaan jenis pengaruh yang bersifat
bukan paksaan (non coersive) untuk memotivasi kegiatan pengikut melaui proses
komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Tingkat dari efektivitas pimpinan dapat
dipandang dari kemampuannya dalam pencapaian tujuan organisasi. Pemimpin yang
efektif juga harus mampu mengintegrasikan tujuan-tujuan yang terbentuk secara individu
Vol. 3, No. 1, Juli 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
3 http://matriks.greenvest.co.id
dari tiap-tiap anggota tim yang dipimpinnya. Melalui gaya kepemimpinannya seorang
pemimpin akan mengarahkan orang lain agar senantiasa memikirkan dan mencapai tujuan
organisasi.
Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung sebagai kepanjangan
tangan pemerintah yang memberikan pelayanan kepada masyarakat ditingkat desa
diharapkan didukung oleh perangkat desa yang mempunyai kecakapan kerja yang tinggi,
sikap dan perilaku yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sikap yang konsisten dari
pegawai yang mencerminkan kepuasan kerja. Di Desa Kutuh diketahui adanya indikasi
menurunnya tingkat kecakapan kerja perangkat desa dikarenakan menurunnya tingkat
kepuasan kerja. Ada beberapa isu diantaranya kurang obyektifnya sistem pemberian
kompensasi, dan promosi bagi perangkat desa yang menciptakan budaya organisasi yang
kurang kondusif. Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu untuk mengetahui budaya
organisasi, untuk mengetahui gaya kepemimpinan dan untuk mengetahui pengaruh
budaya organisasi serta gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja perangkat desa di
Kantor Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan. Manfaat penelitian ini yaitu untuk
meningkatkan dan mengoptimalkan seluruh sistem organisasi di Kantor Desa Kutuh
Kecamatan Kuta Selatan.
Metode Penelitian
Metode penelitian kualitatif sebagai suatu pendekatan atau penelusuran untuk
mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral. Untuk mengerti gejala sentral
tersebut, peneliti mewawancarai peserta penelitian atau partisipan dengan mengajukan
pertanyaan yang umum dan agak luas. Informasi kemudian dikumpulkan yang berupa
kata maupun teks. Kumpulan informasi tersebut kemudian dianalisis. Dari hasil analisis
peneliti kemudian menjabarkan dengan penelitian-penelitian ilmuwan lain yang dibuat
sebelumnya.
Hasil akhir penelitian kualitatif dituangkan dalam bentuk laporan tertulis
Berdasarkan penelitian ini diperlukan data atau keterangan dan informasi. Untuk itu
penelitian menggunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan
dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik analisa kualitatif. Terdapat beberapa langkah dalam melakukan analisis data yaitu
reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil dan Pembahasan
A. Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kepuasan Kerja Perangkat Desa
Budaya organisasi merupakan gambaran perspekstif dari budaya dalam
organisasi yaitu sebagai seorang individu yang melakukan kontak dengan organisasi.
Mereka melakukan kontak dengan berpakaian norma, cerita orang yang mengatakan
tentang apa yang dilakukan, peraturan formal di dalam organisasi beserta prosedur
merupakan kode formal dari perilaku yang diyakini, tugas, sistem pembayaran, logat
(jargon) dan manifestasi dari budaya organisasi. Teori kepribadian mengatakan, di
dalam membantu beberapa perspektif dari budaya yang baik adalah ketika budaya
anggota organisasi diinterpretasikan dengan pengertian dari manifestasi persepsi
mereka, ingatan, kepercayaan, pengalaman dan nilai yang bervariasi, juga
interpretasi akan membedakan kejadian dari fenomena yang sama. Teori ini juga
menyatakan bahwa seseorang yang masuk ke dalam suatu organisasi dengan
membawa baju norma mereka masing-masing, serta logat dan cerita pengalaman
mereka dengan nilai-nilai yang bervariasi adalah merupakan suatu fenomena yang
sama.
