
Vol. 3, No. 1, Juli 2021
p-ISSN 2775-3832 ; e-ISSN 2775-7285
http://matriks.greenvest.co.id
dalam sistem pemerintahan imperium Romawi terakhir, Mesir kuno dan Imperium
Bizantium.
Padangan lain disampaikan Anthony Downs, “a bureaucratic organization can
identify as who is working in a large organization; accept money as payment for his work
with the organization that is one of the largest sources of revenues; hired, promoted and
retained based on their performance; produce a result that cannot be evaluated by the
market can be called as a bureaucrat”. Organisasi birokrasi merupakan siapa saja yang
bekerja dalam organisasi, menerima uang sebagai pembayaran untuk karyanya,
dipekerjakan, dipromosikan dan dipertahankan berdasarkan kinerja mereka,
menghasilkan hasil yang tidak dapat dievaluasi oleh pasar bisa disebut sebagai birokrat.
Definisi-definisi tersebut beresensikan bahwa birokrasi adalah struktur administrasi untuk
mengontrol, merasionalisasi dan membuat efektif dan profesionalisme tindakan
organisasi. Hal ini umumnya ditemukan dalam organisasi besar dan organisasi
pemerintah.
Sedangkan Fritz Sager, “According to Weber, the power of modern bureaucracy
can be incredible though it tends to be ambivalent. On the one hand, it sees modern
bureaucracy as the only rational and thus ultimately desirable form of organization. On
the other hand, especially in the later works, he declared doubts about the influence of
modern public administration. Therefore, in an attempt to carry out their duties
efficiently and to control the people, a strict separation of the political and administrative
realms become indispensable by bureaucratic”. Menurut Weber, kekuatan birokrasi
modern bisa menjadi luar biasa meskipun cenderung ambivalen. Di satu sisi, ia melihat
birokrasi modern sebagai satu-satunya yang rasional dan dengan demikian pada akhirnya
diinginkan bentuk organisasi. Di sisi lain, terutama dalam hasil ia menyatakan keraguan
tentang pengaruh administrasi publik modern. Oleh karena itu, dalam upaya untuk
melaksanakan tugas mereka secara efisien dan untuk mengontrol orang, pemisahan yang
ketat dari alam politik dan administrasi menjadi sangat diperlukan oleh birokrasi.
Berbeda dengan ide Weber mengenai birokrasi profesional, Karl Marx justru
mengungkapkan pikiran tentang keterasingan birokrasi. “Karl Marx precisely expressed
thoughts about alienation bureaucracy. Marx did not agree with Weber, who stating that
alienation is only a transitional stage on the road to true human emancipation. At this
point Marx tends to see that bureaucracy cannot be professional as Weber stated. The
bureaucracy cannot be separated from the context of conflict of class which is a necessity
in the history of mankind” (Tamma, 2018).
Marx tidak setuju dengan Weber, yang menyatakan keterasingan yang hanya tahap
transisi menuju emansipasi manusia sejati. Pada titik ini Marx cenderung untuk melihat
birokrasi yang tidak bisa profesional sebagaimana pendapat Weber. Untuk Marx dan
beberapa pemikir Marxis, birokrasi tidak dapat dipisahkan dari konteks konflik kelas
yang merupakan suatu keharusan dalam sejarah umat manusia. Menurut Paul S. Adler,
“The Marxist thinkers have focused mainly on aspects of the employment relationship
conflict, and the consequences for the structure and functioning of the organization. The
Marxist studies of the organization, thus contrast to the traditional functionalist, organic
conception and community organizations and experts who blur the fundamental
differences of interests that make up the organization. Thus, due to exploitation and
conflict is important within Marxist perspective”.
Para pemikir Marxis berfokus pada aspek konflik hubungan kerja, serta
konsekuensi dari struktur dan fungsi organisasi. Studi Marxis tentang organisasi kontras
dengan organisasi fungsionalis tradisional. Berdasarkan perspektif birokrasi Marxis,
hubungan terjadi melalui konflik karena eksploitasi kelas-kelas tertentu terhadap yang
lain. Oleh karena itu, eksploitasi dan konflik penting dalam perspektif Marxis karena