Pengaruh Budaya Organisasi dan Gaya Kepemimpinan
Terhadap Kepuasan Kerja Perangkat Desa
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
Jefri Babu Hahang 4
Seorang pemimpin berperan dominan dalam menentukan isu-isu sentral,
terutama yang berkaitan dengan pengambilan keputusan strategik. Disamping itu
seorang pemimpin juga memiliki kewajiban untuk melakukan supervisi dan
mengevaluasi kinerja bawahan. Struktur dari suatu organisasi merupakan inter
relasional dari beberapa faktor yang saling berkaitan. Termasuk didalamnya adalah
kebudayaan masyarakat di mana organisasi tersebut lahir. Organisasi dalam
perkembangannya merupakan perwujudan suatu desain yang diarahkan oleh
berbagai individu yang memiliki nilai, pengalaman dan pandangan yang berbeda,
dan yang dalam kadar tertentu mencerminkan kepribadian dari mereka yang
memimpin dan membentuk organisasi tersebut. Suatu organisasi dalam pengertian
tertentu dapat dikatakan sebagai suatu hasil dari proses eksperimen sosial, yang terus
berubah dan menyesuaikan diri sejalan dengan perubahan lingkungan sekitarnya.
Perubahan dari suatu budaya atau system nilai yang ada dalam suatu organisasi
merupakan suatu proses yang bersifat berkelanjutan, selama faktor-faktor lain yang
berpengaruh ikut berubah.
Sehubungan dengan hal tersebut maka penulis menanyakan beberapa
pertanyaan terkait Budaya Organisasi kepada Kepala Desa Kutuh yaitu Bapak I
Wayan Purja, SE mengenai keterampilan tertentu (spesialisasi kerja) yang
dibutuhkan dalam bidang pekerjaan. “Bagaimana komunikasi yang dijalin antar
perangkat desa di Kantor Desa Kutuh?” Beliau menjawab:
Komunikasi antar perangkat desa terkait dengan pekerjaan, terjalin sangat
baik, apalagi saat ini dengan adanya media sosial terutama WhatsApp sangat
mendukung komunikasi antara kami, bahkan sekarang sedang diglakkan
penggunaaan zoom sebagai prasarana untuk meeteng secara daring membuat
komunikasi akan lebih baik lagi.”
Kemudian penulis menanyakan satu pertanyaan lagi, “Bagaimana sikap
pimpinan terhadap aspirasi dari bawahan?” Beliau menjawab:
Bagi saya aspirasi dari pegawai dibawah saya adalah inspirasi bagi saya
untuk melakukan tugas saya untuk lebih baik sehingga, saya selalu bersikap baik
dan menampung semua aspirasi dari pegawai Kantor Desa Kutuh sepanjang
aspirasi itu mempunyai kans untuk memberikan solusi yang lebih baik.”
Selanjutnya penulis menanyakan beberapa pertanyaan terkait ketaatan
terhadap peraturan kepada Kaur Bidang Umum yaitu Ibu Ni Luh Made Suryani.
mengenai sikap sebagai bagian dari sistem. “Bagaimana perasaan anda sebagai
bagian dari pegawai Kantor Desa Kutuh?” Beliau menjawab:
Saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari pegawai Kantor Desa Kutuh,
karena saya merasakan kehidupan kerja yang dinamis disini, organisasi berjalan
dengan baik dengan kerjasama yang luarbiasa bagus sehingga kami semua pegawai
Kantor Desa Kutuh merasakan dunia kerja yang kondusif dan nyaman.
Kemudian penulis menanyakan pertanyaan berikutnya, “Apa pendapat anda
tentang kesempatan perangkat desa dalam memperoleh pengetahuan seluas-
luasnya?”Beliau menjawab:
Saya sebagai pegawai Kantor Desa Kutuh sampai saat ini selalu dimotivasi
oleh pimpinan dalam hal ini I Wayan Purja untuk selalu menambah wawasan dan
pengetahuan seluas luasnya apalagi kesempatan untuk studi lanjut beliau sangat
mendukung.
Kemudian penulis menanyakan satu pertanyaan lagi, “Bagaimana cara
memecahkan masalah di Kantor Desa Kutuh?”Beliau menjawab:
Jika ada masalah yang terjadi di Desa Kutuh, Kami selalu melakukan rapat
bersama yang dipimpin oleh kepala Desa Kutuh untuk mendiskusikan bagaimana
Vol. 3, No. 1, Juli 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
5 http://matriks.greenvest.co.id
memecahkan masalah yang sedang dihadapi, setiap person dalam rapat mempunyai
kontribusi yang sama dalam menyampaikan pendapat sehingga rapat bisa berjalan
dengan demokratis dan hasil keputusan adalah merupakan kesepakatan bersama.
Dengan adanya penjelasan diatas dapat dilihat bahwa pegawai Kelurahan
Kantor Desa Kutuh menjalin komunikasi antar pegawai berjalan dengan baik,
aspirasi pegawai Kantor Desa Kutuh selalu ditampung oleh pimpinan sebagai
masukan untuk melaksanakan pekerjaan lebih baik.
Suatu budaya yang kuat ditunjukkan dalam kehidupan di Kantor Desa Kutuh
yang diperlihatkan dengan adanya kesepakatan yang tinggi mengenai tujuan
organisasi di antara anggota-anggotanya. Kebulatan suara terhadap tujuan akan
membentuk keterikatan, kesetiaan, dan komitmen organisasi, kondisi ini selanjutnya
akan membawa kecenderungan pegawai untuk merasa puas dalam malaksanakan
pekerjaannya.
B. Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja Perangkat Desa
Kepemimpinan merupakan suatu upaya penggunaan jenis pengaruh yang
bersifat bukan paksaan (non coersive) untuk memotivasi kegiatan pengikut melaui
proses komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Tingkat dari efektifitas pimpinan
dapat dipandang dari kemampuannya dalam pencapaian tujuan organisasi. Pemimpin
yang efektif juga harus mampu mengintegrasikan tujuan-tujuan yang terbentuk
secara individu dari tiap-tiap anggota tim yang dipimpinnya.
Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk
mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung
jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan
perusahaan. Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan
mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya.Secara sederhana
pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain,
sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
Gaya kepemimpinan merupakan hal yang penting dan utama untuk
berjalannya suatu organisasi. Setiap diri manusia memiliki keterbatasan dimana hal
tersebut membutuhkan seseorang untuk melengkapinya, maka dalam sebuah
organisasi memimpin dan dipimpin merupakansuatu kebutuhan. Kepemimpinan
dicirikan sebagai seorang suatu cara atau sikap individual, kebiasaan, serta cara
memengaruhi suatu individu kepada individu lain melalaui suatu interaksi. Seorang
pemimpin memiliki cara serta ciri tersendiri dalam proses kepemimpinan mereka di
sebuah organisasi, maka dari itu gaya kepemimpinan sangat mempengaruhi proses
kegiatan, tujuan, serta output dalam organisasi tersebut. Berdasarkan penelitian ini
akan digali variabel gaya kepemimpinan di Kantor Desa Kutuh, maka penulis
menanyakan beberapa pertanyaan terkait Gaya Kepemimpinan kepada Kaur
Kesejrateraan Sosial Masyarakat yaitu bapak I Ketut Artana mengenai motivasi
kepala Desa Kutuh . “Bagaimana pimpinan memberikan motivasi kepada pegawai
Kantor Desa Kutuh?” Beliau menjawab:
Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan
untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan
kekuasaan, termasuk didalamnya adalah bagaimana seorang pemimpin memberi
motivasi kepada jajarannya. Pak I Wayan Purja, SE, selaku Kepala Desa Kutuh
selalu memberikan motivasi kepada jajarannya baik secara terbuka maupun secara
pribadi, pada saat rapat beliau selalu memberikan motivasi kepada kami supaya
tetap bekerja dengan professional dan mengedepankan kepentingan masyarakat.
Pengaruh Budaya Organisasi dan Gaya Kepemimpinan
Terhadap Kepuasan Kerja Perangkat Desa
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
Jefri Babu Hahang 6
Penulis melanjutkan pertanyaan berikutnya kepada bapak I Ketut Artana
mengenai pendelegasian wewenang: “Bagaimana pimpinan dalam mendelegasikan
wewenang berkaitan dengan bidang pekerjaan anda?” Beliau menjawab:
Di Desa Kutuh setiap ada maslah selau dipecahkan secara bersama sama
dengan menunjuk seseorang sebagai koordinator kerja tim, koordinator inilah yang
diberikan kewenangan oleh Kepala Desa Kutuh untuk mengkoordinir tim supaya
bisa bekertja dengan efisien dan efektif. Itu merupakan salah satu contoh
pendelegasian wewenang yang dilakukan oleh Bapak Lurah Desa Kutuh.
Kemudian penulis melakukan wawancara denga kepala urusan pembangunan
yaitu Bapak I Ketut Sukartono tentang pengawasan: “Bagaimana pimpinan dalam
melaksanakan pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai?”
Beliau menjawab:
Hasil pekerjaan yang telah dilaksankan oleh pegawai kantor Desa Kutuh
memerlukan system pengendalian agar berjalan dengan baik, beiasanya dalam
proses pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh pegaswai, lebih sering
dilakukan oleh Bapak Lurah sendiri, namun terkadang melibatkan tim bila
memmungkinkan. Pengawasan dilakukan untuk mencegah hal hal yang tidak
diinginkan, karena pegawai bekerja tetapi tidak selalu memberikan kepuasan
kepada semua pihak, kadangkala muncul gap antara harapan masyarakat dengan
kualitas layanan yang diberikan.”
Kepada Bapak I Ketut Sukartono penulis masih mengajukan pertanyaan
keempat berikutnya terkait tentang kekuasaan: “Bagaimana kemampuan pimpinan
dalam memanfaatkan kekuasaan dalam mengatur bawahannya?” Beliau menjawab:
Kepala Desa sebagai pemimpin kami selalu menumbuhkan pemahaman dan
kesadaran orang-orang yang dipimpinnya bahwa tindakan yang dia lakukan adalah
untuk kepentingan semua system di Kantor Desa Kutuh. Kami merasa bahwa hasil
kerja kepemimpinannya bukan semata-mata menguntungkan diri sendiri tetapi untuk
semua pegawai secara keseluruhan. Kekuasaan Kepala Desa digunakan dengan
baik dalam mengatur bawahannya sepaya bisa bekerja dengan baik dan efisien.
Selanjutnya penulis mengajukan pertanyaan kelima terkait tentang
produktivitas: “Bagaimana pimpinan dalam memberikan penghargaan atas prestasi
atau hukuman atas kesalahan yang diberikan kepada perangkat desa?” Beliau
menjawab:
Hasil pekerjaan yang telah dilaksankan oleh pegawai Kantor Desa Kutuh
mempunyai kecenderungan menghasilkan pekerjaan yang baik, namun demikian
tidak selalu memberikan kepuasan kepada semua pihak, kadangkala muncul gap
antara harapan masyarakat dengan kualitas layanan yang diberikan, pimpinan
selalu memberikan apresiasi kepada pegawai yang telah melakukan tugasnya
dengan baik dengan cara memberikan pujian pada sat rapat atau upacara, atau
penghargaan lain yang bersifat materialis. Sedangkan bagi pegawai yang kurang
berhasil, pimpinan selalu memberikan motivasi untuk bisa bekerja lebih baik, jika
melakukan kesalahan yang fatal maka pimpinan memberikan sangsi.
Tata pemerintahan di Indonesia ini telah berganti dari masa orde lama hingga
reformasi, pandangan masyarakat akan seorang pemimpin adalah sebagai “tuan”
mereka, seorang individu yang harus disegani dan dihormati. Ada jarak yang harus
diciptakan antara seorang pemimpin pemerintah kepada masyarakat. Bahkan,
walaupun negara ini sudah menganut system demokrasi, tetap saja pola pikir
masyarakat akan seorang pemimpin adalah hubungan yang formal, dimana pimpinan
digambarkan seorang kemudi, yang masyarakatnya tidak berhak tahu secara detail
apa saja yang direncanakan, hasil yang telah dicapai, serta jumlah anggaran yang
Vol. 3, No. 1, Juli 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
7 http://matriks.greenvest.co.id
telah digelontorkan, masayarakat hanya mampu duduk sebagai penumpang yang
mengikuti kemana mereka akan dibawa pergi.
Setiap pemimpin memiliki ciri sikap sendiri dalam memimpin. Indonesia kini
memiliki pemimpin yang cukup memberikan banyak inovasi dengan gaya
kepemimpinannya masing-masing. Sebagai contoh kecil Ganjar Pranowo adalah satu
dari sekian pemimpin yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Perhatian
masyarakat tersebut ia rebut dari berbagai aktivitas yang ia lakukan serta kasus yang
sedang tertuduh kepadanya yaitu kasus korupsi KTP elektronik.
Pada tanggal 23 Agustus 2013 Jawa Tengah resmi memiliki gubernur baru
yaitu Ganjar Pranowo. Menurut hasil wawancara Najwa Syihab terhadap Direktur
Komunikasi Indonesia Indikator dalam acara “Mata Najwa” mengungkapkan bahwa:
Ganjar Pranowo merupakan sosok pemimpin kekinian, dimana ia sebagai seorang
pemimpin yang sadar media yang mana mampu menggunakan teknologi,seperti
pembuatan beberapa website. Ganjar Pranowo juga dinilai mampu memiliki
komunikasi yang baik. Gaya kepemimpinan Ganjar dinilai berbeda dengan gaya
kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah sebelumnya yaitu Pemerintahan Ali Mufiz
(Tahun 2006-2007) dan Bibit Waluyo (Tahun 2008-2013). Ganjar Pranowo dinilai
sebagai pemimpin yang sadar media, tegas, namun tetap jenaka.
Sebagai pemimpin yang memimpin wilayah administrasi sebanyak 29 wilayah
kabupaten, 6 wilayah kota, 573 wilayah kecamatan, 750 wilayah kelurahan dan 7809
wilayah desa. Kemudian memiliki cakupan luas wilayah 32.800,69 km2 dan
memiliki empat jumlah penduduk sebesar 34.897.757 juta jiwa tentu Ganjar
memiliki tugas besar dalam menyelsaikan permasalahan di provinsi yang dinamakan
Semarang. Luasnya wilayah serta banyaknya jumlah penduduk tentunya
menimbulkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Semarang ini seperti
perbaikan infrastruktur, pemanfaatan sumber daya alam, peningkatan ekonomi, dan
peningkatan potensi wisata.
Berdasarkan penilaian evaluasi yang dilakukan oleh Kementrian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi (Kemenpan RB) Pemprov
Jateng mendapatkan posisi paling teratas, hal tersebut dibuktikan dengan perubahan
pelayanan yang dilakukan oleh para birokratnya menjadi lebih mudah murah dan
cepat bagi masyarakat.
C. Kepuasan Kerja Perangkat Desa
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual. Setiap
individu akan memiliki kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang
berlaku pada dirinya. Ini disebabkan adanya perbedaan pada masingmasing individu,
semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan
individu tersebut maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya,
demikian pula sebaliknya. Kepuasan kerja sebagai sekumpulan perasaan, kepuasan
kerja bersifat dinamis, dapat menurun dan timbul pada waktu dan tempat berbeda.
Secara umum kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya dengan menggeneralisasikan sikap-sikap yang didasarkan pada aspek-
aspek pekerjaan yang bermacam-macam. Aspek yang berhubungan dengan
pekerjaan diantaranya seperti upah atau gaji yang diterima, kesempatan
pengembangan karir, hubungan dengan karyawan lainnya, penempatan kerja, jenis
pekerjaan, struktur organisasi perusahaan dan mutu pengawasan.
Untuk mengetahui kondisi kepuasan kerja pegawai Kantor Desa Kutuh,
peneliti melakukan wawancara dengan beberapa Pegawai Kantor Kelurahan.
Peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Urusan Bidang Umum Ibu Ni Luh
Pengaruh Budaya Organisasi dan Gaya Kepemimpinan
Terhadap Kepuasan Kerja Perangkat Desa
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
Jefri Babu Hahang 8
Made Suryani tentang kepuasan pekerjaan: Jelaskan apakah pekerjaan anda memberi
nilai kepuasan tersendiri? Beliau menjawab:
Saya mengabdi di Kantor Desa Kutuh sudah sepuluh tahun dan sebelumnya
saya bekerja di instansi lain, di Kantor Desa Kutuh saya merasakan pekerjaan yang
memberikan rasa aman dan didukung dengan rekan kerja serta budaya organisasi
yang kondusif membuat saya merasa bahwa pekerjaan saya di Kantor Desa Kutuh
sebagai Kepala Urusan bidang umum telah membuat saya merasa puas.
Peneliti mengajukan pertanyaan lagi kepada Ibu Ni Luh Made Suryani
tentang kepuasan atas gaji yang diterima: Ibu jelaskan apakah anda merasa puas
dengan gaji yang anda terima? Beliau menjawab:
Gaji yang saya terima dalam sebulan atas pekerjaan saya sebagai Kepala
Urusan di Kantor Desa Kutuh, lebih dari cukup untuk kebutuhan saya setiap
bulannya, karena itu saya merasa puas dengan gaji yang saya terima setiap
bulannya.
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Urusan
Pemerintahan Bapak I Made Suwita, tentang kepuasan kesempatan promosi dan
kesempatan maju: Jelaskan apakah kesempatan promosi dan kesempatan untuk maju
di Kantor Desa Kutuh sangat memuaskan? Beliau menjawab:
Sebagai pegawai negeri tentunya sudah ada mekanismen tersendiri terkait
kesempatan promosi, dan kami para pegawai sudah menyadari apabila ada peluang
promosi dan kesempatan untuk maju, kami akan bisa menerima dengan lapang
dada, peluang promosi terkadang memberikan efek kurang baik bagi kami yang
sudah bekerja lama disini, jadi untuk peluang promosi kami merasa masih harus
diperbaiki sistemnya supaya memberi kepuasan kepada pegawai.”
Peneliti melanjutkan wawancara dengan Bapak I Made Suwita untuk
menanyakan tentang penghargaan dari pimpinan.: Jelaskan apakah anda merasa
puas dengan pimpinan dalam memberikan penghargaan? Beliau menjawab:
Kami sangat puas dengan penghargaan yang diberikan Kepala Desa kepada
kami atas hasil pekerjaan yang telah kami laksanakan. pimpinan selalu memberikan
apresiasi kepada pegawai yang telah melakukan tugasnya dengan baik dengan
berbagai cara diantaranya adalah dengan memberikan pujian pada sat rapat atau
upacara kepada pegawai yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik,,
terkadang pimpinan juga pernah memberikan penghargaan lain seperti memberikan
bonus atau insentif.”
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan Staf Keuangan Ibu Ni Luh
Made Suryani, tentang kepuasan hubungan dengan rekan sekerja: Jelaskan apakah
anda merasa puas dalam hal hubungan dengan rekan sekerja? Beliau menjawab:
Tentunya kami sangat puas dengan kualitas hubungan sesame rekan kerja
yang terjadi di Kantor Desa Kutuh, karena di Jantor Desa Kutuh mempunyai iklim
yang kondusif saling menghargai dan menghormati, dan kami sudah terbiasa
dengan selalu bekerja sama dan saling membantu jika ada pekerjaan yang belum
bisa diselesaikan.”
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara yang terakhir dengan Ibu Ni Luh
Made Suryani, tentang kepuasan lingkungan fisik: Jelaskan apakah anda merasa puas
terhadap lingkungan fisik atau kondisi tempat kerja? Beliau menjawab:
Lingkungan tempat kerja di Kantor Desa Kutuh memberikan kenyaman
kepada kami sebagai pegawai, karena suasananya yang rapid an bersih memberikan
rasa nyaman. Dan saya secara pribadi merasa sangat puas dengan lingkungan di
Kantor Desa Kutuh.”
Vol. 3, No. 1, Juli 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
9 http://matriks.greenvest.co.id
Pegawai Kantor Desa Kutuh merasakan pekerjaan sebagai pegawai Kantor
Desa Kutuh memberikan rasa aman dan didukung dengan rekan kerja serta budaya
organisasi yang kondusif membuat pegawai merasa bahwa pekerjaan saya di Kantor
Desa Kutuh sebagai Kepala Urusan bidang umum telah membuat mereka merasa
puas. Namun demikian ada pegawai yang merasa kurang puas dengan kesempatan
promosi dan kesempatan maju serta menyarankan untuk memperbaiki sistem
promosi di Kantor Desa Kutuh.
Tingkat kepuasan terhadap penghargaan yang diberikan pimpinan di Kantor
Desa Kutuh, menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi dimana pegawai merasa
sangat puas dengan penghargaan yang diberikan Kepala Desa atas hasil pekerjaan.
Kepala Desa selalu memberikan apresiasi kepada pegawai yang telah melakukan
tugasnya dengan baik dengan berbagai cara diantaranya adalah dengan memberikan
pujian pada sat rapat atau upacara kepada pegawai yang telah melaksanakan
tugasnya dengan baik, terkadang pimpinan juga pernah memberikan penghargaan
lain seperti memberikan bonus atau insentif. Secara umum, dapat diambil
kesimpulan bahwa tingkat kepuasan kerja pegawai Kantor Desa Kutuh adalah tinggi.
Faktor yang menjadi pemicu kepuasan kerja pegawai adalah pekerjaan, gaji,
penghargaan dari pimpinan, hubungan dengan sesama rekan kerja, serta lingkungan
kerja fisik.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu budaya
Organisasi pada Kantor Desa Kutuh berada pada kategori baik hal ini didasarkan pada
hasil observasi dan wawancara penulis di Kantor Desa Kutuh, ditemukan bahwa
pelaksanaan budaya organisasi di Desa Kutuh sudah cukup baik hal ini dibuktikan dengan
tingkat kedisiplinan pegawai yang tinggi, kualitas komunikasi pimpinan dan pegawai
yang cukup baik yang mengakibatkan terciptanya kerja sama dalam melaksanakan tugas.
Gaya kepemimpinan pada Kantor Kelurahan Kutuh menggambarkan efektivitas suatu
kepemimpinan di dalam beberapa situasi, serta dapat dipergunakan di dalam
meningkatkan produktivitas organisasi, baik secara kelompok maupun secara sendiri-
sendiri bagi pemimpin dan anggota-anggotanya. Model kepemimpinan menggambarkan
perilaku yang digunakan oleh Kapala Desa dalam mempengaruhi perilaku-perilaku orang
lain seperti yang ada di bawahnya. Secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat
kepuasan kerja pegawai Kantor Desa Kutuh adalah tinggi. Faktor yang menjadi pemicu
kepuasan kerja pegawai adalah pekerjaan, gaji, penghargaan dari pimpinan, hubungan
dengan sesame rekan kerja serta lingkungan kerja fisik.
Bibliografi
Adiwilaga, Rendy, Alfian, Yani, & Rusdia, Ujud. (2018). Sistem Pemerintahan
Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.
Aji, Ian. (2017). Undang-Undang Desa Sebagai Legitimasi Desa (Desa Dalam Hukum
Ketatanegaraan Indonesia). Legal Standing: Jurnal Ilmu Hukum, 1(1), 4662.
Arditama, Erisandi, & Lestari, Puji. (2020). Jogo Tonggo: Membangkitkan kesadaran dan
ketaatan warga berbasis kearifan lokal pada masa pandemi Covid-19 di Jawa
Tengah. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(2), 157167.
Firdaus, Emilda. (2011). Badan Permusyawaratan Desa dalam Tiga Periode Pemerintahan
di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum, 2(2).
Hardianti, Sri. (2017). Partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur desa
(program alokasi dana desa di Desa Buntongi Kecamatan Ampana Kota). Katalogis,
5(1).
Pengaruh Budaya Organisasi dan Gaya Kepemimpinan
Terhadap Kepuasan Kerja Perangkat Desa
Matriks: Jurnal
Sosial dan Sains
Jefri Babu Hahang 10
Haryokusumo, Diaz, & Andriyani, Andriyani. (2011). Menilik Asa Sang Pamong Desa
(Studi Kasus Motivasi Kerja Perangkat Desa di Kabupaten Boyolali). Universitas
Diponegoro.
Koswara, Indra Yudha. (2018). Perlindungan Tenaga Kesehatan dalam Regulasi
Perspektif Bidang Kesehatan Dihubungkan dengan Undang-undang Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Sistem Jaminan Sosial. Jurnal Hukum
POSITUM, 3(1), 118.
Makmun, Moh Iksanuddin, Sensu, La, & Jafar, Kamaruddin. (2020). Kedudukan Hukum
Pemangku Jabatan Sekretaris Desa yang Baru Tanpa Pemberhentian Sekretaris yang
Lama. Halu Oleo Legal Research, 2(2), 137157.
Muin, Firman. (2018). Diskresi dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan. Tanjungpura Law Journal, 2(2), 151165.
Ramadana, Coristya Berlian. (2013). Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
sebagai Penguatan Ekonomi Desa. Jurnal Administrasi Publik, 1(6), 10681076.
Soepandji, Kris Wijoyo. (2018). Konsep Bela Negara dalam Perspektif Ketahanan
Nasional. Jurnal Hukum & Pembangunan, 48(3), 436456.
Sukimin, Sukimin. (2020). Kewenangan Kepala Desa Sebagai Pemegang Kekuasaan
Pengelolaan Keuangan Desa Sesuai Prinsip Good Governance. Soumatera Law
Review, 3(2), 173184.
Yusuf, Cindriyani. (2020). Tinjauan Yuridis Tentang Fungsi Pemerintah Kelurahan
dalam Pemberdayaan Masyarakat Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun
2005. Poso: Universitas Sintuwu Maroso.
Zarkasi, A., & Dimasrizal, Dimasrizal. (2019). Pola kerjasama kepala desa dengan badan
permusyawaratan desa dalam pembangunan desa. Unri Conference Series:
Community Engagement, 1, 652657.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike
4.0 International License.